Hujan baru saja reda ketika Galang menarik rolling door bengkel itu ke atas. Suara besinya mengeriut, panjang dan letih, seperti suara orang tua yang bangun terlalu pagi. Bau khas tempat itu langsung menyergap—oli bekas, karet ban, dan logam dingin. Bagi sebagian orang, bau itu menyengat. Bagi Galang, itu bau rumah.
"Bengkel Surya". Papan nama di atas pintu sudah pudar, huruf S-nya nyaris hilang dimakan karat. Bengkel itu warisan ayahnya, Pak Surya, satu-satunya hal yang tersisa dari laki-laki yang dulu pernah jadi pahlawan di mata Galang sebelum semuanya hancur.
Galang berjalan ke meja kerja, menyalakan lampu gantung yang berkedip dua kali sebelum menyala penuh. Di atas meja, di antara kunci pas dan obeng yang berserakan, ada sehelai amplop merah dengan kop logo bank. Sudah tiga hari amplop itu di sana. Galang belum berani membukanya. Tapi pagi ini, entah kenapa, jarinya bergerak sendiri merobek tepinya.
Matanya menyusuri baris-baris huruf yang dingin tanpa perasaan. Tunggakan. Lelang. Eksekusi jaminan. Lalu satu kalimat yang membuat napasnya tersangkut: pelunasan harus dibayar penuh dalam waktu tiga puluh hari, atau bangunan dan tanah bengkel akan disita untuk menutupi utang.
Tiga puluh hari. Dua ratus dua puluh juta.
Galang menjatuhkan dirinya ke kursi reot di sudut. Kertas itu masih di tangannya, sedikit gemetar. Ia menatap langit-langit bengkel yang penuh sarang laba-laba, ke gantungan kunci tua yang dulu sering dipakai ayahnya. Dua ratus dua puluh juta. Angka itu terdengar seperti lelucon kejam. Penghasilan bengkelnya sebulan, kalau ramai, mungkin tiga juta. Itu pun setelah dipotong sewa listrik dan beli sparepart.
Ponselnya bergetar. Doni.
"Lang, jadi nggak nemenin gue ke pasar onderdil? Katanya butuh kampas kopling buat Avanza si Pak Har—" Suara Doni di seberang terdengar ceria seperti biasa, tak tahu apa-apa.
"Don," potong Galang, suaranya serak. "Bengkel mau disita."
Hening sejenak. "...Hah? Maksud lu?"
"Bank. Utang bokap dulu. Yang gue kira udah lunas." Galang menggosok wajahnya dengan telapak tangan. "Ternyata cuma direstrukturisasi. Bunganya numpuk. Sekarang totalnya dua ratus dua puluh juta. Tiga puluh hari, Don. Atau lewat."
"Gue ke sana sekarang."
Sepuluh menit kemudian motor butut Doni meraung masuk halaman. Doni nyaris jatuh saat turun, helmnya belum dilepas saat ia setengah berlari masuk. "Mana suratnya?"
Galang menyodorkan kertas itu. Doni membacanya cepat, alisnya makin lama makin berkerut, lalu wajahnya berubah pucat. "Anjir. Ini... ini bukan main-main, Lang."
"Gue tahu."
"Lu udah coba ngomong sama banknya? Minta perpanjangan? Cicilan?"
"Udah. Kemarin gue telepon. Mereka bilang ini udah keputusan akhir. Bokap nunggak terlalu lama, dan setelah beliau—" Galang berhenti. Kata "meninggal" tak pernah mudah keluar dari mulutnya, bahkan dua tahun setelahnya. "—nggak ada yang bayar. Gue baru tahu sekarang kalau utangnya segini."
Doni menarik kursi, duduk di depan sahabatnya. Di luar, suara klakson dan deru kendaraan kota mulai ramai. Pagi terus berjalan, tak peduli pada dunia kecil dua anak muda di dalam bengkel ini.
"Lu punya tabungan?" tanya Doni pelan.
Galang tertawa getir. "Lima belas juta. Itu pun setengahnya buat stok onderdil bulan depan."
"Jual mobil yang di belakang?"
"Itu mobil orang, Don. Numpang servis."
Doni menggigit bibir. Ia tahu tak ada solusi mudah. Mereka berdua cuma montir kampung, anak-anak yang besar di gang sempit, yang seumur hidup tak pernah menyentuh angka ratusan juta kecuali dalam mimpi.
Galang bangkit, berjalan ke dinding tempat foto-foto lama tergantung. Satu foto menarik matanya: ayahnya, muda dan tersenyum lebar, berdiri di samping sebuah mobil yang catnya mengilap. Di latar belakang, ada lampu-lampu kota dan kerumunan orang. Galang ingat foto itu diambil bertahun-tahun lalu, sebelum ia lahir. Sebelum nama Surya jadi cerita kelam yang tak boleh disebut di rumah.
"Gue nggak akan biarin bengkel ini disita," kata Galang akhirnya, suaranya rendah tapi keras. "Ini satu-satunya yang bokap tinggalin. Gue lebih milih mati daripada lihat tempat ini jatuh ke orang lain."
Doni menatapnya cemas. Ia kenal Galang sejak SD. Ia tahu nada itu—nada yang muncul setiap kali Galang sudah memutuskan sesuatu yang nekat. "Lang, jangan mikir aneh-aneh dulu."
Tapi Galang tak menjawab. Matanya masih terpaku pada foto ayahnya, pada mobil mengilap itu, pada kerumunan malam di latar belakang. Sesuatu di dalam kepalanya mulai bergerak, perlahan, seperti mesin tua yang lama tak dinyalakan dan kini batuk-batuk mencari hidup.
Tiga puluh hari. Dua ratus dua puluh juta. Tak ada jalan halus untuk uang sebanyak itu.
Tapi mungkin ada jalan yang lain. Jalan yang gelap. Jalan yang dulu menghancurkan ayahnya.
Galang menutup matanya dan menghela napas panjang.