Hari ini aku mengajak istri dan anak-anak untuk berlibur, seperti yang aku janjikan waktu itu pada Rian kalau kami akan berlibur dan sekaranglah waktunya. Rian senang sekali karena bisa berlibur sama-sama seperti ini, katanya ini adalah liburan yang paling menyenangkan untuk dirinya. Aku juga senang kalau Rian senang.
Tempat wisata yang kita kunjungi adalah kebun binatang, yang Rian inginkan waktu itu. Pagi sekali Rian sudah lebih dulu bangun, padahal kami baru akan berangkat pukul sembilan. Tetapi anakku sudah begitu bersemangat.
Aku dan Ana masih berada di ruang tengah, bermalas-malasan sebelum mandi. Karena ini masih pukul enam pagi dan tadi aku bangun karena Ana yang menangis. Sementara istriku sedang berada di dapur, menyiapkan bekal untuk kami nanti.
Rian sudah di kamar mandi, saat turun dari kamarnya tadi dan mencari keberadaan mamanya. Rian langsung berlari ke kamar lagi, hanya memberikan morning kiss di pipi mamanya setelah mengatakan selamat pagi. Kebiasaan dia akhir-akhir ini yang baru saja aku ketahui. Manis sekali anak kami.
"Mas, coba lihat Rian udah belum mandinya. Biar Ana sama aku," ucap Nina yang baru saja menghampiri aku dan Ana.
"Kamu udah selesai nyiapin makanan?" tanyaku pada Nina.
Dia mengangguk, "Soalnya kemarin udah bikin juga, tadi cuma manasin doang. Lihatin anaknya, jangan sampai mandi terlalu lama," jawabnya dan memintaku untuk menyusul ke kamar Rian, memastikan kalau Rian mandi dan berpakaian rapi.
Aku menyerahkan Ana yang berada di gendonganku pada Nina. Lalu bergegas ke kamar Rian untuk melihat jagoan kecil kami. Memang sejak memiliki adik, Rian sudah belajar mandi sendiri. Dia juga yang ingin, katanya sekarang karena dia sudah besar jadi harus mandi sendiri. Walaupun kadang-kadang manja juga padahal selalu bilang kalau sudah besar.
Masuk ke dalam kamar Rian, aku mendengar gemercik air dan suara orang yang sedang bernyanyi. Sepertinya memang hari ini Rian sangat ceria dan bersemangat, mungkin karena akan liburan juga.
"Kak Rian, mandinya jangan lama-lama." Aku berteriak dari luar kamar mandi, membuka sedikit pintunya dan aku lihat Rian sedang bermain air.
"Jangan main air, mandi yang bener," ucapku kembali membuat Rian menoleh dan malah cengengesan.
Aku memilih untuk menyiapkan pakaian ganti, sudah tidak asing lagi untukku. Karena sebelum ada Nina bersama kami, yang kerap kali menyiapkan pakaian untuk Rian. Aku sudah lebih dulu melakukannya, semua urusan Rian sudah banyak aku lakukan, tetapi memang sekarang karena ada mamanya, jadi Rian diurus oleh Nina.
Tidak lama, Rian keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk bergambar spiderman yang sangat disukainya. Rambutnya juga basah karena sudah keramas, dia menghampiriku yang sedang duduk di tepi ranjangnya.
"Bisa pakai baju sendiri nggak?" tanyaku yang dibalas dengan anggukan olehnya.
"Kan udah besar, Ayah. Udah bisa sendiri semuanya," jawabnya.
"Sudah besar tapi manja sama Mama terus," balasku yang membuat bibirnya manyun, menggemaskan sekali.
"Kan Mama Rian jadi nggak apa-apa dong," katanya.
"Ya udah, pakai baju terus turun ya. Ayah juga mau mandi dulu. Nanti bilang sama Mama kalau Ayah mandi," ucapku seraya beranjak dari ranjangnya.
Rian mengangguk kemudian mulai berganti pakaian yang sudah aku siapkan. Sementara aku setelah memastikan Rian berpakaian, langsung keluar dan berjalan menuju kamar untuk mandi juga. Biar nanti bisa bergantian dengan Nina, karena harus menjaga Ana.
**
Kami dalam perjalanan menuju kebun binatang, sebenarnya liburan kali ini bukan hanya kami saja yang pergi, tetapi juga bersama dengan keluarga kecil Nares.
Rencananya memang aku ingin quality time dengan keluargaku, tetapi Nares dan Indira juga sudah menjadi bagian dari keluargaku, akan sangat menyenangkan kalau kami pergi bersama. Rian juga bisa bersama Gea dan pasti akan senang.
Tadi aku sudah mengabari Nares, bahwa kami sudah dalam perjalanan. Dia juga sudah berangkat bersama dengan Indira dan Gea. Kami akan langsung bertemu di lokasi, seperti janji kami kemarin.
Dalam perjalanan, Rian tidak berhenti bertanya apakah Gea jadi ikut atau tidak. Selain sekarang memiliki Ana sebagai adiknya, Rian juga masih begitu menyayangi Gea sebagai adiknya dan selalu senang kalau pergi dengan Gea, gadis kecil itu sangat ceria sekali bersama dengan Rian. Mereka benar-benar seperti saudara dan aku maupun Nares selalu berharap mereka akan terus menjalin persaudaraan dan persahabatan sampai dewasa nanti.
"Ayah, kemarin Gea bilang kalau dia juga mau punya adek loh. Berarti nanti Ana punya teman main juga ya, adiknya Gea," ucap Rian.
Aku mengangguk. Beberapa hari lalu Nares memang memberikan kabar tentang kehamilan Indira, anak kedua mereka yang selama ini dinantikan akhirnya terkabul. Nares begitu bahagia karena memang selama ini dia yang selalu mengatakan ingin menambah anak, ingin anak laki-laki seperti Rian. Sekarang terkabul dan menjadi kabar bahagia untuk keduanya.
"Nanti Rian bakalan punya adik lagi," ucapku.
"Rian senang?" tanya Nina yang duduk di sampingku.
"Senang, Ma. Rian jadi kakak dan banyak adik," jawabnya.
Rian memang menjadi sosok kakak untuk Gea dan Ana, lalu sebentar lagi adiknya akan bertambah dan dia sangat senang dengan kabsr tersebut. Aku juga senang karena kami bisa menjalin kekeluargaan seperti ini, tidak pernah aku bayangkan sebelumnya kalau pada akhirnya aku, Nares dan Indira akan menjalin silaturahmi sampai sejauh ini. Aku kira mereka akan membenciku dan menjauh karena apa yang aku lakukan di masa lalu.
Jalanan tidak terlalu macet, mungkin karena masih pagi dan kami sudah sampai di lokasi. Ternyata Nares lebih dulu sampai, mereka sudah keluar dari mobil dan sedang mengeluarkan barang-barang bawaan. Maklum saja, kami membawa anak kecil dan pastinya banyak barang yang dibawa dari rumah, padahal hanya liburan singkat saja. Apalagi aku yang memiliki bayi, keperluannya bertambah.
"Kak Rian!" Gea berlari menghampiri kami yang baru saja turun dari mobil, langsung mendekati Rian dan memeluknya.
Mereka kalau sudah bertemu memang begitu, seperti lama tidak bertemu sampai berpelukan. Rian juga tidak pernah protes, malah selalu membalas pelukan Gea tak kalah erat.
"Kak Rian nanti jalannya sama aku ya," kata Gea yang masih bisa jelas kudengar.
Aku tersenyum memperhatikan mereka, sembari mengeluarkan barang-barang dari dalam mobil. Nina sendiri sudah menghampiri Indira bersama dengan Ana. Kami -aku dan Nares- yang sibuk dengan barang bawaan kami masing-masing.
Setelah semuanya siap, aku mengajak mereka untuk segera masuk ke area kebun binatang. Rian dan Gea tampak antusias sekali, keduanya berjalan sambil berpegangan tangan sementara kami para orang tua berjalan di belakang mereka. Sepertinya hari ini akan sangat singkat karena kami terlalu menikmati waktu yang kami habiskan bersama.