Rasanya asing sekali berada di rumah ini, tetapi tidak ada Ibu. Sudah satu minggu kepergian Ibu dan aku, Mas Tian, juga anak-anak menempati rumah ini. Kami akhirnya pindah rumah atas keinginan Ibu yang terakhir kali, sebagai seorang istri, tentu saja aku ikut ke mana Mas Tian pergi.
Kenangan bersama dengan Ibu selalu aku ingat, Ibu bukan sekedar mertua bagiku, tetapi audah seperti Ibu kandung yang sangat menyayangiku. Aku ingat pertama kalinya aku menjadi istri Mas Tian, Ibu begitu menyambutku dengan bahagia, bahkan yang pertama kali mengatakan kalau aku harus sabar menghadapi Mas Tian, yang saat itu masih belum bisa melupakan istri pertamanya.
Ibu yang selalu mendukung aku agar bisa membuat Mas Tian kembali seperti sebelumnya, tidak larut dalam kesedihan karena kehilangan Mbak Atika.