Pengadilan perdata mengesahkan sementara wasiat Safar setelah ahli tulisan memeriksa tanda tangan. Aydan memperoleh hak mengawasi aset, tetapi pengelolaan tetap dilakukan dewan independen.
Sejumlah kerabat mendadak datang mengaku dekat. Aydan menolak pertemuan tanpa pemeriksaan pengacara.
Kaif menggoda bahwa adiknya sekarang lebih kaya, tetapi diam-diam khawatir perusahaan Raihan ditinggalkan.
“Aku gak pergi besok,” kata Aydan. “Kalau ada perubahan, kita buat transisi.”
Wasiat memberikan empat puluh persen saham kepada yayasan karyawan, tiga puluh persen kepada Aydan, dan sisanya kepada Salma serta dana pendidikan. Zafar selama ini menyembunyikan dokumen karena gak mendapat kendali.
Aydan meminta audit pembayaran hak karyawan selama dua puluh dua tahun. Nilainya besar dan mungkin mengurangi warisan pribadinya.
“Itu memang hak mereka,” katanya.
Emilia bertemu Aydan di kafe setelah hari magang. Mereka berbicara tentang pekerjaan dan lukisan. Emilia gak menanyakan jumlah warisan.
Saat pulang, Aydan merasa ringan. Kaif langsung mengetahui dari senyumnya dan kembali menggoda.
Di pengadilan, Fariz akhirnya bersedia bersaksi melawan Zafar. Syaratnya perlindungan bagi ibunya. Jaksa menyetujui pemeriksaan permintaan tanpa menjanjikan kebebasan.
Fariz mengatakan Zafar masih menyimpan satu rekaman asli kecelakaan di brankas luar negeri.
Pengesahan wasiat memicu kedatangan para pengacara yang mengaku mewakili kerabat jauh. Salah satu menawarkan membeli saham Aydan sebelum audit selesai.
“Mereka pikir aku gak ngerti nilai perusahaan,” kata Aydan.
Raihan menyarankan semua tawaran masuk melalui dewan independen. Salma juga menolak menjual bagiannya sebelum hak karyawan dibayar.
Audit menemukan ribuan pegawai lama kehilangan dana pensiun karena penggelapan Zafar. Sebagian sudah meninggal. Yayasan harus mencari ahli waris mereka.
Aydan meminta namanya gak dipakai sebagai pemberi bantuan. “Itu uang mereka, bukan hadiah dariku.”
Kaif membantu tim komunikasi. Dulu dia suka memasang namanya pada setiap kegiatan. Sekarang dia menyusun pengumuman yang berpusat pada hak karyawan.
Di rumah, Mama Raihan menyerahkan surat lama Safar yang menyebut wasiat. Dia mengaku menyembunyikannya karena takut Zafar kembali.
“Ketakutan Nenek membuat ribuan orang menunggu hak,” kata Aydan.
Wanita itu menangis. Aydan gak menghibur dengan mengatakan semuanya baik-baik saja. Dia meminta neneknya bersaksi jujur di pengadilan perdata.
Kesaksian tersebut berat. Mama Raihan mengakui menerima dokumen dan ancaman. Pengacara Zafar menuduhnya berbohong demi cucu angkat.
“Saya justru bertahun-tahun menolak mengakui dia cucu saya,” jawabnya. “Itu kesalahan saya, tapi surat ini tetap diberikan Safar.”
Ahli tulisan memastikan tanda tangan dan usia kertas. Hakim mempertahankan status wasiat.
Di tengah kesibukan itu, Aydan memenuhi janji bertemu Emilia. Mereka memilih kafe terang dan masing-masing datang bersama pendamping yang duduk jauh.
Emilia menceritakan magang. Dia salah memasukkan data pada hari pertama dan mengira akan dipecat, tetapi atasannya hanya meminta perbaikan.
“Ternyata bikin salah gak selalu berarti hidup selesai,” katanya.
“Aku juga lagi belajar itu.”
Mereka membahas lukisan. Emilia ingin melihat karya Aydan suatu hari, tetapi gak meminta datang ke rumah.
Aydan menghargai batas tersebut. Dia mengatakan mungkin akan mengundang ke pameran jika sudah siap.
Kaif menunggu kabar sepulangnya dan bertanya seratus hal. Aydan menjawab dengan melempar bantal.
Hubungan Aydan dan Emilia mulai tumbuh melalui pertemuan biasa, bukan adegan penyelamatan. Aydan belum menyebutnya cinta, sedangkan Emilia gak menuntut kepastian.
Wasiat akhirnya diumumkan kepada karyawan. Banyak yang menangis karena hak keluarga mereka mungkin kembali. Aydan berdiri di belakang pengelola yayasan, bukan di podium utama.
Salma memegang tangannya. “Abang Safar pasti bangga.”
Aydan berharap demikian, tetapi dia gak ingin hidup hanya untuk memenuhi bayangan ayah yang mulai dikenalnya lewat dokumen. Pilihan atas saham dan pekerjaannya tetap harus menjadi miliknya.
Audit wasiat menemukan satu tanah sekolah yang pernah dijual Zafar kepada perusahaan pribadinya dengan harga sangat rendah. Aydan meminta transaksi dibatalkan dan tanah dikembalikan kepada yayasan pendidikan.
Pengacara memperingatkan keputusan itu mengurangi nilai aset yang dapat diwarisi.
“Tanah itu memang gak pernah seharusnya jadi milikku,” jawab Aydan.
Karyawan lama diundang memberikan kesaksian. Seorang mantan manajer mengaku pernah diperintah menghancurkan salinan wasiat, tetapi menyimpan satu foto karena takut. Foto tersebut memperkuat dokumen utama.
Mama Raihan bertemu mantan manajer itu dan mengakui dirinya juga diam. Keduanya menangis karena rasa takut membuat kebohongan bertahan puluhan tahun.
Kaif menghadapi ujian berbeda. Seorang investor menawarkan komisi jika dia membujuk Aydan menjual saham. Kaif merekam tawaran, melapor kepada dewan, dan menolak uang.
“Dulu aku mungkin ambil,” katanya kepada Aydan.
“Sekarang?”
“Sekarang aku tau uang gampang biasanya membawa masalah panjang.”
Aydan menghargai kejujuran itu. Dia gak lagi memeriksa semua langkah kakaknya secara diam-diam.
Emilia juga mengalami kemajuan. Ayahnya melanggar perintah perlindungan dengan datang ke tempat magang. Emilia gak lari ke Aydan; dia menekan tombol darurat dan mengikuti pelatihan keselamatan. Polisi membawa ayahnya pergi.
Ketika menceritakan kemudian, Emilia masih gemetar tetapi bangga.
“Aku selalu pikir butuh seseorang berdiri di depanku,” katanya.
“Meminta bantuan juga bentuk berdiri untuk diri sendiri,” jawab Aydan.
Mereka berjalan di taman setelah minum kopi. Aydan meminta izin memegang tangan. Emilia mengizinkan beberapa saat, lalu melepaskan ketika merasa gugup. Aydan gak tersinggung.
Hubungan mereka belajar dari semua konflik di sekitar: kedekatan gak memberi hak mengambil keputusan orang lain.
Di akhir audit, hakim mengesahkan pembayaran tahap pertama kepada keluarga karyawan. Aydan datang tanpa pidato. Seorang anak mantan pegawai menyalamnya dan mengatakan ayahnya menunggu keadilan sampai meninggal.
Aydan hanya mampu meminta maaf karena proses terlambat. Ia pulang dengan pemahaman bahwa wasiat bukan sekadar jalan mendapatkan identitas; itu tanggung jawab yang tertunda satu generasi.
Sebelum meninggalkan gedung pengadilan, Aydan bertemu beberapa mantan karyawan. Mereka gak meminta foto atau uang, hanya kepastian audit dilanjutkan. Aydan memberikan kontak dewan independen dan menolak menerima berkas langsung agar semua tercatat. Langkah kecil itu menunjukkan pengelolaan baru gak lagi bergantung pada satu pewaris.
Malam itu, seluruh berkas wasiat disimpan dalam arsip digital dan fisik agar gak kembali hilang.