Danur. Pilot veteran, wajah penuh garis, mata yang sudah terlalu lama melihat orang mati. Es di antara mereka sudah mencair sejak rawa dan bendungan tua, sejak malam Danur menceritakan saudaranya yang gugur di garis selatan. Tapi mencair bukan berarti hilang sepenuhnya, dan masih ada beban lama pada Bara yang belum benar-benar Danur letakkan.
Pagi itu Danur datang sendiri ke hanggar Rajawala. Tidak membawa hinaan. Tangannya kosong.
"Aku sudah cerita soal saudaraku," kata Danur, suaranya pelan. "Garis selatan. Pos kecil yang tidak pernah dapat bala bantuan karena Bara memilih menahan benteng yang lebih besar. Aku menyalahkan kakakmu bertahun-tahun untuk itu." Suaranya bergetar. "Tapi ada yang belum kukatakan padamu."
Rangga diam, menunggu. Ia sudah tahu dari mana kebencian itu lahir; yang ini sesuatu yang lain.
"Selama itu aku yakin ia perhitungan, dingin, memperlakukan nyawa seperti angka," lanjut Danur. "Lalu aku dengar bagaimana ia mati. Berdiri di antara dua Kraken untuk menyelamatkan dua ratus orang yang bahkan tidak ia kenal. Menarik intinya sendiri." Ia menatap Rajawala. "Orang yang dingin tidak mati seperti itu."
"Bara tidak pernah memperlakukan nyawa sebagai angka," kata Rangga. "Ia memperlakukannya sebagai beban. Setiap nyawa yang tidak bisa ia selamatkan, ia bawa terus. Aku tahu, karena aku mewarisi beban yang sama."
Rangga ingat malam-malam saat Bara pulang dari pertempuran, duduk di tepi ranjang dalam diam, tidak menyentuh makan malam yang Bu Inten sisihkan. Saat itu Rangga masih kecil dan mengira kakaknya cuma lelah. Sekarang ia tahu Bara sedang menghitung — bukan Leviathan yang dibunuh, tapi orang yang tidak sempat ia selamatkan. Itulah yang membuat seseorang berdiri di antara dua Kraken dan menolak mundur. Bukan kedinginan. Beban yang sudah terlalu berat untuk dilarikan.
Danur menutup matanya lama. Saat membukanya, sesuatu telah patah dan jatuh dari pundaknya — beban yang dipikulnya bertahun-tahun, akhirnya ia letakkan.
"Adit bilang kau harus mendorong sinkronisasi melewati seratus persen," kata Danur. "Itu yang membunuh sebagian besar pilot yang mencobanya. Bukan musuh. Rasa sakit dari mesin yang menyatu terlalu dalam. Pikiran tidak bisa menampungnya."
"Kau pernah mencobanya?"
"Aku mencapai sembilan puluh empat persen sekali. Lalu aku berteriak dan koneksi putus dan aku terlempar keluar dan menangis seperti anak kecil." Danur tersenyum pahit. "Tapi aku tahu jalurnya. Aku tahu di mana setiap pilot patah. Aku bisa mengajarimu cara tidak patah di tempat-tempat itu."
Rangga menatapnya. "Kenapa kau menawarkan ini?"
"Karena saudaraku mati menunggu bantuan yang tidak datang. Dan kalau aku bisa membantu satu pilot menyelamatkan benteng terakhir, mungkin itu cara aku menebus bahwa aku tidak bisa menyelamatkannya." Danur mengulurkan tangannya. "Aku salah soal Bara. Aku salah soal kau. Biar aku perbaiki dengan mengajarimu cara bertahan hidup di tempat yang membunuh kami semua."
Rangga menjabat tangannya. Genggaman Danur keras, kasar, tulus.
Hari itu mereka mulai. Danur membawa Rangga ke ruang simulasi, memasang jarum sinkronisasi tiruan, dan menjelaskan apa yang tidak pernah ada di manual mana pun — cara bernapas saat rasa sakit datang seperti banjir, cara membiarkan rasa sakit lewat tanpa menahannya, cara membedakan suara mesin dari suara ketakutan sendiri.
Mereka mulai dengan napas. Danur membuatnya duduk diam selama satu jam penuh, hanya bernapas, sampai Rangga bisa menjaga detak jantungnya tetap pelan bahkan saat jarum tiruan menusuk tengkuknya. Lalu mereka naikkan tekanannya — simulasi luka, simulasi gigitan, simulasi rasa sakit yang datang seperti banjir. Setiap kali Rangga meringis dan koneksinya goyah, Danur menghentikan mesin dan mengulang dari awal.
"Lagi," kata Danur, untuk yang kesekian kali. "Kau menahannya. Jangan tahan. Biarkan lewat."
"Lebih gampang diucapkan."
"Semuanya lebih gampang diucapkan. Lalu kau lakukan sepuluh ribu kali sampai tubuhmu tidak perlu berpikir lagi." Danur menyetel ulang panel. "Saat sinkronisasi naik, kau akan mulai kehilangan batas antara dirimu dan Rajawala," katanya. "Itulah yang membunuh. Pilot lupa di mana mereka berakhir dan mesin dimulai. Kuncinya bukan menahan batas itu. Kuncinya tahu siapa kau, begitu kuat, sampai mesin pun tidak bisa menghapusmu."
"Siapa aku?" tanya Rangga.
"Itu yang harus kau jawab sendiri. Aku cuma mengajarimu bertahan sampai kau menemukannya."
Di luar simulasi, Danur yang dulu penuh racun kini berdiri sebagai guru. Dan Rangga, untuk pertama kali sejak tiba di Pusat, merasa skuadron itu benar-benar menerimanya.
Penebusan, ternyata, tidak datang dengan ledakan. Ia datang dengan tangan yang terulur dan kalimat sederhana: biar kuajari kau hidup.