Seorang wanita dengan kardigan merah panjang tengah duduk bersandar pada sebuah kursi. Jari-jemarinya bergerak mengikuti tiap helai kertas dari sebuah buku novel yang dibaca dengan saksama. Setiap bertambah alur cerita, semakin membuat hati wanita itu bergetar namun menambah pula rasa penasarannya. Jeritan-jeritan yang diceritakan oleh sang Penulis seolah terngiang di telinga sebelah kirinya. Tersiratkan suatu kisah pilu dari masa lalu.
Suasana sepi di dalam gedung perpustakaan berlantai dua, dimana Lisa sengaja mampir ke sana sepulang kerja. Sekadar ingin mencari bahan bacaan untuk mengisi aktivitas di kala senggang. Namun waktunya kini sudah malam, sementara Lisa hanya duduk sendiri di antara rak-rak buku yang berbaris rapi. Suara ketikan dari keyboard komputer oleh seorang petugas perpustakaan masih terjaga di sana dengan daftar pekerjaan. Sesekali ada nada notifikasi pesan dari handphone yang cukup mengalihkan kesunyian.
Detik jarum jam di dinding seraya berirama dengan detak jantung yang berdenyut. Suara yang terdengar sangat ringan namun begitu terasa. Entah mengapa rasa kantuknya semakin menggelayuti Lisa.
Tik! Tok! Tik! Tok!
Bunyi itu seolah semakin keras saja, sangat jelas dan semakin perlahan membawa Lisa hingga merasuk ke alam bawah sadar.
Tepat pukul 10 malam. Jam operasional perpustakaan ditutup untuk hari ini. Bergegaslah petugas perpustakaan itu membereskan meja kerja dan bersiap untuk pulang ke rumah. Diambilnya kunci ruangan dari dalam laci. Sebelum pergi ia memeriksa kembali satu ruangan itu. Sudah tidak ada siapa-siapa lagi. Tertinggal sebuah buku novel yang terbuka di atas meja namun dengan sigap ia raih dan meletakkan kembali diantara buku-buku novel yang lainnya. Pergilah si Petugas perpustakaan setelah mengunci pintu dan meninggalkan ruangan yang gelap gulita itu tanpa cahaya sama sekali.
Keesokan pagi muncul sebuah berita baru. Telah terjadi kebakaran yang menghanguskan bangunan di lantai dua gedung perpustakaan yang dikelola oleh pemerintah kota tersebut. Dugaan sementara musibah ini diakibatkan oleh korsleting listrik. Pemadam kebakaran sempat kewalahan memadamkan api karena bangunan berisi banyak bahan yang mudah terbakar dan adanya angin kencang. Hingga berita ini diturunkan, tim pemadam kebakaran masih melakukan proses pendinginan di lokasi kejadian.
Lisa berangkat menuju ke sebuah kedai makan. Setiap hari ia berjalan kaki untuk sampai di tempat kerjanya tersebut. Pagi ini jiwanya diliputi rasa penyesalan. Langkahnya yang cepat di sepanjang trotoar itu terhenti. Lisa memaksa masuk ke dalam kerumunan orang di halaman depan gedung perpustakaan yang ia kunjungi tadi malam. Benar apa yang diberitakan dalam siaran tadi pagi saat Lisa sedang sarapan. Gedung perpustakaan itu telah hangus terbakar. Asap berwarna putih masih terlihat melingkupi seluruh sisi bangunan. Kelihatannya kebakaran itu terjadi cukup besar dalam waktu semalam.
“Mundur! Mundur!” aba-aba dari seorang polisi kepada orang-orang yang berada di sekitar lokasi karena mencoba terlalu dekat.
Lisa menyaksikan sendiri dan mencoba untuk menerima kenyataan yang terjadi. Kalau saja ia tahu semua akan jadi seperti ini, seharusnya tadi malam Lisa langsung pergi meminjam bukunya sehingga bisa membaca novel itu di rumah. Kurang lebih begitulah ungkapan Lisa yang merasa kecewa karena tidak tahu bagaimana akhir cerita dari novel yang telah dibacanya.
Tiba-tiba bunyi sirene mobil ambulans membelah kerumunan warga. Isu kanan-kiri mulai berembus ringan. Seseorang berkata ia mendengar ada satu mayat pria ditemukan di dalam sebuah ruangan yang berdekatan dengan sumber titik api.
Tak lama kemudian beberapa petugas keluar dari lobi gedung perpustakaan yang nyaris hangus tersulut api dari lantai atas. Satu kantong jenazah korban dibawa masuk ke dalam mobil ambulans. Para petugas bekerja dengan hati-hati. Banyak orang yang menyaksikan proses evakuasi ikut menaruh belas kasihan pada orang yang telah menjadi korban kebakaran. Namun identitasnya belum jelas. Tidak ada yang bisa memastikan sampai ada keterangan resmi oleh tim forensik dari rumah sakit dan pihak kepolisian.
Lisa yang tengah mengamati keadaan di sekitarnya, secara kebetulan melihat petugas perpustakaan itu ada di sana. Sosok yang sama-sama berada di dalam satu lantai ruangan dengan Lisa sebelum adanya peristiwa kebakaran. Berdiri dengan wajah pucat, menjauhi kerumunan. Sepertinya ia juga merasa sangat terkejut dengan kejadian ini. Memakai setelan pakaian formal dan tas kantor, jelas menandakan bahwa dia ingin bekerja seperti biasa. Akan tetapi dua orang polisi berjalan mendatanginya lalu petugas perpustakaan tersebut ikut serta, masuk ke dalam mobil patroli. Punggung yang membungkuk dan wajah sedih tak dapat ia tutupi lagi. Langkahnya pasrah mengikuti arahan dari pak Polisi. Orang-orang pun mulai berupaya membubarkan diri sementara gedung hangus itu telah dipagari garis polisi.
Amanda’s resto, tulisan pertama yang menyambut Lisa saat tiba di kedai makan.
“Pagi semua!” sapa Lisa.
“Pagi!” sambut Desi.
Desi tengah duduk di depan meja kasir sambil memakai maskara untuk melentikkan bulu matanya.
“Oh, Hai!” sambung Vina.
Baru saja dirinya keluar dari gudang penyimpanan. Vina langsung menutup pintu.
“Kalian sudah selesai bersih-bersih?” tanya Lisa kepada dua rekan kerjanya tersebut.
“Iya! Habis kamu datangnya telat sih!” jawab Vina dengan nada sindiran.
“Maaf! Maaf! Tadi ada urusan sebentar.” ujar Lisa beralasan.
Suasana belum sempat hening, pemilik kedai makan muncul dari balik pintu masuk. Sapaan selamat pagi kompak mereka ucapkan kepada wanita berumur 38 tahun tersebut. Dialah nyonya Amanda, bos dari keempat karyawan di Amanda’s resto. Gaya berpakaian dan riasannya selalu terlihat elegan di mata orang lain. Namun bagi siapa pun yang telah mengenalnya justru akan menilai sangat berbeda dan berbanding terbalik dengan sifat dan sikap seorang Amanda yang asli jika sudah memasuki ruang kerjanya. Para karyawan pun sudah hafal dan mengerti dengan tabiat bosnya itu. Nyonya Amanda, begitu panggilannya sehari-hari. Ia merasa dirinya seorang yang idealis, namun bagi Lisa, Vina dan Desi beliau benar-benar seorang yang ekonomis. Betapa tidak, ketiganyalah yang sering mengeluhkan kondisi kedai makan tersebut. Entah suhu ruangan yang panas karena tidak ada AC ataupun kipas angin sampai bangunan kedai yang sudah terasa penuh hanya untuk mereka bertiga. Apalagi saat mereka harus bergerak cepat melayani para pelanggan. Tempat tersebut tidak cukup mewah untuk disebut resto. Bahkan bos muda itu sendiri tidak masalah dengan satu ruang kerja kecil terletak di sudut dekat dengan ruang dapur. Sebelum masuk jam kerja, tiba-tiba bos wanita itu membuka topik cerita.
“Kalian sudah tahu kebakaran gedung perpustakaan di ujung jalan seberang sana?” ungkap nyonya Amanda.
“Iya!” tegas Lisa.
Sementara Vina dan Desi seperti kurang tertarik mengulik informasi tentang hal tersebut.
Bos Amanda lalu bercerita seputar isu-isu yang merebak dari media sosial perihal kejadian yang dinilai, memang sengaja dilakukan oleh seseorang. Lisa, Vina dan Desi hanya mendengarkan tanpa peduli apakah berita itu benar atau bohong. Lisa sendiri tak percaya karena ia merasa sebagai pengunjung terakhir dan tidak ada hal-hal atau orang yang mencurigakan. Namun Lisa menyembunyikan cerita yang sebenarnya. Malam itu, untuk menghilangkan rasa kantuknya, Lisa pergi ke toilet sebentar untuk mencuci muka. Toilet itu berada di lantai satu. Setelah selesai dan hendak kembali ke ruang baca di lantai dua, Lisa bertabrakan dengan seseorang di anak tangga bawah. Pria asing itu memakai masker yang menutupi hidung serta mulut, bertopi warna hitam sambil menggendong sebuah tas ransel di punggungnya. Lisa mengira orang tersebut sebagai pengunjung dan ingin naik ke lantai atas pula. Tak diduga ia berlalu meninggalkan Lisa begitu saja tanpa ada kata maaf apalagi sekadar melihat kondisi orang yang baru saja tertabrak olehnya. Lisa yang terduduk di lantai sebab jatuh baru tahu bahwa orang tersebut ternyata masuk ke dalam ruang khusus karyawan di lantai satu. Mungkin pria itu juga merupakan salah satu pegawai di perpustakaan.
Lisa melihat ke arah jam tangannya. Pukul 10.08 malam. Bergegaslah Lisa naik ke lantai dua untuk mengambil buku novel yang ia tinggalkan di atas meja. Namun pintu ruangan itu sudah terkunci dan di dalamnya tampak gelap. Tiba-tiba semua lampu padam. Jangan sampai Lisa terjebak di gedung ini semalaman. Cepat-cepat ia turun ke lantai satu dengan cahaya senter dari ponselnya. Sementara lain petugas perpustakaan telah menyerahkan kunci kepada staf di bagian resepsionis.
Lelah cukup dirasakan oleh Lisa sesampainya di rumah. Terbaring ia di atas tempat tidur dan baru terbangun saat alarm berbunyi tepat jam 5 pagi. Barulah Lisa tahu bahwa gedung perpustakaan yang dikunjunginya telah dilalap api dari siaran berita di televisi.
“Ada yang bisa membantu saya mencuci sayuran?”
Tiba-tiba pak Tomo keluar dari pintu dapur dengan ekspresi wajah lugu dan nada bicaranya yang tenang. Beliau adalah juru masak di Amanda’s resto. Meskipun sudah banyak umur, pak Tomo baru enam bulan bekerja di tempat tersebut. Kedai makan yang telah dua tahun berdiri ini menjadi rumah ke dua bagi pak Tomo. Kemunculannya tiba-tiba mengubah suasana sementara Lisa buru-buru mengakhiri ceritanya. Dengan senang hati Lisa kemudian membantu pekerjaan pak Tomo mencuci semua sayuran yang akan menjadi sajian pelanggan hari itu.
Kasus kebakaran gedung perpustakaan masih menjadi misteri. Apakah nanti, Lisa akan dijadikan sebagai saksi?