Ancaman terhadap saksi cabang kedua meningkat. Dua pekerja menemukan ban kendaraan mereka dirusak. Polisi belum dapat menghubungkan kejadian kepada Seno, tetapi Kaif meminta keamanan sementara berdasarkan persetujuan tiap pekerja.
Sebagian menerima pengawalan perjalanan, lainnya memilih pergantian jam. Kaif gak memaksakan satu bentuk perlindungan.
Audit menemukan Seno membangun jaringan pemasok palsu bersama kepala serikat lama. Namun serikat baru juga menuduh Kaif memakai kasus keselamatan untuk mengambil alih cabang.
Kaif mengundang pengawas ketenagakerjaan independen. Laporan mereka membenarkan pelanggaran lembur serta alat rusak, sekaligus mengkritik komunikasi Kaif yang terlalu terpusat pada manajemen.
Kaif menerbitkan laporan lengkap. Dia membentuk forum mingguan dengan perwakilan pekerja yang dipilih tanpa campur tangan perusahaan.
Seno menggunakan media lokal untuk mengatakan cabang akan ditutup. Kepanikan membuat banyak pekerja mencari pekerjaan lain. Kaif mengadakan pertemuan dan mengakui penutupan tetap mungkin jika pelanggan hilang, tetapi belum diputuskan.
“Saya gak akan memberi janji palsu,” katanya. “Kita punya tiga bulan memperbaiki operasi.”
Kejujuran itu gak menenangkan semua orang. Beberapa pergi. Laras menilai Kaif harus menyiapkan rencana cadangan bagi pegawai jika cabang gagal.
Naufal menawarkan pusat pelatihan menerima pekerja teknis yang ingin menambah keterampilan. Kaif memastikan program gak menjadi cara memindahkan biaya perusahaan kepada perwalian publik. Perusahaan membayar biaya pelatihan pasar.
Ros mengawasi perjanjian dan menolak klausul yang mengikat peserta bekerja untuk Safaraz. Kaif menerima revisi.
Aydan mulai membangun studio seni dari bagian asetnya. Dia memilih bangunan sewa kecil, bukan membeli properti mewah. Studio akan menyediakan kelas bagi korban trauma, tetapi pengelolanya bukan Yayasan Jalan Pulang agar batas keuangan jelas.
Bu Ratna mengingatkan Aydan gak menggunakan kisah peserta sebagai promosi tanpa izin. Dia memasukkan aturan tersebut ke pedoman sejak awal.
Emilia meninjau pedoman dari sisi perlindungan data setelah Aydan meminta secara profesional. Mereka menyepakati honor konsultasi pasar. Emilia awalnya merasa aneh menerima bayaran dari pacarnya.
“Ini pekerjaanmu, bukan bantuan hubungan,” kata Aydan.
Kontrak ditangani administrator studio agar keduanya gak mencampur rekening pribadi.
Hubungan jarak jauh membaik, tetapi muncul persoalan baru ketika ibu Emilia sakit ringan. Ayahnya meminta Emilia pulang dan mengatakan pekerjaannya membuat dia melupakan keluarga.
Emilia memeriksa kondisi melalui dokter dan mengetahui ibunya hanya membutuhkan pemantauan, bukan perawatan penuh. Dia menawarkan kunjungan akhir pekan, tetapi menolak berhenti kerja.
Ayahnya menghubungi Aydan untuk membujuk. Aydan meneruskan pesan kepada Emilia tanpa membalas.
“Terima kasih gak menjadi perantara,” kata Emilia.
Dia pulang dua hari, ditemani Mira untuk pertemuan keluarga pertama. Ibunya mengaku rindu tetapi gak pernah meminta Emilia berhenti. Ayahnya menggunakan sakit sebagai tekanan.
Emilia menetapkan semua informasi medis harus datang langsung dari dokter atau ibunya. Ayahnya marah, tetapi gak dapat lagi memakai Aydan sebagai sumber uang.
Di Medan, putusan Raka keluar. Dia dinyatakan bersalah mengubah dokumen dan menghalangi penyidikan, tetapi mendapat hukuman percobaan karena ancaman, kerja sama, serta perannya menyelamatkan Aydan.
Raka menerima. Dia kehilangan izin menangani beberapa perkara dan mengundurkan diri dari seluruh posisi perusahaan.
Aydan bertemu setelah putusan. Raka meminta maaf tanpa mengharapkan hubungan lama kembali.
“Aku belum tau bentuk hubungan kita nanti,” kata Aydan. “Tapi aku gak ingin pura-pura Bapak gak pernah menolongku.”
Mereka sepakat memulai dengan komunikasi terbatas. Kepercayaan gak langsung pulih karena hukuman sudah dijatuhkan.
Pada cabang kedua, polisi menemukan ancaman saksi dikirim mantan pengawas yang dibayar Seno. Seno ditangkap atas intimidasi dan penipuan kontrak. Dia tetap menyangkal.
Tanpa Seno, kepala-kepala bagian mulai membuka catatan ganda. Kerugian sebenarnya lebih besar dari laporan. Cabang dapat bangkrut dalam dua bulan.
Kaif mengusulkan penutupan sebagian operasi dan pengalihan pelanggan. Dewan meminta PHK massal agar biaya cepat turun. Kaif menolak sebelum program relokasi dan pelatihan disiapkan.
Laras memberi waktu dua minggu menyusun alternatif. Jika angka gak cukup, dia harus mengambil keputusan yang paling dihindarinya.
Kaif pulang membawa daftar ratusan nama pegawai. Menjadi pemimpin kini bukan soal mengalahkan kandidat lain. Dia harus menentukan siapa yang tetap memiliki pekerjaan ketika gak ada pilihan yang sepenuhnya baik.
Dia menghubungi konselor pegawai. Dalam sesi pertama, Kaif mengaku lebih takut dibenci daripada gagal secara finansial. Konselor memintanya membedakan tanggung jawab dari kemampuan menyelamatkan semua orang.
Kaif lalu meminta Laras agar pilihan PHK ditinjau serikat dan auditor. Dia tetap menandatangani keputusan, tetapi orang terdampak harus punya suara.
Aydan melihat kakaknya membaca data di ruang makan. Dia hanya membawa teh dan bertanya apakah Kaif ingin ditemani.
“Diam saja,” jawab Kaif.
Mereka duduk tanpa bicara. Dulu keheningan penuh persaingan. Sekarang keheningan dapat menjadi bantuan yang diminta.
Naufal menawarkan pusat pelatihan, tetapi mengingatkan kapasitasnya terbatas. Kaif gak menjadikan tawaran itu jawaban ajaib.
Keesokan pagi, daftar nama diganti dengan daftar fungsi dan kebutuhan operasi. Identitas baru dipertimbangkan setelah kriteria disetujui agar kedekatan, usia, atau peran sebagai saksi gak menjadi dasar tersembunyi.
Keputusan tetap menyakitkan. Setidaknya rasa sakit itu gak dibagikan melalui favoritisme.
Forum pekerja meminta seluruh kriteria diterbitkan sebelum keputusan. Kaif menyetujui dan memberi masa sanggah lima hari. Pegawai dapat memperbaiki data masa kerja, tanggungan, atau keterampilan tanpa memohon pribadi kepadanya.
Laras menilai proses itu lebih lambat, tetapi masih berada dalam batas kas. Dia meminta angka diperbarui setiap hari agar masa sanggah gak berubah menjadi penundaan tanpa akhir.
Kaif mempresentasikan rancangan kepada dewan. Beberapa anggota ingin menghapus pesangon tambahan. Dia menunjukkan biaya hukum serta kerusakan kepercayaan akan lebih besar jika perusahaan memindahkan seluruh kegagalan kepada pekerja.
Raihan gak menghadiri rapat atau menelepon anggota dewan. Kaif menghadapi keputusan dengan dukungan profesional, bukan kekuasaan ayah.
Serikat akhirnya menyetujui proses dengan dua revisi. Kaif menerima keduanya. Daftar akhir belum lebih mudah dibaca, tetapi setiap nama berada di sana setelah kriteria diketahui dan kesempatan keberatan diberikan.
Keputusan bersama itu kini siap dijalankan secara terbuka dan tetap dapat diawasi.