Tanggal merah seharusnya menjadi hari libur yang menyegarkan, tapi di pagi ini Ervan sudah dibuat kesal. Ia semakin merasa tidak nyaman ketika harus mengingat lagi, kebahagiaan keluarga Niko bersama semua orang di Amanda’s resto semalam. Terlebih perlakuan baik yang ditunjukkannya maupun bu Melati kepada Lisa. Ervan pun mulai sembarangan membongkar dekorasi ruang dari pandangan. Pegawai kedai makan lainnya tidak mengerti dengan perubahan sikap Ervan, sangat bertolak belakang dari yang mereka kenal. Sekarang pemuda itu tampak sebagai pribadi yang kasar dan pemarah di mata Vina, Desi juga pak Tomo. Sedang Lisa sendiri, sudah pernah menyaksikan sisi buruk dari seorang Ervan beberapa hari ke belakang.
Menanggapi suasana yang tidak menyenangkan ini, Desi tiba-tiba menginisiasi pendapat bahwa akan lebih bagus jika bunga-bunga meja itu menjadi dekorasi tetap Amanda’s resto. Bahkan kalau nyonya Amanda berkenan, seluruh hiasannya tidak ada yang perlu disingkirkan. Menurut Desi, para pengunjung pasti akan senang. Bos juga bisa tenang karena semua adalah barang gratisan.
“Ini semua adalah barang tak berguna yang hanya akan memenuhi tempat makan! Bisa-bisanya kamu menyamakan selera pengunjung.” Ervan menentang dengan culas.
“Saya setuju dengan ide yang Desi utarakan.” ujar nyonya Amanda, tiba-tiba masuk dari pintu depan.
“Bos!” Desi menjadi terharu.
“Ternyata wanita itu ikut datang juga!” gumam Vina yang didengar oleh Desi.
“Kita harus memanfaatkan barang bagus ini. Niko memang sudah menyerahkan sisanya kepada saya. Kamu brilian, Desi!” sanjung nyonya Bos di sana.
“Tapi, kamu salah menyebutnya dengan barang gratisan. Seorang Amanda tidak pernah menyia-nyiakan uang. Jadi Ervan, bereskan semua ini kemudian simpan dengan baik di dalam gudang! Tidak, tunggu dulu! Kalian simpan di ruang atas saja. Saya akan coba membuat promosi ke kawan dan relasi. Siapa tahu ada yang berminat menyewanya untuk beberapa acara ke depan.” rencana bisnis baru yang terpintas oleh si Amanda.
“Tapi, bukan begitu tadi maksudnya!” keluh desi yang hanya didengar oleh Vina.
Setelah ditinggal ke ruang pantry, semua karyawannya kembali bekerja. Ervan masih tampak kesal sementara Lisa hanya tahu dari kejauhan. Ia sendiri baru sibuk mencuci piring dan perabotan lain. Berdiri kukuh di depan wastafel dapur yang tak lagi penuh.
“Ervan!” teriak Vina, karena Ervan keluar kedai sambil menutup pintu depan dengan keras.
“Ada apa sih sama satu anak itu?” heran si Desi.
“Tahu, ah! Ayo Des, kita bawa ke atas!” ajak Vina untuk bergotong royong.
Dua pegawai wanita bolak-balik ke ruangan atas memindahkan bunga-bunga imitasi. Sementara Ervan di luar, melepaskan rangkaian lampu hias yang terpajang pada dinding bangunan. Pekerja laki-laki itu harus menaiki tangga bantu berulang kali. Naik, turun hingga menggeser tangga lipat dari bahan aluminium sendiri. Saat emosi Ervan tak kunjung mereda, Lisa keluar dengan celemek cuci anti air yang dikenakannya. Dia mengulurkan bantuan kepada Ervan. Setelah sang Koki muda turun kaki menginjak bumi, Lisa lantas memindahkan tangga lipatnya ke sebelah kiri. Gadis itu memegangi tiang aluminium dengan kuat, mempersilakan temannya untuk segera kembali naik dan mencopot lampu kerlap-kerlip di atas.
Akan tetapi, Ervan tidak segera menjejakkan sepatunya pada anak-anak tangga.
“Kenapa kamu berhenti?” tanya Lisa.
Ervan lamban menjawab, sampai Lisa hampir menaiki sendiri pijakan kaki pada alat bantu di tempat ia berdiri.
“Kamu menyimpan kata-kataku kemarin, kan?” Pertanyaan Ervan yang menghentikan niatan Lisa.
Pelayan kedai makan tersebut merenungkannya sejenak. Kemudian dengan tatapan ikhlas, ia menghadap ke arah Ervan. Lisa berkata, “Kalau dengan hal itu bisa membuatmu bekerja dengan lebih baik seperti biasa, aku pasti akan mengingatnya.”
“Dan menepatinya?” tagih Ervan.
“Baiklah! Aku akan menepati pesanmu untuk tidak dekat-dekat dengan kak Niko.” janji Lisa.
“Bukan sebatas tidak dekat-dekat saja, tetapi kamu harus menjauhinya!” pertegas Ervan.
Lisa mulai gerah dengan sifat Ervan yang menjadi tukang paksa. “Sudah! Aku telah berucap sesuai janjiku tadi. Sekarang cepat kamu selesaikan pekerjaan ini! Sebelum bos Amanda pulang, semuanya sudah harus tertangani.” beritahu si Rekan kerja itu.
Ervan kini terlihat giat dan selaras dengan image dirinya yang dikenal baik dan pekerja keras. Segala jenis pekerjaan di-handle olehnya sehingga Lisa, Vina, Desi dan pak Tomo bisa pulang tepat pada waktunya. Pukul 11 siang saat itu, nyonya Amanda akan ada acara keluarga di rumah orang tuanya. Beliau bergegas pergi dengan mobil pribadi setelah menitipkan kunci kepada Vina. Pak Tomo juga pulang cepat agar bisa menemani cucunya belajar naik sepeda. Tinggal Vina, Desi, Lisa dan Ervan yang masih nongkrong di depan lokasi kedai makan.
“Kalian mau ke mana setelah ini?” tanya Vina.
“Aku tidak ke mana-mana.” jawab Lisa.
Sementara Desi terus berpikir. “Ehm.., bagaimana kalau kita hang out ke mall? Ada event spesial minggu ini. Bahkan ada diskon besar-besaran katanya!” antusias gadis yang selalu ingin tampak ceria tersebut.
“Boleh! Aku setuju-setuju saja mumpung masih ada duit juga. Lisa, kamu bagaimana?” perhatian dari Vina.
“Enggak deh! Aku mau pulang ke rumah saja.” tolak Lisa terhadap ajakan kedua teman.
“Kalau kamu, Van!” sentil si Vina.
“Aku juga tidak ikut. Aku sudah ada rencana lain hari ini.” Ervan beralasan.
“Eh? Ada apa kalian berdua ini? Diajak senang-senang malah tidak mau. Kurang seru kalau cuma kami berdua yang pergi!” gerutu teman Lisa yang paling berani bicara tersebut.
“Maaf! Lain kali saja, ya?” lisan Lisa yang merasa telah mengecewakan Vina.
“Tidak apa-apa kok, Sa! Kamu tenang saja. Nanti Vina pasti akan sangat bersyukur bisa berjalan-jalan denganku.”
“Aku ini sahabat terbaikmu Vina, jangan pernah lupakan itu! Kamu lihat kan, riasan wajahku yang cantik dan pakaianku yang modis? Setelah ini, kamu pasti dapat cowok pertama kali di sana karena kamu memiliki teman seperti Aku.” semangat Desi.
“Wuaaaaa! Air mataku sampai ingin menetes mendengar kebaikanmu, Des! Kecantikan hati semacam apa ini? Apakah ada yang punya kantong kresek? Rasanya aku mual.” ujar Vina mencandai sifat terlalu percaya diri seorang sahabat.
Lisa dan Ervan tertawa melihat kejahilan Vina dan reaksi Desi yang ngambek. Dua gadis itu kemudian pergi menuju halte terdekat.
“Dah! Bye bye!” pamit Vina dilanjutkan oleh Desi.
“Dah!” lepas si Lisa yang ditinggal berdua dengan Ervan.
Lisa beranjak pula dari tempatnya. Ia benar-benar ingin pulang ke rumah. Namun sepertinya, Ervan sengaja ingin mencegah.
“Kamu tidak ingin main-main dulu seperti mereka?” basa-basinya.
“Main? Memangnya aku anak sekolahan!” tepis Lisa.
“Maksudku bukan seperti itu. Aku, ingin mengajakmu pergi.” kata si Ervan dengan cukup berani.
Lisa agak tersenyum mendengarnya. “Tapi, bukannya kamu ada rencana lain setelah dari sini?”
“Iya! Dan rencanaku itu adalah menghabiskan sisa hari libur ini bersama kamu!” ungkap pemuda tersebut dengan malu-malu.
Lisa merasa sedikit tersipu. “Aku pikir, kamu akan terus memarahiku.”
“Tapi, aku hanya mau melakukan ini karena kita sebagai teman!” tawar Lisa.
Ervan pun mengangguk saja dengan senyuman. Ia merasa lega setelah takut hampir ditolak oleh Lisa. Mereka lalu berjalan bukan ke arah jalan pulang. Dalam suasana berdua seperti itu, Lisa mengungkapkan rahasianya kepada Ervan. Ia tidak bermaksud menolak ajakan Vina dan Desi, tapi berada di tempat keramaian seperti mall membuat Lisa tidak merasa aman. Entah mengapa, ia juga tidak tahu secara pasti. Mungkin hanya perasaannya saja atau karena pernah mengalami trauma semasa kecil.
Ervan tidak banyak memberikan kalimat tanggapan. Pria itu hanya banyak mendengarkan dan memaklumi kondisi Lisa. Ia menerima pribadi Lisa apa adanya.
“Eh, tunggu! Kamu tidak mengajakku ke tempat seperti itu juga, kan?” setop Lisa.
Teman laki-laki di sisi kanannya tertawa. “Tidak! Aku hanya ingin mengajakmu berjalan-jalan di sekitar danau. Tidak terlalu ramai dengan orang, bukan?” ujar Ervan.
Lisa kemudian dengan senang menyetujui pendapat si Teman. Keduanya terus berjalan kaki menuju danau yang menjadi wisata alam di tengah kota. Sambil menunggu Ervan yang membeli karcis masuk, Lisa terpikir untuk bertanya mengenai sesuatu. Tentang perselisihan di antara kedua pria yang sama-sama belum cukup dikenalnya itu.
“Ervan! Kak Niko! Siapa kalian sebenarnya?” pikir si Lisa.
Ketika Ervan sudah kembali kepada Lisa, ia segera mengajak masuk. Gadis tersebut jadi tidak sempat untuk bertanya. Ervan buru-buru mencari sudut lokasi yang tepat untuk menikmati waktu piknik di siang hari. Dia berusaha mencari keteduhan yang belum oleh orang lain. Lisa merasa aneh dengan tingkah laku Ervan, tampak seperti orang kelimpungan.
“Kamu kenapa sibuk sendiri begitu?” tanyanya kepada Ervan saat berdiri bebas menghadap danau.
“Aku ingin mencari tempat yang bagus untuk kita duduk.” jelas si Ervan.
Awalnya Lisa membatin. “Bukankah tujuan awal kita adalah berjalan-jalan?”
“Kenapa harus terburu-buru mendapat tempat untuk beristirahat? Kita juga baru sampai. Aku masih ingin berkeliling.” kata Lisa.
“Kau benar!” terima Ervan dengan lapang.
Muda-mudi sebaya lanjut menikmati angin semilir yang meniup dari tengah danau. Di saat seperti itulah, Lisa memulai pembicaraan yang lebih serius.
“Van!” sebutan suku kata terakhir dari nama panggilan Ervan.
“Hehm!” responsnya tanpa penasaran.
“Bolehkah jika kali ini, kamu bersedia memberitahuku sebab permasalahanmu dengan kak Niko? Maaf, kalau aku terus saja menyebutkan namanya di depanmu! Tapi, aku merasa risi mengetahui dua orang yang berbuat baik kepadaku justru saling bertengkar di belakang.” ungkap Lisa secara jujur.
Bisa dinilai perilaku dan wajah Ervan yang berusaha keras menahan amarah. Ia lantas menghirup napas yang panjang lalu mengembuskannya bersama energi negatif dari dalam hati. Ervan lantas berteriak sekuat tenaga. Lisa terkejut. Seketika pula merasa was-was sekaligus malu karena semua pasang mata memperhatikan mereka.
“Ervan! Hentikan! Orang-orang akan mengira kita berbuat aneh.” tegur Lisa sambil menahan diri.
Ervan tak mau mendengar, sampai Lisa menarik-narik lengan bajunya.
“Sekarang aku sudah merasa puas. Kamu juga bisa mencobanya!” saran ilmiah dari Ervan.
“Ha?” bingung Lisa.
Pria itu tersenyum lebar sembari menertawakan dirinya sendiri.
“Hah! Sekarang aku sudah menentukan tempat yang pas. Ayo kita menggelar tikar di bawah pohon sana!” ajak Ervan lalu asal menggandeng tangan Lisa.
“Kenapa tiba-tiba begini?”
“Dia masih waras, kan?”