"Hei-" cowok yang berdiri di paling pinggir ingin menegur Shaenette, namun ucapannya tertahan karena sang ketua yang berhadapan dengan Shaenette menyuruhnya diam dengan menaikkan tangan kirinya.
Karena menoleh pada cowok itu, Shaenette melihat siluet cahaya di leher cowok di depannya. Terlihat sebuah kalung emas bertuliskan 'leadervz' menggantung di sana. Shaenette kaget, ia baru sadar, cowok di depannya ini adalah seorang ketua geng motor yang paling terkenal, geng Vegaz. Cowok itu adalah Arion.
Refleks, Shaenette melebarkan kedua matanya. Gadis itu lalu menggeser tubuhnya ke samping, untuk memberi jalan pada kelima cowok itu. Cowok yang berdiri di paling pinggir tadi mengedipkan salah satu matanya pada gadis itu. "Btw, lo cantik," ucapnya. Kelima cowok itu lalu melanjutkan langkah mereka.
Shaenette pun berbalik untuk menatap punggung mereka yang semakin menjauh. "Hey! Berani banget lo tadi!" ucap seorang gadis mengagetkan Shaenette. Shaenette lalu menoleh ke arah gadis bersurai panjang itu.
"Lo pasti murid baru ya? Kenalin, gue Clarissa," ucap gadis itu sambil menyodorkan tangannya.
Shaenette pun membalas uluran tangan Clarissa dengan menyalaminya. "Gue Shaenette," balasnya. "Emm, ruang kepala sekolah di mana ya?" lanjut gadis itu.
"Ikut gue," ucap Clarissa sambil berjalan. Shaenette pun mengikuti gadis itu. "Lo tau ga? Mereka tadi siapa?" tanya Clarissa.
"Emm, petinggi Vegaz?" tebak Shaenette.
Clarissa kaget. "Kok lo tahu? Lo murid baru kan?" herannya.
"Mm yaa, tau aja," balas Shaenette gugup.
"Lo tau nama-nama mereka?" lanjut Clarissa.
"Ketuanya, Arion, lainnya, ga tau," jawab Shaenette sambil mengedikkan bahunya.
"Gue kasih tau ya, lo masih inget kan wajah-wajah mereka? Yang ngegodain lo tadi itu Alex, terus sebelahnya Alex itu Keenan, mereka berdua sama-sama humoris. Terus samping kirinya Arion itu Devan, wakil ketua Vegaz. Sampingnya Devan ada Edzard, si kulkas berjalan," terang Clarissa panjang lebar. Shaenette pun mengangguk.
"Lo kenapa pindah ke sini?" lanjut Clarissa.
"Emm, gue, ada sedikit masalah di sekolah yang lama," jawab Shaenette.
Clarissa langsung menoleh pada gadis itu. "Lo ga di drop out kan?" tanyanya.
Shaenette tertawa mendengar pertanyaan Clarissa. "Ya enggak lah! Cuma masalah sama temen doang kok!" jawabnya. Clarissa lalu mengangguk sambil menoleh ke arah depan kembali.
Tak lama kemudian, akhirnya mereka tiba di depan ruang kepala sekolah. "Nah ini dia ruang Pak Kepala. Bye! See you!" pamit Clarissa.
"Oke, thanks ya!" balas Shaenette lalu berlalu memasuki ruang seseorang dengan kedudukan paling tinggi di sekolah itu.
♡♡♡
11 MIPA 3, kelas yang berisi murid-murid tidak terlalu pintar, karena murid yang pintar berada di MIPA 1 dan 2. Kelas itu tengah ramai, hingga Bu Reina sang wali kelas memasuki kelas itu.
"Pagi anak-anak, kita kedatangan murid baru. Shaenette, silakan masuk," ucap Bu Reina sambil berjalan memasuki ruang kelas yang diampunya.
Shaenette pun memasuki kelas itu.
"ANJIR CANTIK!"
"CANTIK BANGET GILA!"
"CANTIK CUY!"
Itulah teriakan para cowok yang ada di kelas itu.
"Gue Shaenette Mahardika, kalian bisa panggil gue Shaenette atau cukup Sha aja," jelas Shaenette memperkenalkan diri. Tak lupa dengan senyum yang menghiasi wajah cantiknya.
"Shaenette, silakan kamu duduk di sebelah Clarissa," ucap bu Reina sambil menunjuk seorang gadis berambut panjang yang tengah duduk sendirian di pojok belakang kelas sebelah kanan.
Shaenette tidak menyangka, ternyata ia akan sekelas dengan Clarissa. Ia pun berjalan menghampiri gadis itu.
"Haii!" sapa Clarissa senang. Shaenette pun membalasnya dengan senyuman. Ia lalu duduk di sebelah gadis itu.
"Kenalin, depan gue ini namanya Aileen, sampingnya Aileen alias depan lo itu Zeline, terus samping lo sebelah kiri namanya Sherly. Mereka best friends gue," ucap Clarissa sambil menunjuk ketiga sahabatnya.
"Hei, salam kenal ya!" sapa seorang gadis yang bernama Zeline sambil mengunyah permen karetnya dan tanpa senyum sama sekali.
"Okey," jawab Shaenette santai walaupun wajah Zeline terlihat tidak santai.
♡♡♡
Bel istirahat berbunyi. Bagai tahanan yang dibebaskan dari penjara, murid-murid SMA Gunadhaya keluar dari kelas mereka masing-masing. Ada yang menuju kantin, perpustakaan, dan taman. Tetapi ada juga yang memilih tetap berada di kelas.
Shaenette, Clarissa, Aileen, Zeline, dan Sherly memilih untuk menghabiskan jam istirahat di kantin. Mereka lalu berdiri dari duduknya dan berjalan menuju tempat favorit murid itu.
Setelah sampai, mereka duduk di kursi yang ada di sana. Kemudian, Zeline memesankan makanan untuk mereka.
"Sha, udah tau tentang petinggi Vegaz?" ucap Aileen.
Shaenette senyum dengan terpaksa. "Udah kok, Clarissa yang cerita," jawabnya. Gadis itu cukup bosan mendengar kalimat 'petinggi Vegaz'.
Clarissa tersenyum sombong pada Aileen. Sedangkan Aileen mencibir gadis itu.
Tiba-tiba, kantin menjadi riuh. Lima orang petinggi Vegaz memasuki tempat itu.
"PETINGGI VEGAZ DATENG CUY!"
"GILA! GANTENG BANGET MEREKA!"
"BANG! JADIIN AKU PACARMU!"
Berbagai kalimat dilontarkan oleh siswi-siswi SMA Gunadhaya yang tengah berada di kantin itu.
"Gue ga bisa boong. Mereka emang ganteng banget sih!" ucap Clarissa mengagumi lima orang petinggi Vegaz itu.
"Iya bener, kok bisa ganteng banget gitu ya?!" tambah Sherly.
Shaenette memutar kedua bola matanya malas. Tak lama kemudian, Zeline datang membawa nampan berisi pesanan mereka. "Makanan dateng woy!" ucapnya.
Shaenette, Clarissa, Sherly, Aileen, dan Zeline pun mengambil makanan mereka masing-masing. Mereka lalu melahapnya.
"Btw, kenapa kalian nganggep petinggi Vegaz ganteng? Dari mananya yang ganteng sih?!" kesal Zeline tiba-tiba.
"Gue setuju!" balas Shaenette.
"Kayaknya kalian berdua harus periksa mata deh. Jelas-jelas ganteng gitu napa masih ditanyain sih?!" bingung Aileen.
"Idih, mata gue baik-baik aja kali," balas Zeline.
♡♡♡
"Eh denger2 cewek tadi ternyata anak baru guys!" ucap Alex memulai pembicaraan.
Lima orang petinggi Vegaz tengah duduk santai di kursi kantin sambil memakan makanan mereka masing-masing. Walaupun banyak siswi yang menatap mereka kagum dan banyak siswa laki-laki yang menatap mereka iri, mereka tidak peduli. Sudah biasa mereka mendapat sambutan seperti itu setiap memasuki kantin.
"Iya gue juga denger katanya dia di kelas 11 MIPA 3," balas Keenan.
"Asik cantik banget dia, bakal gue masukin list nih," ucap Alex lagi.
"List apaan?" tanya Devan sambil menaikkan salah satu alisnya.
"List calon pacar bang Alex," jawab Alex sambil tersenyum konyol. Edzard lalu menoyor kepala cowok itu.
"Aduh bang Edzard napa noyor2 kepala orang sih," rengek Alex sambil memegangi kepalanya.
"Lo bicara ga jelas tau ga! Ganggu orang lagi makan," balas Edzard.
"Duain Ed," lanjut Arion.
Alex diam tidak membalas ucapan Edzard dan Arion. Cowok itu sedih mendengar perkataan sahabatnya yang menohok tajam.
♡♡♡
Bel pulang sekolah berbunyi, murid-murid mulai pulang ke rumah masing-masing.
"Sha, lo pulang naik apa?" tanya Clarissa pada Shaenette.
"Gue naik bus," jawab Shaenette.
"Bareng gue aja Sha, rumah lo di mana? Biar gue anter," tawar Clarissa sambil menggendong tas ranselnya.
"Engga makasih Sa, gue naik bus aja," tolak Shaenette halus.
"Oh, yaudah, gue duluan ya!" pamit Clarissa. Gadis itu lalu berjalan keluar dari ruang kelas.
Satu per satu murid di kelas 11 MIPA 3 mulai pulang meninggalkan Shaenette sendiri. Shaenette pun berjalan menuju halte bus yang berada tak jauh dari sekolahnya. Tak butuh waktu lama, sebuah bus akhirnya tiba, ia lalu menaiki bus tersebut.
♡♡♡
Shaenette memasuki rumah mewah dengan kesan elegan berwarna putih.
"Shaenette, akhirnya kamu pulang juga," sapa Aira dari dapur.
"Ga usah sok peduli," ucap Shaenette sarkas lalu berjalan menaiki tangga.
"SHAENETTE! Jaga perkataanmu pada ibumu!" tegas Bram, ayah Shaenette, yang tengah duduk di ruang keluarga.
"Maaf, tapi ibu saya sudah meninggal," jawab Shaenette, lalu berlalu memasuki kamarnya.
"SHAENETTE!" teriak Bram.
BRAK!
Shaenette membanting pintu kamarnya dengan keras. Ia lalu terduduk di balik pintu itu. Ia benci dengan hidupnya. Ibunya meninggal secara tiba-tiba, karena ayahnya selingkuh. Sekarang, ayahnya sudah tidak menyayanginya lagi. Ayahnya lebih menyayangi ibu tirinya Aira daripada dirinya.
Gadis itu mengeluarkan ponsel dari saku seragamnya. Ia lalu membuka foto ibunya yang ada di ponsel. "Mah.. Shaenette kangen Mama," ucapnya sambil menahan tangis.