Dasar laut runtuh menjadi jurang.
Rangga berdiri di tepi Palung Tengah, dan untuk pertama kalinya ia mengerti kenapa manusia tak pernah berani menjangkau tempat ini. Lubang itu menganga di bawahnya — bundar, hitam, lebih luas dari benteng Pusat, menukik ke kedalaman yang tidak dijangkau cahaya. Air di sekitar mulutnya bergerak aneh, berputar pelan, seperti lubang itu bernapas.
"Adit," kata Rangga, suaranya kecil di dalam ruang kemudi. "Aku di gerbangnya."
"Aku lihat dari datamu." Suara Adit bergetar. "Kedalaman yang terbaca... melebihi skala alat kami. Tekanan di bawah sana akan ekstrem. Rajawala dirancang untuk menahannya — perancangnya tahu ia akan turun ke sini suatu hari. Tapi, Rangga... begitu kau turun, sinyalku padamu melemah. Aku tetap akan memandu, tapi mungkin terputus-putus."
"Mengerti."
"Satu lagi." Adit menelan ludah. "Pertahanan terkuat Sang Induk ada di gerbang. Penjaganya. Sesuatu yang lebih besar dari apa pun yang pernah kita lawan. Datamu sudah menangkap pergerakannya. Hati-hati."
Bahkan sebelum Adit selesai, air di bawah Rangga berubah.
Dari kegelapan Palung, sesuatu bangkit. Mula-mula hanya bayangan — lebih hitam dari air gelap. Lalu mata-mata menyala, bukan dua, bukan empat, tapi puluhan, deret mata merah bara yang naik dan terus naik. Sebuah Leviathan muncul dari mulut Palung, dan ia membuat semua Kraken yang pernah Rangga lihat tampak seperti anak-anak.
Tubuhnya seperti gunung yang berenang. Cangkang gelap berlapis-lapis, ditumbuhi tentakel sepanjang gedung, rahang yang bisa menelan Baja utuh. Ini bukan sekadar Leviathan. Ini penjaga gerbang — diciptakan, atau dibesarkan, atau dibentuk oleh Sang Induk khusus untuk satu tujuan: tidak membiarkan apa pun lewat.
"Skala melampaui Kelas Kraken," bisik Adit, ngeri. "Aku... aku tidak punya nama untuk ini."
Penjaga itu menatap Rajawala dengan puluhan matanya. Lalu ia menyerang.
Tentakel sebesar menara melesat dari kegelapan. Rangga melempar Rajawala ke samping, air memperlambat geraknya, dan tentakel itu menghantam dasar laut tempat ia berdiri sedetik lalu, mengangkat awan lumpur. Tentakel kedua datang dari sisi lain. Rangga menangkapnya — kedua tangan Rajawala mencengkeram daging raksasa itu — dan rasa sakit dari beban yang ditahannya menjalar ke seluruh tubuh Rangga lewat sinkronisasi.
"Aku tidak bisa menang lewat kekuatan," geram Rangga, otot-ototnya sendiri menegang di kursi seolah ia benar-benar mengangkat menara itu. "Dia terlalu besar."
"Maka jangan menang," kata Adit cepat. "Kau tidak perlu membunuhnya. Kau cuma perlu lewat. Turun ke Palung. Penjaga ini terlalu besar untuk mengejarmu ke kedalaman dengan lincah — gunakan ukurannya melawan dia."
Logika montir. Rangga mencengkeramnya seperti tali penyelamat.
Ia melepaskan tentakel itu dan melemparkan Rajawala mundur, ke arah mulut Palung. Penjaga raksasa berputar mengejar, tapi tubuh segunung itu lamban berbalik. Tentakel-tentakelnya menyabet liar, dan satu menghantam punggung Rajawala — sinkronisasi Rangga menukik ke lima puluh persen, rasa sakit memutih di matanya.
"Bertahan!" Adit berteriak lewat statik yang menebal.
Rangga menerima sakit itu. Membiarkannya lewat. Sinkronisasi merangkak naik. Ia mengarahkan Rajawala ke tepi Palung, ke titik di mana penjaga harus memutar seluruh tubuh gunungnya untuk menjangkaunya — dan di celah waktu sempit itu, Rangga melompat.
Rajawala terjun ke mulut Palung.
Penjaga gerbang mengaum — suara yang Rangga rasakan di tulangnya sendiri — dan tentakel terakhirnya melesat ke bawah, menggapai. Ujungnya menyerempet kaki Rajawala, merobek pelat, tapi tidak menahan.
Lalu kegelapan menelan segalanya. Rangga jatuh ke dalam Palung, ke bawah, terus ke bawah, penjaga raksasa menyusut menjadi bayangan di atasnya, mata-mata merahnya mengecil menjadi titik-titik bara di mulut lubang.
"Aku lewat," kata Rangga, napasnya tercekat. "Adit... aku di dalam Palung."
Tidak ada jawaban. Hanya statik.
"Adit?"
Statik. Lalu, samar, seperti suara dari ujung dunia: "...dengar... terputus... hati-hati... ja—"
Lalu sunyi.
Rangga sendirian sekarang, turun ke kedalaman yang tidak pernah dijangkau manusia, menuju jantung dari semua yang telah menghancurkan dunianya. Di atas, gerbang menutup di balik bayangan penjaga. Di bawah, kegelapan menunggu.
Dan di suatu tempat dalam kegelapan itu, sesuatu yang sangat besar dan sangat sabar mulai menyadari bahwa ada penyusup turun ke rumahnya.