Raka datang ke kantor polisi tanpa menunggu panggilan resmi. Dia membawa koper dokumen yang selalu disimpannya sejak kecelakaan Safar. Wajahnya tenang, tetapi tangannya gemetar saat menyerahkan kunci.
“Darma mengatakan sebagian benar,” ujarnya. “Saya memberikan surat wali Aydan kepadanya.”
Hanin berdiri dari kursi. “Kenapa?”
Raka menjelaskan bahwa malam setelah kecelakaan, Darma datang ke rumah sakit dan menuntut semua dokumen Safar. Raka menunjukkan surat wali palsu yang menyebut Aydan anak kerabat jauh. Surat asli yang menyatakan identitas Safar disembunyikan di tempat lain.
“Saya pikir Darma akan membunuh atau mengambil Aydan jika tau siapa dia,” katanya.
“Mengapa Bapak gak melapor setelah itu?” tanya penyidik.
Raka mengaku takut. Darma menunjukkan foto rumah istri dan anaknya. Selama bertahun-tahun Raka membayar agar keluarganya gak diganggu, lalu membantu Raihan menjaga identitas Aydan.
“Saya melindungi anak itu, tetapi saya juga membiarkan kasus pembunuhan terkubur.”
Aydan menahan dorongan memaafkan cepat. Raka pernah menolongnya, tetapi para korban berhak mengetahui perannya. “Bapak harus memberikan semuanya,” katanya.
Koper Raka berisi surat wali asli, catatan pembayaran Darma, dan satu kaset percakapan dengan Zafar. Raka bersedia menjadi saksi meski tindakannya sendiri dapat diperiksa sebagai penghalangan penyidikan.
Raihan marah karena Raka gak pernah mempercayainya. Raka menjawab Raihan saat itu baru menjadi ayah dan dapat bertindak gegabah. Ucapan tersebut memicu perdebatan.
“Kau mengambil hakku memilih,” kata Raihan.
Raka menunduk. “Iya.”
Penyidik memisahkan urusan hukum dari percakapan pribadi. Raka diminta gak menghubungi keluarga sampai pemeriksaan selesai.
Kaset lama memperdengarkan Zafar menawarkan uang kepada Raka agar mengubah tanggal surat wali. Raka menolak, tetapi gak melaporkan tawaran tersebut. Rekaman juga menyebut Darma memiliki “polis asuransi” berupa daftar semua pejabat penerima uang.
Arsip yang dicuri dari perusahaan kemungkinan berisi pembanding rekening. Jika Darma menjualnya, banyak orang dapat diperas.
Laras mengadakan rapat darurat. Beberapa anggota dewan ingin menutupi keterlibatan Raka karena dia penasihat perusahaan selama puluhan tahun. Kaif menolak.
“Kita baru saja berjanji transparan soal Darma. Gak ada pengecualian karena Raka pernah makan di rumah kami.”
Perusahaan mengumumkan Raka sedang diperiksa dan seluruh keputusan hukumnya akan diaudit ulang. Saham kembali turun. Kaif menerima puluhan pesan yang menuduhnya menghancurkan warisan Raihan.
Raihan sendiri mendukung audit. “Warisan yang cuma bertahan karena rahasia memang harus diperiksa.”
Naufal khawatir dokumen klaim lahannya juga dibuat Raka. Pengadilan menunjuk ahli independen. Hasil awal menunjukkan akta asli, tetapi surat perlindungan Safar memiliki perubahan tanggal yang dibuat Raka untuk menyembunyikan lokasi Kirana.
Naufal merasa kembali dipermainkan. Dia membatalkan percakapan dengan Aydan selama beberapa hari. Aydan menghormati tanpa mengirim pesan melalui Salma.
Di Yogyakarta, Emilia mulai menyadari hubungan jarak jauh melelahkan. Dua panggilan dibatalkan karena pekerjaannya, satu lagi karena pemeriksaan Aydan. Ketika akhirnya bicara, keduanya sudah terlalu lelah.
“Aku takut kita cuma mengirim laporan,” kata Emilia.
“Aku juga.”
Mereka memutuskan satu panggilan tiap minggu gak boleh membahas kasus atau pekerjaan selama tiga puluh menit. Pada panggilan pertama, mereka memainkan permainan tebak gambar. Aydan kalah karena menggambar kucing seperti tikus.
Kedekatan kecil itu gak menyelesaikan jarak, tetapi mengingatkan alasan mereka bertahan.
Polisi menelusuri kapal Darma ke sebuah pulau wisata. Darma menggunakan uang tunai dan berganti pakaian. Reza membantu dengan memberikan daftar tempat yang disukai ayahnya. Dia menolak pengacara keluarga dan memilih penasihat sendiri agar kesaksiannya gak dianggap diatur.
Jejak membawa polisi ke rumah pensiun milik mantan anggota satuan Darma. Rumah kosong, namun sebuah laptop tertinggal. Data menunjukkan Darma menjadwalkan pengiriman arsip kepada wartawan internasional jika dirinya ditangkap.
Penyidik mengamankan salinan, lalu menyadari mekanisme pengiriman masih aktif dari perangkat lain. Darma ingin memakai kebocoran sebagai perlindungan.
Raka menawarkan kode lama yang mungkin menghentikan pengiriman. Polisi menolak membiarkannya menyentuh sistem, tetapi meminta dia menjelaskan pola kata sandi Darma. Gabungan tanggal kecelakaan dan nomor perkara berhasil membuka lapisan pertama.
Di dalamnya ada daftar penerima uang, termasuk Darma, Zafar, Harun, Nurdin, serta seorang hakim yang masih menjabat. Nama Raka gak tercantum sebagai penerima, tetapi terdapat catatan: “Penjaga anak—dikendalikan dengan ancaman.”
Catatan itu mendukung kesaksiannya tanpa membebaskan kebisuannya.
Menjelang malam, Darma menelepon Aydan langsung. Polisi sempat merekam sebelum sambungan berakhir.
“Kalau kamu ingin tau siapa yang menukar mobil Safar, datang sendiri ke gudang lama,” katanya.
Aydan gak menjawab tuntutan. Dia menyerahkan telepon kepada penyidik. Lokasi panggilan mengarah ke gudang yang sudah dibakar, terlalu jelas untuk dipercaya.
Di sana polisi gak menemukan Darma. Mereka menemukan Raka terikat di kursi, padahal beberapa jam sebelumnya Raka masih berada dalam pengawasan.
Seseorang di dalam sistem telah membantu menculik saksi utama.
Kepala penyidikan menghentikan sementara akses seluruh petugas, termasuk orang yang gak dicurigai. Langkah itu membuat proses lambat, tetapi kebocoran kedua dapat membahayakan Naufal serta korban lain. Tim dari wilayah berbeda didatangkan untuk memeriksa rantai pengamanan.
Aydan menerima kabar penculikan Raka dari penyidik, bukan media. Dia marah karena pengawasan dapat ditembus begitu mudah. Namun dia gak meminta nama petugas atau lokasi Naufal. Informasi dibatasi sesuai kebutuhan.
Raihan ingin menunggu di rumah sakit sampai Raka sadar. Polisi hanya mengizinkan pengacara dan keluarga inti Raka. Raihan pulang, lalu menulis semua pertanyaan yang ingin dia ajukan agar kemarahannya gak meledak saat pertemuan nanti.
Kaif meminta Laras memperketat akses perusahaan karena pelaku mungkin memakai kartu lama Darma. Audit cepat menemukan enam kartu mantan anggota komite masih aktif. Semuanya dinonaktifkan dan kelalaian diumumkan dalam laporan internal.
“Ini akan membuat kita terlihat ceroboh,” kata kepala keamanan.
“Kita memang ceroboh,” jawab Kaif. “Laporan harus membantu memperbaiki, bukan membantu kita terlihat baik.”
Pada malam yang sama, kamera rumah sakit menangkap pria berseragam mencoba memasuki kamar Raka. Petugas menahannya sebelum pintu terbuka. Kartu identitasnya palsu, tetapi sidik jarinya cocok dengan mantan bawahan Darma.
Dia menelan racun yang disembunyikan di gigi dan dilarikan ke ruang gawat darurat. Sebelum kehilangan kesadaran, dia menyebut satu nama: Junaidi. Nama itu segera diperiksa.