Hatinya selalu bimbang tiap kali terbersit wajah Ervan. Bertemu lagi setelah hari kemarin, Ervan juga tak menunjukkan keseriusan secara lebih lanjut. Apa Ervan sekadar main-main atau hendak menjalin hubungan dengan Lisa sebagai langkah paling efektif agar bisa membatasi pergerakan dari pasangan? Kini pria itu terus mengambil jarak dengan Lisa. Dia benar-benar hanya menunggu hari esok datang untuk mereka bisa bicara sepenuhnya.
Setelah penemuan salah satu indikasi bukti awal sebuah kasus, hampir dikira Ervan tidak akan masuk kerja. Nyatanya dia tetap berani datang dan menampakkan wajah dengan percaya diri. Walaupun Ervan tak seramah hari-hari sebelumnya, pun selama bekerja ia sama sekali tak pernah meninggalkan ruang dapur. Seketika saja bertolak belakang dengan apa yang pernah disampaikan oleh Desi pada beberapa waktu lalu. Para pegawai kedai makan itu juga bekerja seperti biasa. Seolah tidak pernah ada pesta apa-apa yang terjadi pada dua malam lalu.
Kesibukan yang tak terlalu sibuk ini, tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan seorang ber-jas hitam dengan dasi merah dan koper di tangan. Dia memasuki pintu kedai dengan rasa ingin tahu akan keberadaan orang yang dicari. Desi amat terkejut melihat sosok berdiri agak melenceng dari depan meja kasirnya. Desi tidak menanyakan tentang pesanan menu. Keduanya membahas tema yang lain. Banyak waktu bagi mereka untuk berbincang, sampai seorang pengunjung baru yang datang terus lewat saja karena tak terlayani oleh Desi. Sang Kasir hanya mempersilakan masuk dan langsung menempati meja makan. Desi sengaja membiarkan Lisa atau Vina yang mengantarkan daftar menu sekalian memenuhi pelayanan selanjutnya. Gadis mesin kasir itu masih bicara berdua saja. Tampak jika ada pembicaraan yang serius, meski teman-temannya tak bisa mendengarkan secara langsung.
Akhirnya pria yang sudah terlihat sangat layak punya keluarga tersebut, mencari satu kursi kosong untuk ia duduk. Kemudian entah ada apa, Desi pun menuju ke ruang kantor bos Amanda yang berada sempit di pojok lantai bawah ini. Begitu singkat untuk menunggu, si Pemilik kedai makan keluar dan mematung beberapa detik di depan pintu. Desi yang menutupkan pintunya lantas berjalan cepat ke arah satu orang tamu. Ia menyampaikan pesan dari bos. Sang Tamu setuju.
Nyonya Amanda membawa tamunya ke ruangan di lantai atas kemudian menutup pintu dengan was-was.
“Des! Tadi itu siapa?” tanya Lisa penasaran.
“Beliau adalah mantan suami bu Amanda!” bisik si Desi.
“Yang benar? Untuk apa mereka kembali bertemu di sini!” heran si Penanya.
“Aku juga tidak tahu, Sa! Memang aku ini siapanya mereka?” sembrono Desi. “Oh ya, nanti sepulang kerja jadi ngobrol di luar? Kamu mau membicarakan masalah apa?”
“Ehmmm, aku tidak bisa mengatakan semua di sini. Tapi, ini mengenai Ervan!” kata Lisa dengan lirih.
Mata Desi membelalak. Ia semakin beranggapan bahwa penilaiannya terhadap hubungan Lisa dan Ervan adalah benar. Namun Lisa belum lagi memberitahu Desi tentang macam-macam tendensi. Kemudian dua pegawai resto itu hanya kembali bekerja, tanpa masalah kecil yang terlalu berat untuk dipikirkan.
-----
Jam sebelas belum masa yang tepat untuk bermalas-malas. Istirahat makan siang masih satu jam lagi. Tapi tiba-tiba, wajah tampan itu datang. Kak Niko hadir dengan membawa alasan keluarga.
“Kak Niko juga mau bertemu dengan nyonya Amanda? Tapi sayang, beliau baru ada tamu sekarang!” tukas Desi.
“Begitu, ya! Kalau Lisa tidak sedang ada tamu, kan?” Niko berbalik tanya yang mengalahkan prasangka Desi.
Penjaga mesin kasir itu hanya bisa mengangguk dan menahan rasa malu karena sok tahu. Niko berjalan mendekati Lisa yang tengah menyajikan makanan di meja pengunjung. Ia meminta waktu untuk berbicara dengan Lisa sebentar setelah urusan ini. Belum dapatkan jawaban, Niko langsung menyingkir dan berdiri menunggu di dekat tangga bawah.
Satu menit saja saat yang tepat bagi Lisa untuk datang menghadap. Niko mengajak Lisa ke rumahnya. Kata dia, bu Melati sendiri yang meminta. Lisa gagap untuk membahas keinginan beliau sekarang, karena ia maupun kak Niko sendiri pun tahu bahwa ini bukan waktu yang tepat. Namun laki-laki di hadapan Lisa bilang kalau tidak bisa pulang tanpa membawa serta dia yang diharapkan oleh ibunya. Lisa coba menawar waktu, dan sekali lagi kak Niko tetap memohon hanya untuk sekarang juga. Ibunya tengah mempersiapkan segala jamuan untuk si Tamu. Lisa yang mendengarnya semakin tak enak hati. Tapi harus bagaimana? Kalau kak Niko berhasil memintakan izin kepada bos Amanda, Lisa berkata akan bersedia.
“Kalau begitu kamu bersiaplah dulu! Aku akan menanyakannya kepada Amanda.” pesan kak Niko.
Sementara Lisa berganti dari pakaian kerjanya, ternyata Niko hanya meninggalkan permintaan izin itu melalui Desi. Beralasan karena nyonya Amanda masih berurusan dengan tamu di atas. Saat Lisa sudah siap dan menghampirinya lagi di dalam resto, kak Niko bahkan sudah tidak ada.
“Kak Niko menunggumu di mobil, Sa!” beritahu Desi.
Lisa ingin memastikan. “Bos sudah...?”
“Sudah, pergi dulu sana!” potong Desi tak mau terlalu peduli.
Lisa keluar. Bersamaan itu, nyonya Amanda pun turun tangga dengan sang Mantan suami. Dalam kejapan mata, ia sempat mendapati karyawannya yang menutup pintu kaca resto dari luar.
“Mau ke mana Lisa?” tanya Amanda kepada Desi.
“Lisa pergi dengan kak Niko.” jawabnya begitu saja.
Si Bos hampir naik pitam. Namun Desi segera menjelaskan bahwa tadi kak Niko sendiri yang memohonkan izin. Jadi sebagai sesama teman, dia rasa tidak akan ada masalah dengan nyonya Amanda. Kak Niko berjanji untuk satu hari ini saja. Ia tidak akan mengulanginya sebab sekarang hanya untuk memenuhi permintaan ibu Melati yang tak siap jika ditolak. Suatu hari Niko pasti punya alasan untuk bisa mengatasinya.
Terus, bagaimana dengan janji Lisa dan Desi nanti malam? Masalahnya baru terpikirkan. Sedangkan pria yang akan menjadi topik diskusi itu justru terlihat begitu serius melakukan segala pekerjaannya bersama pak Tomo hari ini. Ervan bahkan sama sekali tidak tahu jika Niko membawa Lisa pergi.
-----
Letak rumah yang terpencil. Kediaman keluarga Niko harus melewati jalan aspal panjang nan berkelok, untuk mencapai satu rumah yang berdiri gagah di ujung deretan hutan pinus. Tampak penuh misteri sebab tak ada tetangga kanan-kiri. Rumah yang terkesan mewah dengan tetap mempertahankan corak tradisional pada desain gapura dan pintu gerbangnya. Setelah mobil Niko yang membawa Lisa masuk ke area halaman, ibu Melati sudah siap menyambut kedatangan mereka berdua. Beliau tersenyum melihat Lisa yang turun dari mobil dan berjalan bersama Niko untuk menemuinya.
Ibu dari kak Niko tersebut mengajak Lisa masuk ke dalam rumah. Dengan menyembunyikan rasa takut dan malu-malu, Lisa melirik kepada kak Niko yang juga mempersilakan dia untuk mengikuti arahan dari sang Ibu. Di dalam ruang tamu, Lisa melihat ada begitu banyak lukisan bunga dan pemandangan alam yang terpaku pada dinding nan luas. Sepertinya keluarga kak Niko sangat menyukai sesuatu hal yang berkesan natural untuk menjadi hiasan rumah.
Bu Melati lalu menunjukkan foto besar dari keluarganya pada masa lampau. Beliau dan suami masih tampak muda sekali. Kak Niko juga terlihat manis dari gambar 20 tahun silam tersebut. Akan tetapi, ada satu lagi anggota keluarga mereka. Seorang anak yang dipangku oleh sang Nyonya, tidak terlihat asing dalam ingatan Lisa. Seperti tahu isi pikiran seorang gadis di sana, bu Melati menerangkan sosok paling kecil dalam bingkai fotonya.
“Namanya, Bima. Dia adiknya Niko. Usia waktu itu baru mau 5 tahun. Tapi Bima sudah harus meninggalkan kami karena menderita epilepsi. Semua terjadi karena sebuah keteledoran. Seharusnya saya tidak menguncinya di rumah sendirian saat semua orang pergi. Saya hanya berniat keluar sebentar untuk ke swalayan, Niko masih di sekolah sedangkan ayah mereka bekerja. Pulang-pulang ketika membuka kunci pintu, Bima sudah tergeletak di bawah jendela ruang tamu.” pilu dan sesal ibu kandung tersebut.
Kak Niko berupaya menenangkan bu Melati dan pasrah bahwa hal ini sudah menjadi takdir keluarga mereka. Termasuk bagaimana kedua anggota keluarga yang tersisa itu, juga telah kehilangan sosok bapak Arya. Ibu Melati pun sadar. Sekarang bukan waktunya lagi untuk menampakkan kesedihan. Apalagi ia sedang memiliki tamu. Beliau lantas meminta maaf kepada Lisa.
“Bu Melati tidak perlu meminta maaf. Saya bisa memahami perasaan Anda!” jawab si Lisa.
Beliau menahan air mata yang hampir jatuh lalu mengalihkan suasana. “Oh, ya! Ibu mau cek Bibi di dapur sudah selesai semua apa belum. Niko, kamu ajak Lisa berkeliling rumah terlebih dahulu! Nanti kalau sudah siap, Ibu panggil kalian.” pintanya.
“Maaf! Saya jadi merepotkan bu Melati saja.” ucap Lisa bersikap merendah.
“Tidak sama sekali, Lisa! Saya justru sangat senang kamu mau memenuhi undangan mendadak ini. Saya yang harusnya minta maaf karena mengambil waktu kerja kamu.” Penjelasan dari ibunya kak Niko.
Kedua wanita itu saling memaklumi dengan kehangatan hubungan yang terpancar. Bu Melati kemudian izin ke belakang, sementara kak Niko mengarahkan Lisa untuk melihat-lihat hutan terbuka di belakang rumah mereka.
Dalam bayangan Lisa hanya ada hutan pinus seperti yang ia lewati sebelum ke sini. Namun kenyataannya lebih tepat jika disebut sebagai kebun buah-buahan daripada hutan. Beragam jenis pohon buah di lahan belakang rumah itu, sebagian sudah tampak berbuah matang. Satu lorong jalannya dipayungi oleh sulur dan daun tanaman anggur yang merambati para-para sehingga terarah dan rapi. Sedikit kecewa karena belum berbuah lagi, namun tak menghilangkan estetika yang direkayasa. Lisa dan Niko berjalan di bawahnya seolah sepasang mempelai, hendak menuju pelaminan.
Kak Niko ingin menunjukkan kepada Lisa sebuah pohon pada sudut jalan tersebut. Hingga sampailah mereka di bawah pohon yang begitu kuat menyangga posisi bangunan kayu yang dibangun pada dua cabang kokohnya. Karena amat penasaran dengan kondisi di dalam rumah pohon tersebut, Lisa memohon satu kali kesempatan. Kak Niko dengan bebas membolehkannya untuk naik ke atas dan melihat-lihat. Tetapi, Niko juga memperingatkan. Mungkin keadaan di sana sedikit berantakan dan kotor sebab kak Niko sudah belasan tahun tak pernah menempatinya lagi.
Lisa terima apa adanya lalu menaiki anak tangga yang juga terbuat dari kayu. Ia hampir terpeleset dan kak Niko menyuruhnya untuk berhati-hati. Saat Lisa berhasil masuk, ditengoknya banyak gambar pada kertas yang tertempel di mana-mana. Bahkan ada beberapa yang terlepas dan jatuh terbalik pada lantainya. Lisa berdiri di depan lubang persegi jendela rumah pohon dan menikmati udara serta pemandangan sekeliling dari atas sana.
Saat santai sendiri, tiba-tiba kak Niko juga ikut naik dan masuk ke dalam rumah pohon.
“Sedang apa?” tanya kak Niko lalu mendekat ke lubang pintu berbentuk persegi panjang vertikal.
“Tidak! Hanya main-main saja. Saya selalu suka dan penasaran dengan yang namanya rumah pohon.” jawab si Lisa dengan antusiasme.
Mereka terdiam untuk beberapa saat.
“Cukup berangin ya, di sini?” celetuk si Niko.
“Iya!” sambut Lisa pendek saja.
Tak lama, terdengar dering telepon masuk dari ponsel kak Niko. Bu Melati yang memanggil dari ruang makan keluarga. Kemudian, Lisa bersama Niko kembali ke rumah utama. Mendapatkan suasana yang lebih nyaman, hangat dan nikmat dengan hidangan makan siang yang telah disajikan.