Gadis itu menangis sembari menggenggam tangan Papanya. Sosok Papa yang sangat Ia sayangi kini terbaring lemah di ranjang Rumah Sakit. Tubuhnya terlihat lebih kurus dari terakhir kali Ia melihat. kulitnya terlihat lebih pucat dari sebelumnya. Suara yang dulu terdengar begitu lantang saat memarahinya sekarang seolah lenyap tergantikan suara lemah dari mulut Papanya.
Gadis itu menangis, air matanya masih saja mengalir saat berulang kali hatinya meminta untuk tidak menangis di hadapan sang Papa. Terlebih saat Ia mengingat perkataan Ibunya sebelum memasuki ruang rawat sang Papa. Hatinya benar-benar seperti hancur berkeping-keping saat Ia tau bahwa dokter memvonis hidup Papanya yang tidak lama lagi. Memang tidak ada yang tahu berapa lama umur seseorang. Kematian bisa datang kapan saja. Pada yang tua atau yang muda. Pada yang sehat atau yang sakit. Semuanya tidak ada yang tahu. Karena kematian adalah misteri yang bisa sewaktu-waktu datang tanpa bisa di duga.
Gadis itu segera menghapus air matanya saat ia melihat mata Papanya bergerak. Ia segera menekan tombol yang ada di atas ranjang sang Papa hingha tidak lama setelah itu seorang dokter dan seorang suster datang untuk memeriksa keadaan Papanya yang baru saja siuman pasca operasi.
"Gimana keadaan Papa saya dok?" Tanya gadis itu kepada dokter bertubuh tinggi itu.
"Apakah Anda yang bernama Arshila?" Tanya Dokter itu. Dan gadis itu pun segera mengangguk.
"Saya Arshila dok. Putri pasien."
"Anda boleh masuk. Karena pasien ingin bertemu dengan Anda." Tanpa menunggu lama gadis itu segera memasuki ruang rawat sang Papa dan segera mendudukkan badannya di kursi yang ada di dekat ranjang Papanya.
Air matanya tidak dapat dibendung lagi begitu Ia melihat wajah Papanya. Hatinya terasa sakit saat melihat pria kesayangannya terbaring lemah tidak berdaya.
Shila mendekat, meraih tangan Papa lalu menggenggamnya erat. Tangan itu adalah tangan yang dulu selalu menuntunnya kemanapun Ia pergi, tangan yang selalu membawanya kedalam pelukan yang hangat dan penuh kasih sayang. Tangan yang menghapus air matanya saat Ia menangis karena terjatuh dan terluka.
"Papa sudah tua." Itu adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut papanya setelah lama mereka terdiam. Tangannya yang lemah terangkat berusaha menghapus air mata putrinya.
"Mungkin sebentar lagi Allah akan memanggil Papa." Lanjut Papa yang membuat Shila mengeratkan genggamannya dengan air mata yang turun kian deras.
Papanya tersenyum.
"Sudah besar, masih saja cengeng." Ucap Papa seraya kembali menghapus airmata putri kecilnya yang kini sudah dewasa.
"Kata dokter, usia Papa tidak lama lagi. Tapi siapa yang tau? Kematian itu misteri. Bisa saja Papa hidup sampai sepuluh tahun lagi. Atau bahkan setelah detik ini Papa meninggal pun tidak ada yang tau."
"Pa.." sela Shila. Ia tidak ingin lagi mendengar ucapan Papanya yang berkata-kata seolah-olah kematian telah ada di depan matanya. Meski Shila percaya bahwa kematian pasti terjadi, tapi untuk saat ini Shila benar-benar tidak siap jika harus berhadapan dengan kematian. Terlebih kematian dari orang-orang tersayangnya.
"Shila... sebagai Ayah, tanggung jawab Papa adalah mendidik kamu menjadi perempuan yang baik dan sholeha. Dan setelah itu tugas Papa adalah menyerahkan kamu kepada laki-laki yang kelak menjadi suami kamu. Kamu adalah satu-satunya anak Papa yang belum menikah. Kedua kakak kamu sudah hidup bahagia dengan keluarga kecilnya. Maukah kamu menuruti keinginan terakhir Papa? Sebelum Papa pergi?." Ada jeda setelah kalimat panjang yang pria tua itu ucapkan.
Papa mengatur kembali nafasnya sebelum melanjutkan kalimat. "Papa ingin melihat kamu menikah dan bahagia. Papa ingin menyerahkan tanggung jawab Papa terhadap kamu kepada laki-laki yang nantinya akan menjadi suami kamu dan menggantikan tanggung jawab Papa sebelum Papa pergi. Hanya itu keinginan terakhir yang Papa inginkan agar Papa bisa pergi dengan damai nantinya."
Tangis Shila semakin tersedu, Ia mencoba mengatur nafasnya untuk bisa menjawab perkataan Papa. "Pa.. umur Papa masih panjang.. Papa.. nggak boleh--." Ucapan Shila terputus saat tiba-tiba Papanya tidak sadarkan diri, terlebih saat beberapa peralatan medis yang ada diruangan itu berbunyi, sontak saja hal itu menambah kepanikan Shila.
"Pa.. Papa...Papaa!!!!" Shial berteriak, Ia segera berlari ke luar ruang rawat untuk mencari doktet dan memberi tahu keluarganya. Airmatanya terus saja mengalir. Ia benar-benar belum siap untuk kehilangan papanya.
**
"Dia adik tingkat Mario, Ma." Jawab Mario saat Mamanya menanyakan perihal gadis yang akan Mario lamar setelah Ia wisuda nanti.
"Pasti dia sangat cantik. Sampai-sampai Marionya Mama ini ingin sekali segera melamarnya." Mario tertawa mendengar perkataan Mamanya.
Setelah Mario membawa berita bahwa Ia ingin melamar seorang gadis Jawa setelah Ia wisuda nanti, keluarga besarnya menjadi sangat heboh. Pasalnya baru kali ini Mario membicarakan seorang gadis dengan keluarganya setelah sekian tahun terus diledek keluarga karena tidak pernah membicarakan maupun dekat dengan perempuan.
"Siapa nama gadis itu? Kasih tau lah. Masa Abang tidak ingin memberitahukan namanya." Ucap salah satu saudaranya yang sejak kemarin gencar menanyakan siapa nama gadis yang akan Mario lamar.
Mario tersenyum. "Besok saja lah. Kalau sudah pasti akan ku beri tahu namanya."
"Alaah, nggak asik."
Mario hanya tertawa, kemudian Ia segera berpamitan untuk kembali ke kamarnya, Ia harus packing karena besok pagi Ia harus kembali lagi ke Jawa bersama kedua orangtuanya.
Mario termenung, bibirnya tersenyum, hatinya juga sedang dalam suasana yang bahagia. Pikirannya melayang jauh mengingat episode-episode dalam hidupnya yang telah Ia lalui, Ia mengingat bagaimana jalannya yang berliku untuk mendapatkan gadis yang akan Ia lamar besok, betapa Ia harus merasakan patah hati untuk beberapa kali saat hatinya memilih untuk menyukai gadis itu.
Mario percaya, jika Allah sudah menyatukan maka apapun tidak akan dapat memisahkan. Jika takdir sudah tertuliskan maka itu yang akan Ia jalankan. Allah lah sang Maha penulis skenario terbaik bagi hambanya. Mario yakin. Jika gadis itu benar jodohnya sesulit apapun rintangannya Ia akan tetap menjadi jodohnya. Namun jika memang gadis itu bukan jodohnya. Maka sekeras apapun usahanya Ia tidak akan pernah bersatu dengannya. Dan untuk hal ini Mario akan berusaha untuk menerimanya, apapun yang terjadi nanti, biarlah nanti. Yang terpenting bagi Mario saat ini adalah Ia harus terus berusaha dan berusaha.
**
Arshila meminta izin untuk kembali ke tanah Jawa setelah melihat Papanya sedikit lebih baik dari sebelumnya. Banyak sekali beban pikiran yang kini Shila tanggung, terutama pesan dari Papanya beberapa hari lalu. Baginya, menikah bukanlah hal mudah. Dan menemukan seseorang yang akan nikahi juga tidak semudah itu. Terlebih saat ini Ia sedang tidak dekat dengan pria manapun.
Sejujurnya jika boleh memilih, Shila belum ingin menikah. Ia sudah punya harapan bahwa nantinya Ia akan menikah di usia yang lebih matang bersama dengan seorang pria yang Ia cintai dan juga mencintainya. Tapi untuk saat ini, harapan itu harus Shila kubur rapat-rapat. Keinginan dan harapan Papanya adalah hal terpenting yang harus Shila lalukan untuk saat ini. Maka dari itu, sejak seminggu yang lalu keluarga Shila juga berusaha mencarikan jodoh terbaik untu Shila, namun hingga saat ini belum juga ada titik terang.
"Shila pamit ya, Pa" Ucapnya sembari mencium tangan Papanya dan setelah itu, Shila segera berpamitan kepada Mama dan kedua kakaknya.
"Aku di Jawa cuma dua minggu. Setelah itu liburan dan aku pulang." Ucap Shila.
**
Shila mendudukkan tubuhnya pada kursi yang sesuai dengan nomor di tiketnya. Setelah itu Ia memilih untuk membaca majalah yang sudah disediakan. Berita tentang menikah muda memang sedang panas diperbincangkan publik. Banyak sekali saat ini anak-anak muda yang memilih untuk menikah muda demi menghindari perzinaan. Shila menghela nafasnya, mengingat-ingat soal menikah, Ia jadi ingat kembali permohonan terakhir Papanya.
"Permisi." Suara seorang pria tiba-tiba menyadarkan Shila dari lamunannya. Tidak lama setelah itu, Shila dapat merasakan bahwa ada seseorang yang duduk di sampingnya. Ya.. Shila tahu. Pasti orang itu juga penumpang pesawat yang sama dengannya.
Shila pun menutup majalahnya, lalu menolehkan wajahnya sekerdar untuk menyapa teman sebangkunya. Dan betapa terkejutnyasaat mengetahui siapa yang duduk di bangku sebelahnya.
"Bang Mario??"
"Shila??" Ucap mereka berdua bersamaan. Setelah itu yang mereka lakukan adalah sama-sama tersenyum menyadari saat mengetahui keterkejutan masing-masing.
"Nggak nyangka bakal satu pesawat."
Shila tersenyum menangapi ucapan Mario. Ia juga tidak menyangka bahwa akan berada satu pesawat dan datu tempat duduk dengan salah satu seniornya di kampus.
"Habis ada keperluan keluarga ya?" Mario bertanya lagi dan hanya dijawab dengan anggukan oleh Shila.
Mario yang menatap Shila pun seperti merasakan sesuatu. Seperti ada kesedihan di wajah perempuan itu. Pasalnya Shila yang Mario kenal adalah seorang perempuan yang sangat ceria, jarang sekali Mario melihat wajah Shila yang murung. Terlebih kantung mata yang begitu tebal. Benar-benar menandakan bahwa perempuan itu baru saja menangis.
Mario terdiam, Ia tidak ingin mencampuri urusan Shila, karena bagaimanapun Shila pasti butuh privasi untuk masalahnya sendiri. Dan untuk menghilangakan kecanggungan Mario memilih untuk membuka topik lain dibanding menanyakan tentang rasa ingin tahunya.
"Oh iya, tumben pulang. Kan lagi nggak liburan."
Shila tersenyum. "Iya bang, Papa lagi sakit."
Mario tercekat, Ia jadi merasa bersalah karena menanyakan hal itu.
"Dokter memvonis Papa, katanya usia Papa tidak lama lagi." Lanjut Shila, dan hal itu membuat Mario lebih terkejut lagi, rasa bersalah dan rasa turut berduka benar-benar menyerangnya. Mario berdeham mencoba menguasai dirinya.
"Biarpun Dokter sudah memvonis, tapi yang namanya hidup dan mati itu adalah urusan Allah, Semoga Papa kamu segera di beri kesembuhan dan kesehatan lagi, ya." Shila mengaminkan doa Mario. Dalam hatinya sesungguhnya Shila juga ingin bercerita mengenai harapan terakhir papanya. Namun setelah dipikir-pikir lagi sepertinya tidak akan baik jika Ia bercerita dengan Mario saat ini. Akhirnya memilih untuk mengurungkannya niatnya dan memilih diam.
***