Pov dalari
"Kenapa dengan mukamu? nggak sanggup membayarnya ya!" tanya Dadun sambil menatap ke arahku.
"Sanggup, sanggup, kok!" jawabku tergagap lalu mengeluarkan uang pemberian dari Ibu Nasrul, yang belum terpakai sama sekali. kemudian menyerahkan ke arah Dadun.
"Uang buat apa ini?" tanya Dadun.
"Itu sebagai tanda jadi, besok sisanya aku bayar. soalnya aku tidak bawa uang banyak." jelasku.
"Emang kamu nggak apa-apa. dengan harga segitu. kamu bisa membeli emas setengah gram?" tanya Dadun terlihat raut wajahnya yang serius.
"Nggak apa-apa! Kak. namanya juga seni, Mungkin sebenarnya, uang segitu. tidak cukup untuk membayar kreativitas seseorang." ujarku sok puitis.
"Bener, aku suka orang-orang yang ngerti seni. hebat, hebat!" ungkap Dadun sambil mengangguk-anggukkan kepala.
"