Sahala Marbun menghitung uang di telapak tangannya untuk ketiga kali, dan untuk ketiga kali jumlahnya tetap kurang. Tiga puluh dua ribu. Itu seluruh isi dunianya pagi ini, sementara di selembar kertas kusut yang dijepit kuku ibunya tertulis angka yang ujungnya saja sudah membuat napasnya tercekat.
"Bunga jalan terus, Hala," kata ibunya pelan dari balik kelambu. Suaranya seperti angin yang lewat di sela bambu, tipis dan kehabisan tenaga. "Setiap hari naik. Pak Sirun bilang kalau lewat bulan ini, rumah ini yang diambil."
Sahala tidak menjawab. Ia menatap dinding papan yang sela-selanya menganga, tempat masuk angin laut yang asin dan dingin tiap subuh, angin yang membuat batuk ibunya makin parah dari tahun ke tahun. Dulu ada tiga orang di rumah ini. Sekarang dua. Mereka tidak pernah menyebut nama yang ketiga keras-keras, seolah mengucapkannya akan membuat lubang itu menganga lebih lebar.
Di pelabuhan, kabar tentang lowongan itu beredar seperti penyakit yang tidak ada yang mau menyentuh. Penjaga Menara Suar Tanjung Keruh. Upahnya disebut-sebut dengan suara setengah berbisik, dan setiap kali angka itu disebut, orang yang mendengar pasti meludah ke samping dan menggeleng.
"Bayarannya tiga kali kuli bongkar," kata Jamal, mandor yang biasa memberinya kerja serabutan. Mereka duduk di tepi dermaga pelabuhan kecamatan, kaki menjuntai di atas air keruh yang baunya seperti besi dan lumpur. "Tapi jangan, Hala. Demi Tuhan, jangan."
"Kenapa tidak ada yang mau kalau bayarannya sebesar itu?"
Jamal melempar puntung rokoknya ke air. "Karena penjaga sebelumnya tidak ada lagi."
"Mati?"
"Tidak ada," ulang Jamal, dan ada sesuatu dalam cara ia menekankan dua kata itu yang membuat Sahala paham bahwa lelaki tua itu sengaja tidak memakai kata mati. "Pak Lahmudin. Sudah jaga di sana belasan tahun. Suatu pagi perahu pengantar barang datang, menara nyala terus padahal hari sudah terang, pintu terbuka, kopinya masih hangat di meja. Orangnya tidak ada. Sandalnya masih di bawah tangga."
Sahala memikirkan tiga puluh dua ribu di telapak tangannya. Ia memikirkan kertas yang dijepit kuku ibunya. "Mungkin dia kabur. Capek, terus pergi diam-diam."
"Mungkin," kata Jamal, tapi nadanya tidak setuju. "Orang kampung Tanjung Keruh tidak pernah salah satu pun yang mau kerja di menara itu. Tanya saja kenapa. Tidak ada yang mau menjawabmu juga."
Tanjung Keruh berjarak setengah hari perahu ke arah muara, ke tempat sungai besar bertemu Selat Bangko dan kehilangan dirinya dalam lumpur. Sahala pergi ke sana keesokan paginya dengan kantong berisi pakaian dua hari dan surat keterangan dari koperasi pemilik menara, kertas berstempel yang sudah dimakan rayap di ujungnya.
Kampung itu lebih kecil dari yang ia bayangkan. Rumah-rumah panggung berbaris membelakangi laut, seolah seluruh kampung sengaja memunggungi air. Anjing-anjing kurus menyalak. Beberapa perempuan yang sedang menjemur ikan asin berhenti bekerja dan menatapnya tanpa berkedip ketika ia bertanya arah ke menara.
"Kau yang baru?" tanya seorang lelaki tua di depan warung kelontong satu-satunya. Tubuhnya kurus kering, kulitnya seperti kayu yang lama terkena garam, dan satu matanya keruh seperti air muara. Ia tidak tampak terkejut. Ia tampak seperti orang yang sudah lama menunggu seseorang seperti Sahala datang. "Penjaga menara."
"Iya, Pak."
Lelaki tua itu memandangnya lama. "Namaku Wak Karib. Kalau kau masih hidup minggu depan, datang ke warungku. Aku punya beberapa hal yang perlu kau dengar." Ia menyeruput kopinya. "Kalau tidak datang, ya berarti kau tidak perlu mendengarnya."
Sahala mengira lelaki itu bercanda, tapi tidak ada satu pun otot di wajah Wak Karib yang bergerak ke arah senyum.
Perahu yang mengantarnya ke menara dikemudikan seorang pemuda yang lebih banyak diam. Air semakin dangkal, semakin cokelat, semakin penuh batang-batang bakau yang muncul dari lumpur seperti jari-jari hitam. Lalu menara itu muncul dari kabut tipis siang hari, dan Sahala merasakan sesuatu di dadanya mengencang tanpa ia bisa jelaskan kenapa.
Menara Suar Tanjung Keruh berdiri di atas gundukan batu dan beton di tengah hamparan lumpur yang luasnya berubah-ubah mengikuti pasang. Tubuhnya tinggi, ramping, dindingnya dulu putih, sekarang abu-abu kehijauan oleh lumut dan garam. Di pucuknya, ruang kaca tempat lampu besar berada memantulkan langit kelabu seperti mata yang separuh tertutup. Dermaga kayu yang menghubungkannya ke lumpur tampak lapuk, papan-papannya hitam basah, beberapa sudah hilang dan menyisakan celah ke air keruh di bawah.
"Saat ini surut," kata pengemudi perahu, satu-satunya kalimat panjang yang ia ucapkan. "Nanti malam pasang. Kalau sudah pasang, lumpur ini jadi laut. Menara berdiri sendiri di tengah air. Tidak ada jalan keluar sampai surut lagi." Ia menambatkan perahu seadanya, membantu menurunkan kotak ransum, lalu menatap Sahala. "Penjaga lama meninggalkan buku di dalam. Bacalah. Pak Lahmudin selalu bilang ke aku, kalau ada penjaga baru, suruh baca bukunya dulu sebelum apa-apa."
"Buku apa?"
Tapi pemuda itu sudah mendorong perahunya menjauh dari dermaga, dayungnya mengaduk air cokelat, dan ia tidak menoleh lagi. Dalam beberapa menit perahu itu lenyap di balik tikungan bakau, dan Sahala berdiri sendirian di kaki menara dengan suara satu-satunya adalah desis angin di celah-celah beton dan tetes air yang jatuh dari papan dermaga ke lumpur di bawah.
Ia menengadah. Menara itu menjulang di atasnya, jauh lebih tinggi dari yang terlihat dari perahu, dan untuk sesaat ia bersumpah ruang kaca di puncaknya bergerak, seolah ada yang menggeser tirai, walaupun ia tahu tidak ada siapa-siapa di atas sana. Tidak ada siapa-siapa selama berhari-hari sejak Pak Lahmudin tidak ada lagi.
Lalu angin berhenti, dan dalam kesenyapan yang tiba-tiba itu Sahala mendengar sesuatu yang membuat tengkuknya meremang: jauh di tengah muara, di tempat air bertemu kabut, terdengar bunyi air yang menetes pelan dan teratur, seperti seseorang yang baru saja naik dari laut dan berdiri menunggu, membiarkan air menetes dari tubuhnya, satu tetes demi satu tetes, menanti penjaga baru datang.