Audit menemukan uang yayasan mengalir ke rekening bernama Nayla Foundation. Aydan terkejut karena memakai nama ibunya.
Yayasan itu terdaftar di Singapura dan didirikan dua tahun setelah kecelakaan. Pengurus awalnya adalah Raka, tetapi tanda tangannya diduga dipalsukan.
Raka membantah mengetahui lembaga tersebut. Dia mengenali satu direktur bernama Malik sebagai mantan akuntan Zafar.
Malik kini tinggal di Medan dan menjadi penasihat salah satu kandidat CEO—Marwan.
Kaif langsung menuduh Marwan terlibat. Aydan meminta bukti.
“Jangan rusak seleksi karena prasangka.”
Kaif marah, tetapi menyerahkan informasi kepada komite etik. Marwan dibolehkan melanjutkan sambil pemeriksaan berjalan.
Emilia menemukan beberapa keluarga korban pernah menerima uang dari Nayla Foundation dengan syarat menandatangani perjanjian diam. Artinya nama ibu Aydan dipakai untuk menutup kejahatan.
Aydan hampir mengumumkan semuanya. Pengacara menghentikan karena rekening masih aktif dan dapat membawa mereka kepada Malik.
Operasi keuangan dilakukan. Transfer berikutnya mengarah ke perusahaan konsultasi milik Marwan, tetapi keterangan pembayaran terlalu umum.
Marwan dipanggil. Dia mengaku menyewa Malik tanpa mengetahui sejarahnya.
Kaif gak percaya, namun tetap mengikuti proses.
Pada malam hari, seseorang membobol kantor yayasan dan mengambil satu komputer. Kamera menunjukkan pelaku memakai kartu akses milik anggota dewan.
Masalah lama ternyata belum benar-benar mati. Ia hanya berpindah nama dan masuk ke lembaga yang seharusnya memperbaiki kerusakan.
Pembobolan kantor yayasan terjadi malam ketika hanya petugas kebersihan berada di gedung. Pelaku memakai kartu anggota dewan bernama Bastian, mantan direktur Safaraz yang dipertahankan karena dianggap mengetahui sistem lama.
Bastian mengaku kartunya hilang. Kamera parkir menunjukkan mobilnya datang satu jam sebelum pembobolan, tetapi wajah pengemudi gak terlihat.
Aydan menonaktifkan akses Bastian sambil menunggu pemeriksaan. Dia gak mengumumkan tuduhan kepada karyawan.
Malik menghilang dari apartemennya. Polisi menemukan tiket menuju Batam dan dugaan rencana keluar negeri.
Kaif meminta tim keamanan perusahaan Raihan memeriksa apakah data mereka juga dicuri. Audit menemukan satu folder kampanye disalin melalui akun staf yang direkomendasikan Marwan.
Staf itu mengaku menerima uang Malik untuk memasang perangkat. Marwan terlihat terpukul karena kelalaiannya membuka jalan.
“Saya gak tau sejarah Malik,” katanya kepada komite.
“Tapi pemeriksaan latar belakang adalah tanggung jawab penasihat senior,” jawab Raihan.
Marwan menerima pembekuan seleksi sementara.
Di yayasan, komputer yang dicuri berisi daftar pembayaran korban dan bukti transaksi Nayla Foundation. Untung data memiliki cadangan terenkripsi. Pelaku hanya mendapatkan salinan yang gak dapat dibuka tanpa kunci.
Aydan memeriksa alasan nama Nayla dipakai. Raka menduga Zafar sengaja menggunakan nama perempuan yang sudah meninggal agar pembayaran tampak sebagai amal keluarga Safar.
“Dia menjadikan Mama alat menutup kejahatan,” kata Aydan.
Salma mengusulkan nama yayasan diubah setelah dana dipulihkan. Aydan setuju, tetapi meminta keluarga korban ikut memilih nama baru.
Emilia bertemu janda pekerja yang haknya dicuri. Perempuan itu menolak bantuan karena takut harus menandatangani perjanjian diam lagi. Emilia menunjukkan program baru gak memiliki syarat tersebut.
Pengalaman itu membuat Emilia memahami mengapa kepercayaan gak pulih hanya dengan uang dikembalikan.
Dia menceritakan secara umum kepada Aydan tanpa menyebut identitas. Aydan menyadari hal serupa berlaku pada hubungannya dengan Mama Raihan dan Emilia sendiri.
Polisi menangkap Bastian ketika mencoba mengambil uang dari loker. Dia mengaku membantu Malik karena dijanjikan bagian dana yayasan. Malik masih bebas.
Bastian memberi lokasi gudang cadangan. Di sana ditemukan komputer asli serta dokumen yang menunjukkan penggelapan berlangsung sampai tahun sebelumnya.
Salah satu tanda tangan pada transaksi adalah milik Zafar setelah tanggal kematian palsunya. Bukti tersebut dikirim ke pengadilan banding sebagai tambahan pola kejahatan.
Marwan dibersihkan dari keterlibatan langsung, tetapi komite tetap menilai kelalaiannya. Kaif gak lagi menuduh tanpa bukti.
Masalah yayasan memperlihatkan pemulihan gak selesai setelah Zafar dipenjara. Sistem yang dibangunnya tetap hidup melalui orang-orang yang mendapat keuntungan.
Aydan membentuk tim audit permanen dengan mayoritas anggota dari luar keluarga. Dia menyerahkan hak veto pribadinya.
“Kalau yayasan cuma bergantung pada aku, kesalahan lama bisa terulang saat aku salah,” katanya.
Tim audit menelusuri Nayla Foundation sampai ke sebuah rumah singgah yang sebenarnya gak pernah dibangun. Foto kegiatan ternyata diambil dari lembaga lain dan diedit.
Emilia mengenali salah satu foto asli milik organisasi tempatnya bekerja. Lembaga mengajukan laporan penggunaan materi tanpa izin.
Aydan marah karena nama ibunya dipakai bukan hanya menutup uang, tetapi menciptakan amal palsu. Dia ingin menghapus semua arsip yayasan tersebut.
Clara—pengawas arsip profesional yang ditunjuk dewan—menyarankan dokumen disimpan sebagai bukti, dengan penjelasan jelas bahwa kegiatan palsu.
“Kalau dihapus, generasi berikutnya bisa bilang ini gak pernah terjadi,” katanya.
Aydan menyetujui. Nama Nayla dipulihkan melalui kebenaran, bukan dengan menghilangkan jejak penyalahgunaan.
Bastian memberikan kesaksian bahwa Malik bekerja atas arahan Fariz sampai penangkapan. Setelah itu Malik berusaha menyelamatkan dana untuk dirinya sendiri. Jadi jaringan kejahatan berubah dari loyalitas keluarga menjadi kepentingan pribadi.
Malik ditangkap membawa beberapa paspor dan kunci penyimpanan digital. Dia menawarkan data tambahan sebagai imbalan hukuman ringan. Jaksa hanya menjanjikan pertimbangan jika informasi terbukti.
Data tersebut mengungkap lima rekening lain. Dana dipulihkan sebelum dipindahkan ke luar negeri.
Marwan bertemu Kaif setelah dibersihkan dari tuduhan sengaja. Dia meminta maaf karena membawa Malik tanpa pemeriksaan cukup.
“Aku juga terlalu cepat menuduhmu,” kata Kaif.
Mereka berjabat tangan, tetapi tetap pesaing seleksi.
Aydan mempresentasikan reformasi yayasan kepada keluarga korban. Beberapa menolak Bastian mendapat keringanan karena bekerja sama. Aydan mengatakan keputusan ada pada jaksa dan hakim, bukan dirinya.
Yayasan Jalan Pulang mulai dibentuk dengan aturan bahwa mayoritas dewan harus berasal dari karyawan serta korban. Keluarga Safaraz hanya memiliki satu kursi.
Dengan begitu, nama palsu yang dulu dipakai mencuri berubah menjadi sistem yang gak mudah dikuasai satu keluarga lagi.
Pada rapat penutup, auditor menyerahkan daftar semua rekening yang sudah dibekukan. Dana yang berhasil diselamatkan akan dikembalikan melalui proses hukum dan diawasi pihak independen. Aydan meminta laporan kemajuan diterbitkan setiap bulan agar para korban gak perlu lagi mempercayai janji tanpa bukti.
Salma menjadi orang pertama yang menandatangani aturan transparansi itu. Baginya, membersihkan nama Nayla bukan berarti menyembunyikan kejahatan yang pernah memakai nama tersebut. Justru kebenaran harus dicatat lengkap supaya kesalahan serupa gak bisa tumbuh dalam diam.