Sisi teratas matahari muncul di atas ufuk sebelah timur. Cahaya merah, oranye dan kuning berhamburan lebih lama sehingga menembus bumi yang berselimut. Lisa, kini menutupi kecanggungannya selama bersandar pada pagar tembok rumah tetangga. Ia berdiri berdampingan dengan Ervan di sana. Mereka saling diam, sampai akhirnya Lisa yang mendahului pembicaraan.
Tanpa disangka, Lisa terus terang saja menanyakan perihal keberadaan Ervan pada malam sebelum kecelakaan itu. Dia sebenarnya datang ke tempat yang dijanjikan atau tidak. Jika Ervan tahu bahwa Lisa sudah terlalu lama menunggu, mengapa tidak juga ada kata maaf dari mulutnya? Ervan yang pernah mengira Lisa kehilangan ingatan dan melupakan segala hal tentangnya, saat ini mau berkata jujur. Diceritakan lagi bahwa motor yang dikendarai mengalami macet sehingga ia memilih untuk berlari-lari hingga ke jalan besar menuju stasiun Menara. Tapi pemandangan yang justru Ervan dapatkan ialah sebuah kendaraan roda empat yang sembarang menabrak tubuh Lisa dari belakang. Setelah berpisah dari Lisa dengan gestur punggung yang membungkuk juga kepala tertunduk, gesit Niko berbalik badan menuju ke arah mobilnya. Terlihat darurat langkah kaki penuh amarah, meyakinkan niat buruk yang didorong oleh hawa nafsu. Kemudian pengemudi mobil silver tersebut, pun mendadak melaju kencang. Membanting setir ke sebelah kiri, dan setelah itu tahulah mereka bertiga apa yang mesti terjadi.
“Apa karena kak Niko adalah anak dari orang yang telah memfitnah ayahmu, lantas kamu juga tega menjatuhkan fitnah kepadanya?” bela si Lisa.
“Eh! Aku tidak sedang membuat fitnah. Aku,...” ujar Ervan terputus ketika hendak menjelaskan duduk perkara.
“Sudah, Van! Aku sedang tidak ingin bertengkar. Kita lupakan saja apa-apa yang buruk dan sudah terjadi pada kehidupan kita sebelumnya. Mau kamu nanti benar-benar divonis salah atau apa pun itulah! Mulai sekarang aku hanya ingin mengenalmu sebagai rekan kerja yang baik. Jadi, mari kita hapus semua dendam dan rasa benci di dalam sanubari!” tutur Lisa, berupaya arif memahami situasi.
Ervan tetap keras kepala. “Tapi yang salah memang harus dapat hukuman, bukan? Niko! Aku lihat sendiri, dia sengaja ...”
“Jika begitu, berarti kamu juga meminta untuk dihukum?” dakwa Lisa.
“Nama itu. Bagaimana bisa bulan juli 2021 kamu sudah mengenal pak Arya, ayah kandung Niko. Padahal kita baru pertama kali bertemu dan mengenalnya pada awal bulan Oktober tahun ini. Semua yang kak Niko katakan tentangmu, sebenarnya aku tidak bisa terima. Tapi aku sendiri juga tak sanggup untuk membantahnya. Aku ini tidak tahu apa-apa! Tidak punya alasan yang benar!” tegas seorang Gadis yang merasa lemah menangani masalah.
“Benci rasanya! Kenapa aku jadi jengkel sekali seperti ini?” ratap Lisa pada diri sendiri.
Pria di sana menyunggingkan senyum di sudut bibir. “Kau tadi bilang tidak ingin bertengkar!” tegur Ervan dengan nada merendah.
Lisa kembali mengatur pola pernapasannya yang berlebihan. Tiba-tiba Lisa merasa tidak enak badan. Ia merasa pusing hingga rasa kebas pada tangan dan kaki. Ervan memahami kondisi mental Lisa yang tak nyaman. Lalu pria itu juga berusaha untuk menarik diri terkait masalah spesifik di antara mereka yang dijadikan pokok bahasan. Selanjutnya kedua insan bertetangga tersebut, saling berdiam diri untuk sekali lagi.
Ervan merogoh-rogoh saku jaketnya guna mencari sesuatu. Didapatkan sepotong permen Nougat dalam plastik pembungkus, oleh jepitan jari tangan kanan. Mungkin terpikir, Ervan akan memberikannya kepada Lisa agar meningkatkan suasana hati sang Wanita. Namun kenyataan, Ervan membuka langsung bungkus permennya dan dimakan sendiri Nougat putih itu. Campuran bahan madu, kacang panggang, putih telur dan buah keringnya terasa enak dan lumer di mulut.
Lisa tak urung pergi. Masih ada hal lain yang ingin disampaikan. Dia ingin mengutarakan maksud hati yang telah tertunda berhari-hari.
“Mengenai jawabanku tempo hari, aku, aku tidak bersungguh-sungguh dengan perasaanku di pagi itu! Aku hanya iseng. Lebih baik jika kamu menghapus semua isi pesannya. Sebenarnya aku ingin menjelaskan ketika kita akan bertemu pada malam harinya, tapi ternyata tak ada kesempatan untuk bicara. Jadi sekarang aku ingin mengatakannya langsung, kalau akan bagus apabila kita berteman biasa saja!” ungkap Lisa bermuka dua.
“Oh begitu! Tidak apa-apa kok! Aku juga sudah menghapusnya dari riwayat obrolan HowsApp.” lisan Ervan yang mengejutkan Lisa.
“Terima kasih sudah memberikan kepastian!” sambut si Ervan.
Begitu ringan kemudian, pria tersebut meletakkan telapak tangan kirinya ke atas kepala Lisa. Lisa serta-merta memegang pergelangan tangan Ervan dan menyingkirkan sentuhan itu yang menekan rambut poninya.
“Kamu jangan seperti ini padaku! Orang akan berpikir kita ini sepasang kekasih. Kau bukan kakakku, malahan kita seumuran. Jadi, kamu tidak perlu bersikap ngemong atau sok manis seperti itu.” Lisa memberikan saran dengan baik-baik.
“Tapi kita berteman, kan? Kau sendiri yang minta tadi.” perjelas Ervan.
Lisa terheran dengan kalimat Ervan yang ternyata masih mau menerima tali pertemanan setelah penolakan cinta. “Tentu!” jawab si Lisa.
“Kalau begitu, biarkan aku untuk terus berbuat baik. Dan bila tanganku seperti ini, maka itu berarti Aku tengah berbuat baik kepadamu.” ujar Ervan sambil memperagakan adegan yang sama seperti sebelumnya.
“Jadi, jangan menolakku!” pinta Ervan dengan lembut dan senyum yang mengembang.
Kali ini Lisa tidak bisa menolak kebaikan dari seorang kawan.
Setelah matahari terbit utuh di atas cakrawala, mereka harus berpisah.
Keduanya mengambil jalan masing-masing. Namun Lisa melihat Ervan hendak bepergian ke jalan lain, padahal rumahnya ada di samping. “Kau tidak masuk ke rumah?” tanya Lisa khawatir.
Dia mengiyakan. “Hmm! Tapi aku harus mengambil barang-barang dulu di tempat lain.” beritahu si Ervan.
“Sampai jumpa!” salamnya.
“Sampai jumpa!” sambut si Lisa.
“Teman.” sambungnya.
“Teman.” balas si Ervan.
Demi sementara waktu yang damai, Lisa dan Ervan sepakat melupakan kegundahan yang melingkupi hubungan mereka. Dan ketenangan itu, bagi jiwa Lisa hanya akan terwujud sampai adanya ‘gulungan ombak' yang berturut-turut. Sejatinya Niko baru saja mengamati dua pegawai resto Amanda tersebut, sebelum kembali melanjutkan perjalanan panjang ke luar kota. Sedangkan Vina dan Desi akan bersungut-sungut sebab kehadiran nyonya Raina.