Nadia mengatakan Diah menghilang pada usia tujuh belas tahun setelah bertengkar dengan Nurdin. Keluarga mengumumkan dia kabur ke luar negeri, tetapi gak pernah menunjukkan bukti. Nadia selama ini percaya adiknya memilih memutus hubungan.
Daftar Darma memuat alamat sebuah panti rehabilitasi lama di luar Medan. Polisi mendatangi lokasi dan menemukan catatan pasien atas nama Diah Pramesti. Dia dirawat selama dua puluh tahun dengan diagnosis gangguan ingatan setelah kecelakaan.
Panti itu ditutup lima tahun lalu. Pasien dipindahkan, tetapi Diah gak tercantum dalam daftar resmi. Seorang mantan perawat mengingat seorang pria berseragam polisi menjemputnya. Foto pria tersebut cocok dengan Darma.
“Mengapa Darma menyembunyikannya?” tanya Aydan.
Nadia menduga Diah melihat Nurdin mengancam Kirana. Ketika Diah hendak melapor, Nurdin menyatakan anaknya sakit dan menyuap dokter.
Pencarian catatan kesehatan mengarah ke rumah pendampingan swasta di Pematangsiantar. Diah ditemukan masih hidup menggunakan nama Maya. Kondisinya stabil, tetapi dia mengalami trauma serta kesulitan mengingat urutan peristiwa.
Polisi gak langsung mempertemukannya dengan Nadia. Psikolog menjelaskan hubungan darah bukan alasan mengabaikan persetujuan. Diah melihat foto lama dan mengenali Nadia, tetapi meminta waktu.
Nadia menghormati, meski menunggu di mobil selama berjam-jam. Dia menulis surat singkat tanpa meminta Diah memaafkan.
Naufal mengetahui Diah adalah saudara tiri lainnya. Peta keluarga Nurdin semakin luas dan penuh orang yang disembunyikan. Dia khawatir klaim lahan akan dianggap perebutan warisan.
“Aku ingin pusat pelatihan tetap milik badan independen,” katanya kepada pengacara. “Bukan dibagi sebagai aset keluarga.”
Dia mengusulkan setelah pengadilan mengakui haknya, lahan dipindahkan ke perwalian publik dengan syarat gak dapat dijual. Sebagian pendapatan sewa membiayai korban.
Kaif mendukung, tetapi memastikan perusahaan membayar sewa pasar. Dewan akhirnya menerima rancangan awal.
Diah bersedia memberi wawancara dengan psikolog hadir. Dia mengingat gudang pelabuhan, Kirana yang menangis, dan Nurdin memukul meja. Darma datang malam itu dan membawanya ke klinik. Obat membuat ingatannya kabur.
Dia juga menyebut sebuah buku biru yang disimpan Nurdin di rumah keluarga. Nadia mengatakan rumah itu telah dijual lama. Pemilik baru mengizinkan pencarian setelah surat perintah.
Di balik dinding ruang kerja ditemukan kotak besi. Buku biru memuat pembayaran kepada dokter, Darma, dan pejabat pelabuhan. Ada catatan bahwa Diah “harus tetap gak mampu bersaksi.”
Temuan tersebut menambah dakwaan terhadap Darma dan membuka penyidikan kepada dokter yang masih hidup. Diah bukan sekadar saksi lama; dia korban penahanan serta pengobatan paksa.
Bu Ratna dan Emilia diberi tahu nama mereka berada pada daftar target Faisal. Bu Ratna memilih pengamanan kantor. Emilia berkonsultasi dengan polisi Yogyakarta dan memilih patroli serta penyaringan tamu, bukan pindah tempat tinggal.
Aydan menerima keputusan Emilia. Dia bertanya apakah kunjungan mereka perlu ditunda. Emilia justru ingin jadwal tetap berjalan selama polisi menilai aman.
“Aku gak mau Darma menentukan kapan kita bertemu,” katanya.
Aydan pergi ke Yogyakarta dengan penerbangan biasa dan gak membawa pengawal tambahan. Pengamanan setempat dilakukan tanpa mengganggu kegiatan mereka.
Pertemuan pertama setelah berbulan-bulan terasa canggung. Mereka saling berpelukan, lalu bingung harus bicara apa. Keduanya terbiasa melihat wajah dalam layar.
Mereka berjalan di pasar, memasak di tempat Emilia, dan membahas hal kecil. Malamnya, Aydan mengaku takut satu tahun akan membuat kehidupan Emilia gak lagi memiliki ruang untuknya.
“Ruang itu gak otomatis ada,” jawab Emilia. “Kita harus sama-sama membuatnya.”
Emilia juga takut Aydan hanya terlihat mendukung, lalu menyimpan kecewa sampai meledak. Mereka setuju membahas rasa rugi tanpa menjadikannya utang.
Kunjungan berakhir dua hari kemudian. Aydan pulang sedih, tetapi gak meminta janji tambahan.
Di Medan, Kaif mempresentasikan hasil cabang pertama. Kerugian menurun, namun pendapatan belum pulih. Laras memberi nilai cukup, bukan istimewa. Kaif menerima dan meminta target perbaikan.
Darma mendengar Diah ditemukan. Untuk pertama kali, dia meminta kesepakatan menyeluruh. Jaksa menolak menutup kasus pengobatan paksa, tetapi membuka kemungkinan mempertimbangkan kerja sama jika Darma menunjukkan semua lokasi korban lain.
Darma menyerahkan daftar tiga orang. Dua sudah meninggal. Orang ketiga bernama Rendi Safaraz, dicatat sebagai “anak yang dipindahkan sebelum Aydan.”
Salma mengatakan gak pernah mengenal Rendi. Raka juga menyangkal nama itu terdapat dalam dokumen keluarga.
Namun buku biru Nurdin mencatat pembayaran kelahiran atas nama Nayla dua tahun sebelum Aydan lahir.
Ada kemungkinan Nayla pernah melahirkan anak lain yang disembunyikan dari Safar—atau seseorang menciptakan identitas itu untuk memindahkan uang.
Aydan meminta Salma gak menyebarkan dugaan itu kepada keluarga besar. Dia ingin melindungi privasi Nayla tanpa menyembunyikan bukti dari penyidik. Salma menyerahkan semua catatan medis lama yang masih dimilikinya.
Nadia mencari nama Rendi dalam arsip Nurdin dan menemukan rekening kecil yang aktif sampai anak tersebut berusia lima tahun. Penarikan dilakukan di Singapura oleh Bagus Rahardja. Temuan itu mendukung kemungkinan identitas Rendi dipakai untuk memindahkan seorang anak, bukan menyembunyikan anak Nayla.
Diah belum mampu membahas nama tersebut. Psikolog menghentikan wawancara ketika dia mulai sesak napas. Penyidik menghormati batas dan gak memaksa ingatan keluar demi mempercepat kasus.
Di tengah penyelidikan, Aydan menelepon Emilia dan mengakui kemungkinan memiliki kakak membuat identitasnya kembali goyah. Emilia gak mengatakan apa pun sebelum fakta ditemukan.
“Kamu tetap Aydan malam ini,” katanya. “Besok, apa pun hasilnya, kamu juga tetap harus memilih hidupmu sendiri.”
Mereka membicarakan hal lain setelah itu. Aydan belajar penyelidikan boleh menjadi bagian hidup tanpa memakan setiap percakapan.
Kaif juga menolak perusahaan mengeluarkan pernyataan tentang Rendi. Nama seorang anak yang mungkin menjadi korban gak boleh dipakai untuk mengalihkan berita krisis keamanan. Laras menyetujui sikap tersebut.
Saat Marni akhirnya ditemukan, dia meminta pengacara sebelum bicara. Polisi menjamin haknya, kemudian menunjukkan kuitansi lama. Perempuan itu menangis karena selama puluhan tahun percaya semua orang yang mengetahui bayi tersebut sudah meninggal.
Kesaksiannya akan menentukan apakah nama Rendi membuka cabang keluarga baru atau sekadar satu lagi identitas yang dicuri Nurdin.
Semua pihak menunggu pemeriksaan resmi.