Nadia mengakui pergi ke Berastagi setelah menerima telepon dari Kirana. Dia gak melapor karena Kirana mengancam akan pergi jika polisi ikut campur.
“Dia sakit parah dan hanya ingin bertemu Naufal,” kata Nadia.
“Lalu mengapa rumahnya kosong?” tanya penyidik.
Nadia mengatakan Kirana panik setelah melihat berita tentang Harun. Dia meminta diantar ke terminal, lalu turun sebelum kendaraan berhenti. Kamera terminal gak menemukan wajahnya.
Penyidik mempertimbangkan Nadia menghalangi proses hukum. Nadia menyerahkan ponselnya dan menerima pemeriksaan tanpa meminta perlakuan khusus.
Pesan mereka menunjukkan Kirana memang menghubungi lebih dulu. Namun satu percakapan telah dihapus. Teknisi memulihkannya: Nadia bertanya apakah Naufal anak Nurdin. Kirana menjawab, “Biarkan dia memilih hidup tanpa nama ayah.”
Jawaban itu gak memastikan apa pun.
Pengadilan mengabulkan tes DNA Harun untuk kepentingan sengketa identitas. Hasilnya keluar dua hari kemudian: Harun bukan ayah biologis Naufal.
Naufal menerima kabar seorang diri dengan pengacaranya. Dia menolak bertemu siapa pun selama satu hari. Keesokan paginya dia mengirim pesan kepada Aydan.
“Aku gak tau siapa diriku.”
Aydan membalas, “Aku pernah merasakan itu. Kalau kau ingin didengar, aku ada.”
Naufal mengizinkan panggilan. Aydan gak mengatakan darah gak penting, karena bagi orang yang seluruh hidupnya dibangun dari kebohongan, kalimat itu terlalu mudah. Dia menceritakan bagaimana mengetahui Raihan bukan ayah biologisnya membuat semua kenangan terasa palsu, lalu bagaimana dia belajar kenangan tersebut tetap terjadi.
“Nama Safar melindungimu. Kirana membesarkanmu. Kebenaran ayah biologis tetap penting, tapi itu bukan satu-satunya isi hidupmu,” katanya.
Naufal gak langsung setuju. Namun sebelum menutup telepon, dia mengucapkan terima kasih.
Polisi tetap menyiapkan pertemuan di gereja tua. Naufal ingin datang, tetapi keamanan melarangnya berada di ruang terbuka. Mereka memasang kamera dan menempatkan petugas tanpa menampilkan Naufal.
Pada hari yang ditentukan, Siska muncul membawa tas Kirana. Dia mengatakan Kirana pingsan di perjalanan dan dibawa ke rumah sakit swasta menggunakan nama lain.
Polisi menemukan Kirana dirawat di ruang onkologi. Kanker paru-parunya sudah stadium lanjut. Dia meminta melihat Naufal sebelum memberikan kesaksian.
Naufal setuju setelah berkonsultasi dengan pendamping. Pertemuan dilakukan di rumah sakit dengan psikolog hadir. Aydan gak ikut meski Naufal sempat memintanya menunggu di luar. Dia memilih berada di ruang keluarga tanpa memasuki kamar.
Saat melihat ibunya, Naufal berdiri kaku. Kirana menangis dan meminta maaf. Dia memalsukan kematian setelah Harun menemukan mereka. Siska membantu karena Harun mengancam akan menangkap Naufal atas pencurian dokumen.
“Kenapa Ibu gak membawaku?” tanya Naufal.
“Harun hanya mengejarku. Aku pikir kalau kau percaya aku mati, kau akan berhenti mencariku.”
“Tapi aku diculik karena dokumen Ibu.”
Kirana gak memiliki pembenaran. Dia mengakui rencananya gagal dan ketakutannya melukai anak sendiri.
Tentang ayah biologis, Kirana mengatakan Nurdin memang ayah Naufal. Nurdin mengetahui kehamilan itu dan memerintahkan Harun menghapus jejak. Safar kemudian mengakui Naufal sebagai anak untuk menggagalkan rencana tersebut.
Nadia mendengar kesaksian dari penyidik. Itu berarti Naufal adalah adik tirinya. Dia meminta bertemu, tetapi Naufal belum bersedia.
“Hubungan darah gak memberi akses otomatis,” kata pengacaranya.
Nadia menerima keputusan itu, meski terlihat terpukul.
Kirana menyerahkan lokasi dokumen asli Nurdin. Dokumen disimpan dalam kotak deposito atas nama Siska. Di dalamnya terdapat bukti bahwa lahan pelabuhan dibeli menggunakan uang Nurdin, tetapi akta dialihkan kepada Safar untuk menyembunyikan hubungan dengan Kirana.
Secara hukum, klaim Naufal semakin kuat. Perusahaan mengumumkan akan menghormati putusan dan gak menjual lahan selama proses.
Kaif menghadapi kemarahan pemegang saham. Laras memintanya memimpin rapat umum luar biasa. Kaif memaparkan risiko tanpa menyalahkan Naufal. Dia juga menunjukkan perusahaan sudah mendapat keuntungan dari lahan selama puluhan tahun.
“Menunda pengembalian hanya menambah utang moral serta hukum,” katanya.
Mosi untuk memberhentikan Laras gagal tipis. Kaif kehilangan beberapa pendukung, tetapi kepercayaan pegawai meningkat.
Emilia berangkat ke Yogyakarta dua hari kemudian. Aydan mengantarnya ke bandara karena Emilia meminta. Dia gak memberi hadiah mahal, hanya sebuah buku catatan dengan halaman pertama kosong.
“Supaya kamu yang menentukan isinya,” katanya.
Mereka berpelukan setelah saling bertanya. Gak ada janji bahwa enam bulan akan mudah. Mereka hanya berjanji mengatakan jika rasa takut mulai berubah menjadi kontrol atau diam.
Setelah pesawat berangkat, Aydan menerima telepon dari rumah sakit. Kirana mengalami penurunan kondisi dan meminta bertemu dengannya.
Ketika Aydan tiba, Kirana menyerahkan satu surat Nayla yang belum pernah dibuka.
“Ibumu menitipkan ini untuk anaknya,” kata Kirana. “Aku terlalu takut memberikannya.”
Di bagian depan tertulis nama Aydan dengan tulisan tangan Nayla.
Aydan gak langsung membuka amplop. Dia takut isinya mengubah gambaran tentang Nayla seperti dokumen lama mengubah pandangannya kepada Safar. Kirana mengatakan ketakutan itu wajar, tetapi surat tersebut milik Aydan dan dia boleh memilih waktu.
Dalam perjalanan pulang, Aydan menelepon Emilia. Dia gak membacakan isinya karena amplop masih tertutup. Emilia bertanya apakah Aydan ingin ditemani melalui panggilan ketika membuka.
“Aku ingin bersama Papa, Mama, dan Kaif,” jawabnya, lalu khawatir Emilia tersinggung.
“Itu pilihan yang masuk akal. Aku gak harus hadir dalam setiap bagian hidupmu untuk menjadi pasanganmu.”
Jawaban tersebut melegakan Aydan. Hubungan sehat ternyata bukan hanya soal memberi ruang kepada Emilia, tetapi juga berani memiliki ruang keluarga yang gak selalu melibatkan pasangan.
Di rumah, Raihan menyiapkan meja tanpa kamera atau telepon. Hanin meminta semua orang makan terlebih dahulu agar Aydan gak membaca surat dalam keadaan lelah. Kaif pulang lebih cepat dari rapat dan menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada adiknya.
Aydan meletakkan amplop di tengah meja. Untuk beberapa menit mereka hanya memandang nama itu. Tulisan Nayla menjadi penghubung kecil antara bayi yang pernah dititipkan semalam dan laki-laki dewasa yang akhirnya memiliki hak memilih bagaimana kebenaran memasuki hidupnya.
Dia meminta Raihan memeriksa apakah pelindung amplop masih tersegel. Setelah memastikan semuanya utuh, Aydan menarik napas panjang. Hanin menggenggam tangannya setelah mendapat anggukan. Kaif duduk diam di sisi lain, gak mencoba mencairkan suasana dengan lelucon.
Malam itu, keluarga mereka gak mencari jawaban yang nyaman. Mereka hanya bersiap menerima suara Nayla sebagaimana adanya.