Auditor memeriksa aset Singapura selama tiga minggu. Hasil awal menunjukkan saham pelabuhan dibeli ketika Aydan baru berusia empat bulan. Nayla tercatat sebagai wali, sedangkan sumber uang berasal dari perusahaan Nurdin.
“Apakah Ibu mencuri uang itu?” tanya Aydan.
Auditor belum dapat menyimpulkan. Transfer dibuat melalui rekening yang juga menerima hasil pengiriman ilegal. Namun ada catatan tulisan tangan Nayla: “Ditahan untuk pengembalian tanah.”
Naufal, Nadia, Diah, dan Adrian mengikuti rapat melalui jalur terpisah. Aydan meminta setiap pihak memiliki pengacara sendiri. Dia gak ingin satu penasihat keluarga menentukan kepentingan semua orang.
Nadia mengenali tanda tangan Nurdin pada surat pengalihan. Menurutnya, ayahnya mungkin memindahkan saham ketika takut diselidiki, lalu memakai nama bayi agar kepemilikan sulit dilacak.
Adrian menolak terlibat dalam pembagian. “Hubungkan saya hanya jika aset memakai identitas Rendi.”
Auditor menemukan satu rekening memang dibuka dengan akta palsu Rendi. Adrian akhirnya menyetujui pemeriksaan, tetapi menegaskan dirinya gak menuntut uang sebelum sumbernya jelas.
Diah mengirim pernyataan melalui pendamping. Dia mengingat Nayla pernah datang ke rumah Nurdin dan menuntut uang korban dikembalikan. Nurdin tertawa dan mengatakan saham sudah ditempatkan “di tangan anak yang gak bisa bicara.”
Kesaksian itu mendukung kemungkinan Aydan dipakai sebagai tempat persembunyian aset, bukan penerima hadiah.
Aydan ingin langsung menyerahkan semuanya kepada dana korban. Pengacaranya mengingatkan tindakan terburu-buru dapat menghilangkan bukti atau menyerahkan aset sah kepada pihak yang salah.
“Membekukan bukan berarti mengambil,” kata Bu Ratna. “Kita menunggu penetapan.”
Aydan menerima. Dia mengumumkan gak akan memperoleh manfaat pribadi selama audit. Pengumuman hanya berisi fakta, tanpa menyebut kondisi Diah atau identitas Adrian.
Media menuduh Aydan berpura-pura bersih. Seorang komentator mengatakan seluruh yayasan dibangun untuk mencuci nama Safaraz. Aydan ingin membalas dengan dokumen, tetapi auditor melarang bukti belum diverifikasi diterbitkan.
Emilia mendengarkan keluhannya melalui telepon. “Kamu gak bisa mengendalikan kesimpulan orang setiap hari.”
“Aku takut korban berpikir aku mengambil uang mereka.”
“Berikan laporan melalui pengawas. Jangan jadikan rasa takut alasan membuka data lagi.”
Aydan meminta Bu Ratna menerbitkan pembaruan mingguan tanpa rincian pribadi. Kepercayaan dibangun lewat proses yang dapat diperiksa, bukan pembelaan emosional.
Kaif memasuki cabang kedua, pusat distribusi terbesar perusahaan. Manajernya, Seno, menolak audit dan mengatakan cabang selalu untung. Angka laba benar, tetapi pegawai lembur tanpa pembayaran serta banyak kecelakaan gak dilaporkan.
Kaif menghentikan target pengiriman selama dua hari untuk pemeriksaan keselamatan. Seno memperingatkan pelanggan akan pergi.
“Kalau laba bergantung pada orang terluka dan diam, angkanya palsu,” jawab Kaif.
Penghentian menyebabkan kerugian besar. Laras mendukung secara prinsip, tetapi meminta rencana pemulihan yang terukur. Kaif membentuk tim bersama perwakilan pekerja.
Audit menemukan perusahaan Seno menyewa gudang milik kerabat dengan harga tinggi. Seno diskors. Beberapa pekerja takut bersaksi karena kontrak mereka sementara. Kaif menjamin perlindungan tanpa menjanjikan pekerjaan tetap otomatis.
Pada persidangan Darma, ahli forensik menjelaskan sabotase rem. Pengacara Darma berargumen dia bermaksud menghentikan pengejaran, bukan membuat tabrakan. Jaksa menunjukkan Darma melarang ambulans dipanggil setelah mengetahui Safar masih hidup.
Salma meninggalkan ruang sidang sebelum foto kecelakaan diputar. Aydan menemaninya ke luar, tetapi gak memaksa dia pulang. Salma memilih kembali setelah istirahat.
“Aku ingin mendengar sampai selesai,” katanya.
Anton mengakui dirinya mematuhi Darma karena dibayar. Dia juga mengatakan Safar sempat menyebut nama Aydan sebelum meninggal. Aydan gak bertanya kata-kata terakhir apa yang tepat; ingatan Anton sudah puluhan tahun dan dapat berubah.
Raihan bangga Aydan gak mengejar satu kalimat untuk dijadikan penutup. “Kau gak membutuhkan kata terakhir Safar untuk membuktikan dia ayahmu.”
Audit Singapura kemudian menemukan surat instruksi Nayla kepada bank. Surat itu meminta saham dijual dan dana dikembalikan kepada tujuh keluarga pemilik tanah jika dirinya gak datang dalam enam bulan.
Bank gak menjalankan instruksi karena Nayla meninggal dan surat dianggap gak lengkap. Nurdin kemudian membekukan rekening melalui pengadilan palsu.
Tujuh nama keluarga cocok dengan daftar korban, termasuk keluarga Ros dan Kirana. Arah aset mulai jelas: Nayla mencoba menciptakan dana pemulihan, tetapi memakai saham yang asalnya tetap tercemar.
Pengadilan memerintahkan aset tetap dibekukan sambil memanggil ahli waris tujuh keluarga. Aydan mendukung tanpa meminta dirinya menjadi pengelola.
Namun satu nama dalam daftar membuat Naufal terkejut: Safar sendiri tercatat sebagai keluarga kedelapan dengan bagian terbesar.
Catatan Nayla menyebut bagian Safar akan diberikan kepada “anak kami dan anak yang kami lindungi.” Itu dapat berarti Aydan serta Naufal.
Untuk pertama kalinya, mereka bukan hanya terhubung oleh rahasia Harun, tetapi mungkin oleh keputusan sadar Nayla yang ingin melindungi keduanya.
Administrator meminta Aydan dan Naufal menulis pernyataan konflik kepentingan. Keduanya gak boleh memilih penilai saham atau menentukan jumlah bagi korban. Naufal menyukai aturan itu karena hubungan baru mereka gak dapat dipakai menekan keputusan.
Salma menemukan kalender Nayla pada tanggal pembelian. Di sana tercatat pertemuan dengan Ros, Kirana, dan dua keluarga pelabuhan. Catatan tersebut mendukung tujuan pemulihan, tetapi tetap harus diverifikasi.
Aydan mendatangi Ros bersama auditor setelah mendapat izin. Ros mengingat Nayla pernah berjanji mengembalikan tanah, namun gak pernah menyebut saham.
“Janji orang mati gak boleh dipakai memaksa saya,” katanya.
Aydan setuju. Setiap keluarga harus bebas menolak bentuk pengembalian yang dirancang Nayla.
Di cabang, pekerja menolak jadwal keselamatan baru karena mengurangi uang lembur. Kaif gak membatalkan aturan, tetapi membuka dana transisi yang berasal dari penghematan kontrak gudang Seno.
Malam sebelum sidang aset, Aydan dan Naufal berbicara tanpa pengacara. Mereka gak membahas angka. Naufal bertanya tentang Nayla, sedangkan Aydan meminta kisah Safar saat membawa buku gambar. Berbagi cerita gak mengurangi bagian siapa pun.
Sebelum pulang, Naufal meminjamkan buku gambar asli untuk dipindai. Aydan menolak menyimpannya lebih dari sehari. Benda itu milik masa kecil Naufal, bukan peninggalan yang boleh direbut karena dirinya anak biologis Safar. Sikap itu membuat Naufal mempercayainya sedikit lebih jauh.
Kepercayaan itu tetap dijaga perlahan.