Raka dirawat dengan penjagaan polisi. Setelah sadar, dia meminta bertemu Aydan tanpa media. Pertemuan dilakukan di ruang rumah sakit dengan Raihan serta penyidik.
“Maaf aku menyuruhmu pergi,” kata Raka. “Ada orang mengawasi kantor.”
Dia mengaku Safar menemukan Zafar menggelapkan uang perusahaan. Safar hendak menyerahkan bukti kepada polisi, tetapi malam itu keluarganya dikejar menuju hotel Fairmont.
“Kecelakaan beruntun bukan rencana awal. Mobil mereka hanya ingin menghentikan ayahmu,” jelas Raka.
“Siapa yang mengendarai?”
“Orang suruhan Zafar. Tapi Zafar ada di dekat lokasi.”
Raka menyimpan bukti transaksi dan rekaman suara. Map itu dicuri saat dirinya diserang, tetapi salinan tersimpan pada notaris.
Kaif bertanya siapa yang meneruskan ancaman jika Zafar sudah mati.
“Fariz,” jawab Raka. “Dia dibesarkan dengan keyakinan bahwa Safar merebut hak ayahnya.”
Aydan mengingat nama putra Zafar dari Salma. Fariz mungkin berada di Medan dan menggunakan Tania untuk mencari jadwalnya.
Raka juga menjelaskan mengapa Raihan diancam. Fariz masih remaja ketika mengetahui Aydan hidup. Zafar memerintahkan keluarga mereka diam sampai semua dokumen warisan selesai dipindahkan.
Raihan meminta maaf karena ketakutannya memperpanjang kebohongan. Aydan belum mampu memaafkan seluruhnya, tapi ia menerima bahwa papanya mencoba melindungi.
Notaris menyerahkan salinan bukti. Polisi membuka penyelidikan pidana baru dan mengeluarkan pencarian terhadap Fariz.
Malam itu rumah Raihan kehilangan listrik. Keamanan menemukan seseorang memotong kabel belakang. Kaif membawa Hanin serta Aydan ke ruang aman.
“Kakak jaga Mama. Biar petugas yang periksa,” kata Aydan.
Kaif menurut, meski ingin keluar. Mereka gak lagi membuktikan keberanian dengan bertindak gegabah.
Ketika listrik pulih, satu pesan muncul di ponsel Aydan: hentikan kasus atau Hanin menjadi korban berikutnya.
Aydan memandang mamanya dan untuk pertama kali mempertimbangkan menyerah.
Ancaman kepada Hanin membuat keamanan rumah diperketat. Semua pintu diperiksa dan keluarga diminta tidur di kamar bagian tengah. Mama Raihan juga dipindahkan, meski dia protes.
“Kalau Mama keluar sendiri, pengawal tetap ikut,” kata Raihan.
“Mama bukan tahanan.”
“Ini akibat rahasia yang kita simpan terlalu lama.”
Ucapan itu membuat wanita tua tersebut diam.
Aydan ingin mematikan semua penyelidikan. Di ruang kerja dia merobek salinan alamat Raka, tetapi Kaif menghentikan sebelum dokumen lain ikut rusak.
“Kau marah, jangan rusak bukti.”
“Mereka mengancam Mama!”
“Makanya kita serahkan ke polisi, bukan menyerah pada mereka.”
Aydan menuduh Kaif gak memahami rasa takut kehilangan ibu. Kaif membalas bahwa Hanin juga mamanya. Pertengkaran mereka hampir berubah menjadi dorongan, tetapi Raihan masuk dan memisahkan.
Setelah tenang, Kaif meminta maaf karena menaikkan suara. Aydan juga mengakui dirinya hampir bertindak gegabah.
Raka memberikan kesaksian lebih rinci. Malam kecelakaan, Safar membawa salinan rekening dan rekaman percakapan Zafar. Raka seharusnya menemuinya di hotel, tetapi mobil Safar dibuntuti.
“Aku terlambat lima belas menit,” katanya sambil menangis. “Kalau aku datang lebih cepat, mungkin mereka masih hidup.”
Aydan gak menyalahkannya. Rasa bersalah Raka selama dua puluh dua tahun sudah cukup berat.
Notaris yang menyimpan salinan bukti ternyata pindah ke Surabaya. Polisi mengirim tim dan memperoleh brankas tersegel. Di dalamnya ada rekaman suara Zafar memerintahkan Herman menghentikan mobil Safar tanpa menyebut pembunuhan.
“Dia bisa bilang gak bermaksud menyebabkan kecelakaan,” kata Kaif.
“Tetap ada perintah kejahatan,” jawab penyidik.
Fariz diduga menyerang Raka untuk mengambil versi asli dan menghapus hubungan ayahnya. Namun satu pertanyaan tersisa: jika Zafar sudah mati, mengapa Fariz masih takut warisan dibuka?
Pengacara menjelaskan transaksi aset dapat dibatalkan dan Fariz kehilangan perusahaan yang kini dikelolanya melalui nama lain.
Yuni membantu memeriksa perusahaan terkait. Salah satu pemasok keluarga Raihan ternyata dimiliki perusahaan cangkang Fariz. Artinya, pengawasan dapat masuk melalui jadwal bisnis.
Aydan memutus kontrak sementara dengan prosedur resmi. Dia gak mengumumkan tuduhan agar penyelidikan gak bocor.
Kaif mengambil alih komunikasi pemasok. Meski melakukan dua kesalahan kecil, dia memperbaiki tanpa menyalahkan Aydan.
Malam terakhir sebelum keluarga pindah ke rumah aman, Aydan berdiri di kamar Hanin.
“Ma, Aydan bisa pergi sendiri. Kalau aku jauh, kalian aman.”
Hanin menampar pelan lengannya. “Jangan pernah pikir kau harus kehilangan keluarga supaya keluarga selamat. Kita ikut aturan bersama.”
Raihan menyetujui. Keamanan akan mengubah rute dan lokasi, bukan mengusir Aydan dari rumah.
Pesan ancaman disimpan sebagai bukti. Aydan gak membalas. Pilihannya bukan menyerah atau melawan sendiri. Ada pilihan ketiga yang selama ini sulit diterima: mempercayai orang lain membantu.
Pemeriksaan rumah menemukan alat penyadap di dekat pagar. Perangkat itu baru dipasang beberapa hari lalu dan memakai kartu yang sama dengan nomor ancaman.
Mama Raihan akhirnya meminta maaf kepada Aydan. Ucapannya kaku dan masih dipenuhi alasan takut.
“Nenek belum sepenuhnya mengerti luka yang dibuat,” kata Aydan. “Tapi aku dengar permintaan maafnya.”
Dia belum memaafkan, namun gak menolak kemungkinan hubungan mereka berubah. Mama Raihan menyerahkan semua dokumen lama dan setuju diperiksa polisi.
Raihan juga memberikan catatan terapi masa kecil Aydan. Beberapa sesi menyebut anak itu takut kepada paman bercincin. Petunjuk tersebut mendukung ingatan yang baru kembali.
Aydan marah karena catatan disimpan, tetapi terapis menjelaskan Raihan mengikuti saran dokter agar trauma gak dipaksa. Yang salah adalah setelah Aydan dewasa, dokumen tetap gak dibagikan.
Raihan menerima kritik itu. “Papa terlalu lama menganggap melindungi berarti memilihkan apa yang boleh kau tau.”
Aydan meminta semua berkas diserahkan. Malam itu ia membacanya bersama Kaif sedikit demi sedikit, berhenti setiap kali kepala mulai sakit. Mereka gak perlu menemukan semua jawaban dalam satu malam.
Kesaksian Raka kemudian direkam ulang di hadapan notaris dan polisi. Satu salinan disimpan pengadilan, satu di kantor penyidik, dan satu lagi diberikan kepada pengacara Aydan.
Raka juga menggambar jalur kendaraan pada malam kecelakaan. Dia mengingat mobil Zafar berhenti jauh dari tabrakan dan seorang pria bercincin turun untuk melihat keadaan. Keterangan itu cocok dengan kilatan ingatan Raihan.
Aydan meminta pemeriksaan rekaman tol lama, meski kemungkinan datanya sudah hilang. Penyidik menemukan arsip foto cetak yang belum pernah dimasukkan sistem digital. Salah satu gambar samar menunjukkan mobil perusahaan Zafar di bahu jalan.
“Ini belum cukup untuk menyatakan siapa pengemudinya,” kata penyidik.
“Tapi cukup untuk melanjutkan pencarian,” jawab Aydan.
Kaif membantu menyusun urutan bukti agar adiknya gak membaca dokumen trauma sepanjang malam. Setiap dua jam, dia memaksa Aydan makan atau beristirahat. Cara Kaif masih kasar, tetapi niatnya gak lagi diragukan.