Kata ‘Teman’ yang diucapkan mulut seseorang itu begitu hambar untuk dirasa. Lisa sebetulnya tidak yakin 100% dengan pilihan yang ada pada mereka untuk sementara. Inikah yang ia harapkan? Namun dari perjanjian di antara dua orang, tampaknya secara tidak langsung membuktikan kalau sebelumnya Ervan tidak sungguh-sungguh dalam mencinta. Betapa lugu si Lisa, ternyata cintanya sendiri yang bertepuk sebelah tangan. Pikiran galau ini terus mengganggu kesantaian hari terakhir ia untuk memanfaatkan waktu rehat.
Malu rasanya jika Lisa mengingat pesan yang dikirimnya ke nomor Ervan dahulu pagi. Dengan mudah Lisa ketik kata-kata cinta yang dikutip dari bait sastra, syair romantis karya seorang pujangga. Kala itu Lisa mencoba untuk berpikir matang namun termakan euforia karena saat fajar menyingsing Ervan datang mengetuk pintu rumahnya. Perasaan, pesan yang diketik oleh jari tangan si Lisa baru saja terkirim dari layar aplikasi chatting. Tiba-tiba separuh wajah Ervan menyembul dibalik kepala kostum karakter. Pria itu langsung mengibarkan senyum cerah meski Lisa baru bangun dari tidurnya. Ervan bicara menggunakan bahasa isyarat yang membuat bingung seorang Gadis di hadapan. Berkali-kali diperagakan mulai gerakan sampai ekspresinya Lisa justru lebih pilih menyerah saja. Sebab ia sama sekali tidak mengerti, inti percakapan dalam bahasa yang mengutamakan komunikasi manual, bahasa tubuh dan gerak bibir tersebut.
Karena itu Ervan juga terlihat lelah dan kecewa. Ia kemudian berjalan mendekati Lisa yang setia berdiri di muka pintu dalam rumah. Ervan menggaet pergelangan tangan Lisa, membalik dan menjaga telapak tangan wanita tersebut agar terbuka. Hingga pria ini meletakkan sepotong ranting dengan setangkai daun yang dikeringkan. Sepertinya Ervan mendapatkan bagian dari tanaman kering dalam vas yang ada di rumahnya. Kemungkinan juga ia hanya memungut sambil berjalan di area pedestrian. Namun yang pasti, Lisa tetap tak paham akan maksud pemberian si Ervan.
“Itulah Aku! Potongan daun dari batang yang kering. Meski sebatang kara, menyepi, terbuang, terlihat rapuh juga tak berarti, aku tetap kuat bertahan lama demi menjaga diri sendiri. Sama sekali bukan kehidupan yang aku mau di dunia. Saya juga butuh seseorang. Indah bukan, jika setangkai daun kering bisa dirangkai bersama dengan mawar merah tunggal yang diawetkan? Walaupun sama-sama kering, keduanya mau berpasangan serta saling melengkapi keindahan. Selalu terikat menjadi satu, awetnya pun hingga bertahun-tahun.” Bualan kata Ervan.
Lisa menggaruk-garuk kepalanya bukan disebabkan gatal. “Sejujurnya, apa yang ingin kau sampaikan kepadaku?” tanya Lisa meminta gambaran jelas juga tertuju langsung pada intinya.
“Jadilah mahkota mawar merah yang diawetkan itu!” ujar Ervan sebagai permintaan.
Lisa pun tertawa aneh karena kalimat minta tolong si Ervan yang nyeleneh. Mengapa pula Lisa harus menjadi bunga kering untuknya! Terlalu dini mereka berjumpa, Ervan berani menyatakan sesuatu yang di luar persangkaan Lisa. Namun kemudian, pemuda itu sadar dengan kelakuannya. Tiba-tiba ia mengaku sedang belajar bagaimana menghilangkan rasa gugup dan tidak percaya diri menghadapi hari pertama ia diterima bekerja sebagai salah satu koki di resto Amanda nanti. Seketika pula Ervan meminta Lisa untuk melupakan kalimat-kalimat yang telah diucapkan ia sebelumnya. Itu sekadar ungkapan dari buku yang baru setengah halaman dibaca. Ervan lalu berbalik pulang ke jalan menuju rumah sendiri. Tanpa tahu diri bahwa ia telah menancapkan panah asmara di hati kecil si Lisa ini. Ervan sungguh sosok yang tidak pernah mampu diduga oleh orang lain.
Sang Gadis lekas menutup pintu depan hingga terdengar lubang kuncinya yang diputar. Punggung Lisa bersandar, menahan pintu, takut Ervan kembali dan ingin mendobrak perasaan ini lebih dalam lagi. Debar jantung yang belum pernah Lisa rasakan, menyebar dari ujung kaki sampai ujung kepala.
“Aku tidak sedang jatuh cinta!” begitulah logika wanita yang berbicara.
Akan tetapi hatinya tentu berkata lain. Lisa merasa sangat grogi karena baru pertama kali ada pria yang mengungkapkan kata-kata puitis terhadap dirinya. Kalimat rayuan yang bermakna ketulusan, melekat erat dalam ingatan. Kesemua itu telah terjadi berjarak dua hari setelah perjumpaan pertama Lisa dengan Ervan.
Sekarang keadaan dua manusia sudah banyak berubah. Mereka harus menjalin kerja sama sebatas teman. Pilihan ini guna melindungi keselamatan satu sama lain. Walau sesungguhnya Ervan hanya memedulikan nasib Lisa bukan terkait dirinya. Melainkan kebencian terhadap Niko, putra dari orang yang menjadi penyebab sang Ayah meninggal. Padahal Ervan juga belum tahu kalau Lisa dan Niko tidak jadi melangsungkan pertunangan. Ervan rela diajak berteman tanpa mengetahui kenyataan. Seandainya saja Ervan tetap kukuh mempertahankan perasaan di hadapan Lisa, mungkin gadis itu tidak akan sekecewa ini. Seolah pria itulah yang telah menolak cinta kasih darinya yang suci.
Lisa mengomeli diri sebab gundah tak bertepi. “Aku selalu bodoh dalam urusan hati semacam ini. Teman? Aku bahkan sudah merasa cukup senang dengan Vina dan Desi yang menjadi teman dekatku. Dasar Ervan, tak punya perasaan!”
Apa sih yang Lisa mau? Tampaknya masalahnya belum terselesaikan bagi dia yang mencari hadirnya sosok Penjaga.
---
Lisa menutup lembaran album foto yang tersimpan pada laci meja di ruang keluarga. Semua kumpulan gambar kenangan tersebut membuka kembali ruang rindu yang tak terobati.
“Ayah! Ibu! Sekalipun aku menjadi juara pertama sebagai atlet lari terbaik di dunia, bila tahu masa itu adalah waktuku untuk kehilangan, maka sungguh aku tidak ingin kalian bersorak bangga melihatku berlari di jalur lintasan. Aku ingin Ayah tetap masuk kerja ke kantor. Sementara Ibu, aku ingin ia tetap sibuk menyirami bunga-bunga Dahlianya yang bermekaran. Sekarang saja aku tak mampu untuk melihat seperti apa foto wajah kalian dulu! Karena setiap kali kubuka album foto ini, selaput hitam selalu menutupi pandanganku. Air mata pun berlimpah memenuhi ruang di setiap seluk bola mataku. Aku telah buta, Ayah! Ibu!” curahan derita Lisa yang ditanggung selamanya.
Lisa mengingatkan diri sendiri. “Sekali-kali, Aku tidak ingin lagi kehilangan semua orang yang telah aku sayangi sebagai bagian dari hidupku kini. Vina. Desi. Nyonya Amanda. Pak Tomo.”
Ervan? Ke mana dan berada dalam posisi apa pria tersebut harus bertahan di kehidupan Lisa? Sesama anak buah, tempat bekerja tak lagi sama. Mantan pacar pun mereka tak pernah jadian juga! Tetangga, tapi tidak pernah berinteraksi jika tak ada perlu. Sebagai teman saja rasanya malah malu dan teramat kaku. Untuk saat ini semua sudah terlambat bila menggulung kesepakatan di waktu yang tidak tepat.
Lisa beranjak dari kursi yang biasa ditempati oleh ayahnya saat memimpin rapat keluarga. Ia pergi mengambil piring, sendok plus sebungkus nasi uduk dengan lauk udang, telur dadar dan taburan bawang goreng. Waktu di kediamannya menunjukkan jam 9 lewat, Lisa tetap sarapan walaupun sudah telat. Hening suasana meski ia sedang memakan renyah kerupuk gurihnya.
Belum tahu kenapa, pada jam kerja Amanda’s resto tiba-tiba Casilda Yavina ingin melakukan panggilan video dengan Lisa.
“Hai, Vin! Tumben nih auto video call! Memang Bos enggak marah?” singgung Lisa.
Vina mengadu. “Uuh! Bukan lagi, Sa! Parah! Si Bos baru asyik mengobrol dengan temannya. Namanya bu Raina. Katanya sih, beliau akan menggantikan posisi Ervan di dapur.” beritahu si Vina.
“Eh, kamu sedang apa di rumah?” tanyanya.
“Sarapan. Nih, lihat!” pamer si Lisa.
“Wah! Enak tuh! Aku sarapan tadi saja cuma pakai nasi putih biasa sama tempe goreng. Kamu bikin sendiri paket nasi uduknya?” ujar si Vina.
“Beli. Tadi sehabis jalan-jalan sekalian mampir ke tempat Ibu-ibu yang jualan. Hik! Hik!” Lisa tersedak.
Ia buru-buru meninggalkan ponsel dalam menyala itu di atas meja. Lisa berupa mencari gelas dan air minumnya.
“Kenapa, Sa?” tanya Vina setelah Lisa kembali memasukkan wajah cantik naturalnya pada layar kamera handphone.
“Cegukan. Tadi obrolan kita sampai mana? Oh, Desi ada di situ?” sapa Lisa.
“Itu! Lagi nyanyi-nyanyi lagu favoritnya. Heran, deh! Ini aku juga terpaksa pinjam fon telinga punya Desi. Daripada dengar gibahan yang tidak jelas!” lisan Vina yang menahan sebal.
“Kamu baru ketemu sama Ervan, ya?” dugaan Vina.
Lisa sampai tersedak untuk yang kedua kali. “Kok, tahu?”
“Eh? Benarkah? Padahal aku cuma mau menggodamu loh! Memang benar ketemuan? Berarti dia tidak jadi pindah rumah, dong!” kesimpulan si Vina.
“Sebenarnya jadi. Tapi hanya beberapa hari doang! Tadi pagi aku baru lihat dia berdiri di depan rumah tetangga. Terus katanya mau pergi lagi ambil barang-barang di tempat kerja temannya.” Cerita Lisa.
“Em.., begitu ceritanya! Ya sudah ya, kamu habiskan sarapannya! Aku harus bertindak dulu. Suasana di sini semakin horor, dengar suara tawa yang keras dari ruang atas. Bye, Lisa!” tutup Vina.
“Eh! Salam ya buat Desi, nyanyiannya bagus! Kedengaran dari sini.” Lisa menitipkan kalimat terakhir.
“Sip! Tapi kamu bohong, ya?” Vina meledek.
Diam-diam kedua sahabat itu tertawa setelah menutup panggilan videonya. Sementara Desi tidak mendengar mereka.
---
Akhirnya Lisa dengan tenang menghabiskan menu pagi menjelang siang. Rasa kenyangnya menggugah selera hati hingga ia coba untuk menghidupkan televisi. Stasiun tv lokal tengah menyiarkan berita terkini. Lisa mendengar serta melihat berita lagi tentang kasus kebakaran gedung perpustakaan. Kali ini peristiwa terjadi di sebuah Sekolah Dasar. Sudah dipastikan bahwa api yang melalap ruang perpustakaan tersebut bersumber dari korsleting listrik. Tidak ada temuan faktor kesengajaan. Hal ini dipastikan oleh Kepala Dinas Kebakaran setempat. Namun tiba-tiba reporter tv yang melakukan peliputan di lapangan, membandingkan kejadian ini dengan peristiwa kebakaran gedung milik Pemkot pada akhir bulan Juli lalu. Pewarta berita tersebut mengingatkan kembali sekaligus mengungkapkan fakta, bahwa ternyata sang Pelaku sudah ditangkap.
Begitu terkesiap Lisa saat mendengarkan informasi terbaru dan terakurat sepanjang pengetahuan yang ia terima. Padahal baru tadi pas jam terbit matahari mereka berdua bertemu. Sekarang, Ervan berhasil ditangkap dan digelandang ke kantor polisi. Lisa ingin cepat-cepat memastikan kebenaran berita ini. Dia tinggalkan peralatan makan begitu saja di atas meja makan. Wanita itu keluar tergesa-gesa untuk memeriksa kediaman Ervan. Bisa jadi, sudah ada garis polisi yang memagari ruang lingkup di sana.