Shila masih terduduk lemas dengan airmata yang terus mengalir dipipinya. Ia tidak menyangka kondisi Papanya menjadi sangat kritis setelah ijab qabulnya selesai. Hal itu tentu saja membuat perasaan Shila menjadi tidak karuan.
Disisi lain Mario juga tidak kalah terkejutnya dengan keadaan yang baru saja Ia saksikan. Mario bisa melihat, hampir seluruh keluarga Shila menangis. Bahkan beberapa saudara dari pihak keluarganya juga turut menangis. Mario benar-benar bisa merasakan kesedihan yang ada.
Mario terdiam melihat orang-orang yang menangis, hatinya berkecamuk. Ia tidak terbiasa melihat orang yang menangis.
"Mario, istrimu sedang menangis. Kenapa kamu hanya diam?." Mario terkejut saat tiba-tiba Papanya menepuk bahunya.
Mario tersadar, bahwa sejak keluar ruangan tadi Mario tidak melihat Shila. Dan kini seperti ada sesuatu yang menghantam dadanya. Benar yang dikatakan Papa, bagaimana mungkin Mario melupakan sosok Shila yang kini sudah sah menjadi istrinya dan malam membiarkan perempuan itu menangis sendirian.
"Tenangkan istrimu Mario. Bukankah kamu sudah berjanji pada Ayahnya untuk menjaga Arshila?!" Tegas Papanya lagi.
Mendengar itu membuat Mario segera beranjak untuk mencari keberadaan Shila. Mario mengedarkan pandangannya, meneliti satu persatu orang-orang yang ada di sekitarnya dan mencoba menemukan sosok Shila. Hingga matanya menemukan sosok perempuan tengah duduk tertunduk seraya menangis.
Mario berjalan mendekati Shila, sedikit ragu dengan apa yang harus Ia lakukan. Mario tidak terbiasa menenangkan orang yang menangis. Tapi kini istrinya tengah menangis. Lantas Ia harus bagaimana agar istrinya bisa tenang?.
Mario kembali mengedarkan pandangannya, mencoba melihat keadaan. Saat Ia tengah menoleh, matanya langsung menatap pemandangan dimana kakak iparnya yang menangis tengah di peluk oleh suaminya. Lantas, haruskah Mario memeluk Shila untuk memberikan kekuatan dan ketenangan?.
Mario ragu, namun tidak urung Ia mendekatkan diri ke samping Shila, dengan gamang Mario mengangkat tangannya dan mengusap bahu Shila. Pikirannya berkecamuk antara ingin memeluk Shila atau tidak, sehingga yang bisa Ia lakukan adalah mengusap bahu Shila. Mencoba memberi tahu bahwa keberadaannya disana adalah untuk Shila.
Butuh waktu beberapa menit untuk Shila hingga akhirnya ia mengangkat wajahnya. Tangan Mario terulur untuk menghapus airmata Shila. Rasanya sakit sekali melihat seseorang menangis.
Dengan hati-hati Mario berucap "Tenanglah. Papa pasti baik-baik saja."
Namun mendengar hal itu, bukannya membuat Shila tenang, justru malah membuat perempuan itu kembali menangis. Hal itu tentu saja membuat Mario panik, dengan segera Mario menarik Shila ke dalam pelukannya. Membiarkan Shila menangis di dadanya. Sungguh suatu saat lagi Mario tidak ingin melihat Shila menangis lagi seperti ini.
"Berdoa sama Allah, berdoa sama Allah. Papa pasti baik-baik aja." Bisik Mario disela pelukannya.
Tanpa Mario sadari, ada perasaan aneh yang mengaliri tubuh Shila saat memeluknya, rasa aman, nyaman juga rasa debar-debar yang memenuhi dadanya.
**
Malam telah tiba, kini Papa telah dipindah lagi di ruang perawatan sejak beberapa jam yang lalu. Papanya belum sadar tapi dokter mengatakan bahwa kondisinya sudah cukup stabil.
Satu persatu keluarga juga sudah mulai meninggalkan Rumah Sakit sejak siang tadi. Kini hanya tinggal Mario dan Shila yang berada di Rumah Sakit, karena malam ini mereka yang akan berjaga menunggui Papa.
Mario baru saja kembali dari membeli makanan untuk dirinya dan Shila. Sejak pagi tadi mereka belum benar-benar makan, mereka hanya minum dan memakan beberapa potong roti saja. Bahkan Shila hanya memakan satu gigit roti saja. Itu pun atas paksaan Mario.
Mario membuka pintu ruang perawatan Papa mertuanya dengan satu kantong plastik makanan. Ia tertengun saat melihat Shila tertidur di kursi samping ranjang Papanya dengan tangan menggenggam erat tangan Papanya. Hal itu membuat Mario terenyuh melihat betapa sayangnya Shila terhadap sang Papa.
Mario meletakkan kantong plastik berisi makanan di meja, Ia berencana untuk membangunkan Shila. Namun saat melihat wajah lelah Shila dengan mata yang sangat sembab membuat Mario kembali berpikir, haruskah Ia membangunkannya?.
Mario mengulurkan tangannya, mengusap pelan kepala Shila. Ada rasa yang tak bisa di jelaskan dalam benak Mario, tapi Mario tidak berpikir bahwa itu adalah perasaan cinta. Karena Mario yakin bahwa rasa cinta tidak mungkin datang secepat itu.
Setelah tersadar, Mario pun menarik tangannya dari kepala Shila. Kemudian ia menundukkan tubuhnya untuk membopong tubuh Shila dan menidurkannya di sofa. Mario mengangkat tubuh Shila dengan sangat hati-hati, karena ia tidak ingin membangunkan Shila. Dan benar saja perempuan itu tidak terbangun. Itu artinya tidurnya sangat lelap. Mungkin karena Shila begitu kelelahan.
Mario mengambil selimut yang ditinggalkan oleh Mama mertuanya. Ia segera memasang selimut untuk menutupi tubuh Shila dan setelah itu, Mario memilih untuk bergegas membersihkan badannya karena sejak sore tadi dirinya belum mandi.
**
Shila terbangun dari tidurnya saat tiba-tiba perutnya terasa sakit. Shila terkejut saat menyadari bahwa dirinya telah pindah ke sofa. Padahal seingatnya Ia duduk di kursi samping ranjang Papanya. Apakah mungkin Mario yang mengangkat tubuhnya. Shila mencoba menegakkan badannya dan Ia kembali terkejut saat mendapati Mario tertidur di atas sajadah yang digelar di lantai. Lalu matanya beralih menatap kantong plastik yang ada di meja. Disana masih terdapat makanan yang sama sekali belum tersentuh.
Seketika hati Shila dipenuhi rasa bersalah. Pasti sejak semalam Mario belum makan. Buktinya di dalam kantong plastik itu masih terdapat dua bungkus nasi yang masih utuh. Dan hal itu seolah membuktikan bahwa Shila bukanlah sosok istri yang baik karena membiarkan suaminya kelaparan. Padahal Mario sudah repot-repot membeli makanan.
Rasa bersalah Shila kian bertambah saat Ia melihat Mario yang tidur hanya beralas sajadah dan tanpa selimut. Sudah dipastikan pria itu pasti merasa kedinginan. Shila segera mengambil selimut yang tadi menyelimutinya dan segera menyelimuti tubuh Mario.
Baru saja Shila menempelkan selimut pada tubuh Mario saat tiba-tiba mata Mario terbuka. Shila tercekat, tiba-tiba tubuhnya kaku saat menyadari jarak antara wajahnya dengan Mario sedekat itu. Jantungnya tiba-tiba berdebar tidak karuan.
"Sudah bangun??" Tanya Mario dengan suara serak khas bangun tidur.
Shila tersadar lalu segera menjauhkan kepalanya agar tidak terlalu dekat dengan wajah Mario. Setelah itu Shila menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Mario.
Lalu, tanpa aba-aba Mario mengubah posisinya menjadi duduk dan membuat wajah mereka kembali dalam jarak yang sangat dekat. Buru-buru Shila memalingkan wajahnya dan segera berdiri.
Melihat Shila yang salah tingkah membuat Mario jadi garuk-garuk kepala. Sebenarnya Mario juga deg-degan, tapi Ia tidak ingin begitu terlihat gugup di hadapan Shila.
"Belum subuh kan?" Tanya Mario sembari melipat selimut yang tadi baru saja diberikan Shila.
"Belum bang, sini biar Shila aja yang lipat selimutnya." Ucap Shila sembari mengambil alih selimut dari tangan Mario.
"Jam berapa ya?."
"Jam tiga, Bang."
"Ya udah, Abang mau tahajud dulu." Ucap Mario.
"Kamu tahajud juga, atau..."
"Tahajud juga." Potong Shila.
Mario hanya mengangguk lalu segera bangun dan bersiap untuk mengambil wudhu. Namun saat Ia hendak melangkahkan kakinya tiba-tiba Shila memanggil.
"Kenapa?"
"Maafin Shila ya, Bang."
Mario mengenyitkan dahinya, untuk apa Shila minta maaf.
"Soal semalam..." ucapan Shila terpotong, kini matanya beralih menatap kantong plastik yang berisi nasi yang ada di atas meja.
Melihat hal itu, membuat Mario langsung paham akan apa yang Shila maksudkan.
"Nggak apa-apa. Kamu juga belum makan kan? Nanti, sehabis Sholat tahajud kita makan."
"Tapi, memangnya ada yang jual makanan jam segini?"
Mario tersenyum lalu mengusap pelan kepala Shila. "Di depan ada minimarket 24 jam, enggak apa-apa kan nanti kita makan popmie atau roti dulu buat ganjal perut?."
Mendengar penjelasan Mario membuat Shila hanya bisa mengangguk. Lalu, selepas itu Mario segera melanjugkan langkah ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Shila menghela nafasnya begitu Mario hilang dari pandangannya. Rasanya ada yang berantakan di dadanya saat Mario mengusap kepalanya. Dan rasanya benar-benar terlalu sulit untuk didefinisikan.
***