Aksara memuat novel & drama bertema dewasa (romansa, kekerasan). Dengan lanjut, kamu menyatakan berusia 17 tahun atau lebih.

oleh mrsDM
"Bagaimana kabarmu? Kapan istrimu melahirkan?". Pertanyaan hampir selalu menjadi kata pembuka Ayah setiap kali menelepon ku.Ya, sejak aku menikah di tahun 2013 silam, Ayah lebih memilih menikmati masa pensiunnya sebagai ASN di kampung halamannya. Sedangkan Aku memilih untuk tetap di tanah rantau dan mengawali hidup baru bersama istri.Beruntungnya, setahun setelah menikah, istriku hamil. Ini juga menjadi kabar bahagia bagi Ayah yang begitu tidak sabar ingin melihat cucu pertama dari anak bungsunya.Ya, Aku anak bungsu dari lima bersaudara. Banyak orang mengatakan kalau Aku anak yang paling disayang Ayah. Apalagi setelah ibu meninggal ketika Aku masih duduk di bangku kelas 2 SMP, sejak saat itu Ayah selalu berusaha untuk bisa menjadi Ayah sekaligus Ibu untukku.Namun, kenakalanku dimasa remaja membuat Aku dan Ayah sering berselisih, banyak hal yang kadang membuatku merasa kesal dengan sikap Ayah, meski cukup protektif, tapi setiap permintaanku selalu dipenuhi.Aku masih ingat jelas, ketika menginjak kelas 2 SMK. Ayah memberikanku kebebasan, termasuk merokok. Bagi bocah-bocah nakal, mungkin itu merupakan hal yang diimpikan, bisa bebas merokok tanpa harus takut ketahuan orangtua.Termasuk di sekolah, Ayah pun terang-terangan bilang ke guru-guru di sekolah, kalau Aku sudah dibolehkan merokok. Tetap saja, membawa rokok ke sekolah sebuah pelanggaran dan tetap dihukum.Sikap Ayah yang dianggap terlalu memanjakanku mebuat kakakku iri, dan akhirnya menyalahkan Ayah. Tapi, Ayah orang yang keras dan kekeuh dengan keputusannya. Alasannya cuma satu, Ayah tidak ingin Aku merasa kehilangan sosok seorang Ibu. Dan cara Ayah dengan memanjakan dan selalu memenuhi keinginanku.Ayah memang selalu memanjakanku, tapi sikap kerasnya dalam mendidik anak tetap tidak pernah diabaikannya. Sesekali ikat pinggang kulit miliknya mendarat di kaki dan betisku saat Aku dianggapnya melakukan kesalahan yang cukup fatal.Saat itu, Aku kesal dan geram dengan hukuman yang diberikannya. Tapi kini, kekesalan itu menjadi rindu, karena memang seperti itulah Ayah mengungkapkan kepeduliannya dan kasih sayangnya agar Aku tak lagi mengulang kesalahan.Ayah itu bagiku sosok yang paling banyak berperan dalam proses pendewasaan diriku. Karena Ayah selalu ada dalam kondisi apapun, saat Aku dalam kondisi yang paling buruk pun, Ayah tetap menjadi yang pertama mendampingi dan memastikan diriku baik-baik saja."Ayah, Aku kecelakaan, mobilku menabrak orang, meninggal," ucapku dengan gemetar saat menelepon Ayah."Dimana kamu sekarang? Bagaimana kondisimu?" tanya Ayah cemas. "Ayah ke sana," tegasnya.Tak sampai 1 jam, Ayah datang bersama beberapa Polisi ke tempat Aku kecelakaan, di jalan lintas. Saat itu, kondisi mobil SUV berkelir silver yang Aku kemudikan sudah ringsek akibat kecelakaan dan juga dilempari warga setempat.Tak lama, Aku pun langsung dibawa ke kantor Polisi untuk dimintai keterangan terkait insiden kecelakaan maut itu. Ternyata, dalam kecelakaan itu, ada pasangan suami istri mengendarai sepeda motor bebek warna hitam yang menyeruduk bagian samping kiri mobilku sebelum akhirnya masuk jurang.Nahas, suami pemotor itu tewas di tempat karena menabrak bagian samping mobilku dalam kecepatan tinggi dan tidak memakai helm, sedangkan istrinya tak sadarkan diri.Aku pun sempat mendekam di sel tahanan selama hampir 2 minggu. Ayah yang tak tega melihat Aku meringkuk di sel tahanan, terus berjuang agar Aku bisa bebas. Semua saudaranya dan relasinya jadi sasaran teleponnya.Akhirnya, berkat perjuangan Ayah, 2 minggu setelah insiden itu Aku dibebaskan setelah mendapat surat pernyataan damai dari keluarga korban.Ayah tak pernah sekalipun menyalahkanku akibat kejadian itu. Bahkan tak lama setelah kejadian dan mobil kami diperbaiki, Ayah langsung menjualnya."Kita jual saja, mobil kalau sudah kecelakaan itu bahaya. Bisa-bisa kecelakaan terus," kata Ayah, tanpa menyalahkanku akibat kecelakaan itu.Dan, setelah Aku menikah, sikap Ayah semakin hari semakin berubah. Bukan membenciku, tapi sikapnya menyiratkan bahwa sudah waktunya Aku menjalankan hidupku sendiri tanpa ada lagi bantuan dan darinya.Tak lama setelah Aku menikah, Ayah pun memilih untuk pulang ke kampung halamannya, dan memberikan tanggungjawab untuk menjaga rumah dan sepetak tanah miliknya kepadaku."Mulai sekarang rumah ini hakmu, tanah ini milikmu. Kamu jaga baik-baik, Ayah ingin kamu bisa pergi haji dengan tanah ini," pesan Ayah satu malam sebelum Aku menikah."Tak usah, Aku tak perlu rumah dan tanah ini. Cukup beri aku modal saja, Aku akan merantau ke Kota," jawabku. Karena Aku selalu menganggap, selama Ayah masih hidup, semua harta perjuangannya, masih miliknya. Dan Aku merasa tak berhak untuk memilikinya.Sontak saja Ayah berang dengan jawabanku."Tidak bisa, ini sudah amanah Ibumu, rumah dan tanah ini untukmu. Untuk kehidupanmu. Jangan sampai kamu termakan rayuan kakak-kakakmu," tegas Ayah.Ayah tau, kakak-kakak ku yang kini tinggal dua orang, termasuk manusia serakah...ic_default
Karena kamu suka Pernikahan · Sekolah, mungkin kamu suka ini juga: