Masalahnya sederhana, dan karena itu mengerikan.
Untuk menjalankan Kunci, Rangga harus mencapai sinkronisasi melampaui seratus persen. Tapi tidak ada manusia yang pernah selamat sampai sana. Tubuh terbakar jauh sebelum kesadaran sempat menyatu penuh dengan inti. Itu yang membunuh, bukan ledakan reaktornya — perjalanan menuju seratus persen itu sendiri.
"Kita tidak bisa langsung melompat ke sana," kata Adit, menggambar grafik di papan tulis bengkel pagi itu. "Kalau kau coba mendorong ke seratus persen sekaligus, jantungmu berhenti sebelum mesin selesai memuat Kunci. Habis perkara."
"Lalu?" Rangga duduk di kursi sinkronisasi, jarum sudah terpasang di tengkuknya, layar-layar Rajawala berkedip biru di sekelilingnya. Di hanggar, mesin kelabu itu berdiri terhubung dengan kabel diagnostik tebal.
"Lalu kita melatih tubuhmu untuk menahannya. Bertahap." Adit melingkari titik-titik di grafik. "Seperti penyelam yang turun ke kedalaman pelan-pelan agar tubuhnya tidak hancur oleh tekanan. Kita dorong sinkronisasimu sedikit lebih tinggi setiap hari. Sembilan puluh. Sembilan puluh dua. Tahan, lalu turun. Tubuhmu belajar. Saraf-sarafmu beradaptasi pada beban yang seharusnya membunuh." Ia menatap Rangga lurus. "Kalau berhasil, suatu hari kau bisa menyentuh seratus persen dan tidak mati seketika. Kalau gagal, kau berhenti jantung di kursi ini, hari ini, dan tidak ada Kunci, tidak ada misi, tidak ada apa pun."
Laras berdiri di pojok bengkel, lengannya bersedekap, wajahnya tegang. Ia tidak menyukai ini. Rangga tahu itu. Tapi ia tidak menghentikannya, karena ia juga tahu tidak ada pilihan lain.
"Mulai dari mana?" tanya Rangga.
"Kau saat ini stabil di delapan puluh empat persen." Adit menyentuh konsolnya. "Kita coba sentuh delapan puluh delapan. Tahan tiga puluh detik. Lalu turun. Kalau ritme jantungmu kacau, aku tarik kau keluar." Ia menatap Rangga. "Siap?"
Rangga menutup matanya. Ia merasakan Rajawala di sekelilingnya, di dalamnya — baja yang menjadi tubuhnya, inti yang menjadi jantungnya, berdetak seirama dengan jantung manusianya di dada. Di suatu tempat dalam mesin ini, ia tahu sekarang, tersimpan jejak Bara. Bukan hantu. Data. Tekad. Warisan seorang kakak yang berharap adiknya lebih baik darinya.
"Siap," kata Rangga.
"Naik," kata Adit. "Delapan puluh lima. Delapan puluh enam."
Rasa sakit datang seperti gelombang panas, naik dari tengkuk ke seluruh tubuh. Rangga mengertakkan gigi. Ini bukan luka mesin yang ia kenal dari pertarungan — ini lebih dalam, seperti tubuhnya sendiri dipaksa larut ke dalam logam. Setiap saraf menjerit untuk mundur.
"Delapan puluh tujuh," suara Adit jauh dan dekat sekaligus. "Jantungmu naik. Tahan, Rangga. Jangan lawan rasa sakit—terima."
Terima. Kata yang sama yang Laras ajarkan di malam pertama, di hanggar Tanjung. Jangan lawan. Jadikan milikmu.
Rangga berhenti melawan. Ia membiarkan rasa sakit mengalir lewat dirinya, membiarkan batas antara daging dan baja mengabur. Delapan puluh delapan persen. Angka yang dulu mustahil. Dunia berkedip putih di tepi penglihatannya, tapi ia menahannya, menahannya, satu detik, dua, sepuluh, tiga puluh.
"Turun!" perintah Adit. "Sekarang!"
Sinkronisasi turun. Rangga jatuh kembali ke dalam tubuhnya sendiri, terengah, basah keringat, jantung berdebar liar tapi masih berdetak. Di hanggar, Rajawala bergetar sekali, lalu diam.
Adit menatap layar diagnostiknya, lalu Rangga, dan untuk pertama kali sejak kabar buruk Kunci, ada secercah sesuatu di matanya yang menyerupai harapan. "Delapan puluh delapan persen. Tiga puluh detik. Dan kau masih bernapas." Ia menelan ludah. "Kalau ini berhasil setiap hari, sedikit demi sedikit—mungkin. Mungkin ada jalan agar kau tidak harus mati seperti Bara."
Laras melangkah dari pojok ruangan, meletakkan tangannya di bahu Rangga yang gemetar. "Cukup untuk hari ini."
"Tidak," kata Rangga, masih terengah, tapi matanya keras. Ia menatap Rajawala lewat jendela, raksasa yang menolak kakaknya dan memilih dirinya, mesin yang menyimpan sebuah Kunci dan sebuah warisan di dalam intinya yang retak. "Sekali lagi. Kita tidak punya banyak hari. Dan aku berniat hidup untuk menjalankan Kunci ini—bukan mati untuknya." Ia menutup matanya. "Naikkan lagi, Adit."