Gabriel masih kepikiran tentang pesan masuk tadi. Itu memang bukan ancaman, tapi hanya peringatan semata. Namun setidaknya kata-kata itu mampu membuat Gabriel geram. Bisa-bisanya orang itu memperingati hal semacam ini. Masalahnya, posisi Gabriel belum aman. Masih ada bayang-bayang orang itu, yang kapan saja siap mengambil Nadya darinya.
Selepas makan siang, Gabriel dan Nadya menuju ke kantor WO di depan mall Indonesia. Perbincangan masih berlanjut menyoal konsep pernikahan. Dua Minggu lagi akan berlangsung acara itu, makanya pihak WO minta bertemu untuk membahas kelanjutan kontrak kerja sama.
Gabriel dan Nadya duduk di ruang tamu kantor. Beberapa staf telah melayani dua orang itu dengan ramah. Baik Nadya dan Gabriel, keduanya sepakat ambil cuti kerja setengah hari. Mereka itu calon pengantin yang mandiri. Apa-apa dikerjakan sendiri, tidak ada sumbangsih orang lain. Meski beberapa sahabat menawarkan untuk membantu.
“Nad, kamu mau konsep dekorasinya in door atau out door?” Gabriel bertanya. Di depan mereka ada pamflet tema pernikahan. Nadya setuju menggunakan konsep pernikahan warna biru muda doff dengan tema Lugarry dipadukan rustic.
“Out door aja, mungkin?” Nadya menjawab ragu-ragu. Gabriel saat itu tidak mempertanyakan keyakinan Nadya. Dia hanya minta pendapat. Selagi Nadya suka dengan konsep pernikahan mereka, maka Gabriel akan setuju memilihnya.
“Kalau kamu suka yang out door, maka kita pilih ini.” Gabriel menegaskan. Nadya mengangguk saat itu.
Keduanya tidak lama-lama di sana. Sekitar setengah jam kemudian, mereka meninggalkan kantor WO. Jam menunjukkan pukul dua siang. Cuaca masih sama, masih terik dan panas. Matahari meninggi di atas kepala. Lengkungan badan bangunan pencakar langit berpancar sinar matahari. Menyilaukan mata. Sekali mentari siang itu terhalang badan-badan kaca bertulang baja bangunan tinggi.
Nadya dan Gabriel berada di dalam mobil. Kendaraan itu melaju di jalan protokol negara. Suasana jalan tol dalam kota tidak terlalu ramai. Lengang sekali. Mobil bisa dihitung yang lalu lalang di samping mobil Gabriel. Mungkin karena jam kerja, jadi tak banyak mobil yang tumpah di jalan.
“Sekarang kita ke mana, Ko?” tanya Nadya berikutnya. Memecahkan keheningan yang sejak tadi melanda. Tidak ada percakapan apapun di antara keduanya setelah masuk ke dalam mobil. Hanya ada suara radio saja yang terdengar. Membahas seputar keluhan betapa beratnya tinggal di ibukota. Atau Diiringi musik berbagai genre yang diputar playlist sang penyiar.
“Ke showroom Mas Angga. Kita tanya katering yang dipakainya buat nikah, yang kata kamu tadi.” Gabriel menjawab mantap. Mobil itu melanjutkan lagi perjalanannya seusai berhenti sejenak karena lampu merah persimpangan menyala beberapa saat lalu.
“Kalau siang begini, Mas Angga nggak ada di kantornya, Ko. Mas ada acara yang dihadirinya sama Mbak Dewina. Tadi habis kirim pesan padaku.” Nadya memberitahu.
Gabriel menoleh sepintas, lalu menatap lagi ke depan. Fokus pada kemudi kendaraan. “Terus, kita ke mana sesudah ini? Nanggung amat sudah cuti kerja cuma setengah hari.”
“Ke apartemen Koko aja.” Nadya mengusulkan, “Pasti Koko juga nggak bersih-bersih apart kan seminggu ini?”
Gabriel menyengir, macam kuda bodoh ketika Nadya menyinggung. Tangannya menggaruk belakang kepala yang tidak gatal. “Nggak, sih!” katanya ringan, seperti tanpa beban.
Seminggu lalu Nadya membantu Gabriel bersih-bersih. Sebagai pemuda yang tinggal sendiri, lepas dari keluarga, enggan tinggal bersama kedua orang tua di rumah besarnya, Gabriel memang termasuk seorang yang malas dan terkesan jorok. Walau sebenarnya dia kelihatan rapi dalam berpakaian dan wangi, sejujurnya Gabriel seorang yang tinggal sendiri dan suka membuat berantakan.
Misalnya, piyama, piring kotor, bekas remahan cemilan dan roti, atau bahkan uang, jam tangan, sepatu, dasi, telepon genggam dan kunci mobil diletakkan sembarangan. Berjatuhan di lantai apartemen dari pintu masuk sampai ke pantry dapur. Nadya yang mengenal Gabriel selama lima tahun ini hafal betul perangainya yang serampangan.
Karena usulan itu, Gabriel setuju membawa Nadya main ke apartemen. Hitung-hitung membantunya beberes unit bersamaan. Dia paling suka momen ini. Saling berbagi tugas dan jawil-menjawil saling sikut menggoda. Ah, romantisnya.
••••
“Mereka ke apartemennya Tuan Gabriel, Nyonya.” Anak buah yang diperintahkan Gloria memata-matai pergerakan Gabriel melaporkan beritanya siang itu.
Gloria menatap sinis lawan bicara di depan mukanya. Saat itu Gloria Liem ada di cafe terdekat dengan gedung bangunan tempat suaminya bekerja. Di seberang jalan. Tepat ketika jalur penyeberangan itu saling menghubungkan bahu jalan kiri dan kanan.
“Lalu?” Dia merespon singkat, tangannya meraih gagang mug, menyeruput kopi robusta paling nikmat yang pernah disediakan oleh cafe ini. Saat berada di tempat umum, Gloria suka sendirian duduk di sana. Tanpa teman bicara atau siapapun itu. Tidak jarang, kadang dia menyewa satu ruangan khusus untuk dirinya sendiri. Dia suka berpikir kritis mengenai suatu hal atau melakukan sebuah perencanaan untuk beberapa waktu mendatang.
Gloria termasuk seorang istri pembesar keluarga taipan di negeri ini yang paling tidak suka kehidupan pribadinya tersentuh. Dia dingin. Dia keras kepala. Dia juga kadang anti sosial. Sifatnya itu dibarengi dengan sikap arogansi, kasar, mulut judes dan penampilan elegan. Segalanya tercermin dari penampilannya yang modis. Dia pesolek yang amat memerhatikan bentuk badan.
“Mereka habis datang ke kantor WO. Merencanakan kelanjutan konsep pernikahan.” Anak buah Gloria memberitahu lagi.
“Oh, jadi Gabriel masih nekat melakukannya. Berani sekali dia tidak mengindahkan peringatan orangtuanya!” Gloria menggeram. Gemelatuk giginya beradu. Saat itu dia sangat marah. Gabriel telah kelewatan.
Nampaknya peringatan malam lalu sengaja diabaikan anak itu. Sebenarnya Gloria tidak masalah siapapun pasangan Gabriel. Dia mau menikah dengan perempuan manapun bagi Gloria sah-sah saja, asal seiman dan memiliki bibit, babat dan bobot yang jelas. Kriteria itu memang ada pada Nadya. Namun dia minus dalam pandangan keyakinan.
Untuk fisik, Nadya mungkin jauh lebih baik daripada Theresia atau Jolene, dua gadis yang sempat hendak dijodohkan kepada Gabriel. Nadya cantik, ramah, senyumnya manis, tahu menempatkan posisinya di mana. Seorang dokter muda pula, lulusan terbaik universitas ternama dalam negeri negeri. Tapi untuk status sosial dan pandangan agama, maka Nadya kalah jauh dari dua orang pilihan Gloria.
“Apalagi yang harus aku lakukan hari ini, Nyonya?” Pria muda itu bertanya, mengalihkan percakapan.
“Kamu pergi, aku mau sendiri. Tapi tetap awasi ke mana Gabriel pergi bersama perempuan itu.”
Pria yang jadi lawan bicara mengangguk. Namanya Jodi, bawahan sekaligus sekretaris pria Gabriel. Pria ini juga merangkap sebagai seorang mata-mata dan orang kepercayaan Gloria. Satu hal yang perlu diketahui, saat ini Gabriel satu langkah lebih kalah dari sang ibu.
Pria muda itu telah pergi, meninggalkan Gloria sendirian di tempatnya nongkrong sejak tadi. Jam sudah bergeser sedikit, menuju pukul 16;15. Baiklah, mari kita bergeser ke tempat yang berbeda. Ke unit apartemen milik Gabriel.
Seperti rencana awal, dokter muda yang paling terkenal di rumah sakit itu sedang membereskan ruangan tiap ruangan di kediaman Gabriel, di lantai enam, unit nomor empat-empat. Sedang menyedot debu di lantai. Sedangkan Gabriel tengah mencuci piring. Tak lupa memakai sarung tangan karet sampai di siku dengan lengan baju tergulung.
“Seru ya kalau kita melakukan pekerjaan rumah seperti ini bareng-bareng. Vibesnya bakal beda. Kayak ..., kita beneran sudah resmi jadi suami-istri.” Gabriel tertawa. Nada bicaranya menyeletuk. Niatnya saat itu menggoda Nadya.
“Masih ada dua Minggu lagi, Ko. Kayaknya Koko Iyel nggak sabaran serumah denganku.” Nadya menjawab jengah. Balas menggoda.
Gabriel membalikkan badannya. Melepas sarung tangan, mata menatap serius perempuan di depannya ini. Nadya telah mengganti haluan pekerjaan. Sekarang mengelap kaca meja makan di antara wastafel cuci piring dan dapur.
“Aku nggak perlu jelasin, Nad. Jelasin betapa susahnya buat deketin kamu. Apalagi anak seorang dosen agama paling tersohor. Terus anti juga sama yang namanya pacaran. Buat halalin kamu ke pelaminan itu perjuangannya nggak mudah seperti ketika membalikkan badan. Kamu harusnya tahu, semua pria sepertiku bakal nggak sabaran nikah sama kamu. Orang saingannya banyak.” Gabriel kemudian terkekeh.
Nadya menggelengkan kepalanya. Gabriel memang benar. Selama mereka dekat dan mengikat janji untuk menikah, beberapa kali Gabriel mengajak Nadya pacaran. Karena ingat abi, Nadya jadi enggan menerima ajakan itu. Sebagai gantinya, abi cuma minta Gabriel serius saja sama putrinya. Itu syarat buat dapatkan Nadya. Awalnya memang sulit, tapi setelah dapat lampu hijau dari abi, rasanya semua sudah menjadi agak lega.
“Saingan banyak? Itu cuma menurut Koko saja. Karena setahuku, sejauh ini yang paling berani mendekati anak dosen agama itu cuma orang yang inisialnya Gabriel.” Nadya menjawab menggoda.
Gabriel menggigit bibir bawahnya. Dia agak salah tingkah. Nadya memang tidak pandai menggoda, tapi kalau dia bicara dengan muka menggemaskan, rasanya hati Gabriel berbunga-bunga. Seperti ada laron-laron menggelitik perut.
“Itu kan faktanya.”
“Iya deh, yang bakal jadi calon menantunya abi.”
“Haha ..., itu harus. Titel menantu paling idaman abi. Kamu nggak boleh lupain itu!” Gabriel menambahkan. Dia menyandarkan pantatnya di pantry.
Nadya mendelik, merespon ketus ucapan si narsis. “Abi nggak bakal pernah bilang kalau Gabriel si paling PD sedunia ini jadi menantu idaman, selagi dia nggak bisa selesai hafalan surah Al-kahf. Ingat, itu syarat yang harus dipenuhi. Abi nggak suka sama orang yang gagal sama persyaratan yang sudah diiyakan.”
“Aman, Nad. Pokoknya malam sebelum acara pernikahan, aku bakal datang ke rumah, terus minta tes sama abi kalau aku sudah hafal semua surah yang dimintanya buat dihafal.” Gabriel tersenyum lagi.
Percakapan mereka memang tidak terlalu banyak yang serius. Namun setidaknya, panggilan masuk di layar telepon Gabriel sukses membuat perbincangan mereka berhenti dan terganggu.