Jalan ke pesisir terasa berbeda kali ini.
Saat konvoi pertama berangkat dari Pusat menuju Stasiun Tanjung, Rangga duduk di kabin truk depan, memandang dunia luar yang dulu ia lihat dalam pelarian dan ketakutan. Dulu, perjalanan ke Pusat penuh benteng sekarat dan pengungsi yang putus asa. Sekarang, di beberapa tempat sepanjang jalan, ia melihat hal yang belum pernah ia lihat: orang-orang di luar dinding. Bukan kabur. Bukan bersembunyi. Hanya berjalan, di bawah langit terbuka, di tanah yang dulu milik para Leviathan.
"Mereka mulai keluar," kata Pak Surya, duduk di sampingnya. Pria tua itu tampak lebih sehat daripada berminggu lalu, seolah hilangnya sirine mengangkat beban tahun-tahun dari pundaknya. "Lima belas tahun kita hidup seperti tikus di bawah tanah. Sekarang anak-anak bertanya kenapa kita pernah takut pada langit."
Di kursi belakang, Sari menempelkan wajahnya ke jendela, boneka robotnya—yang dulu sering Rangga perbaiki, yang Sari kirim ke garis depan sebagai jimat—dipeluk erat di pangkuannya. Gadis itu sembilan tahun sekarang. Ia tumbuh selama berminggu-minggu mengerikan itu, dengan cara yang seharusnya tak perlu dialami anak-anak.
"Kak Rangga," kata Sari, "Tanjung masih ada?"
Rangga ragu menjawab. "Sebagian. Mungkin."
Tapi ketika konvoi akhirnya mencapai pesisir dan Stasiun Tanjung muncul di kejauhan, jawabannya jadi jelas. Tanjung hancur. Saat evakuasi berminggu lalu, gerombolan Hiu telah merobek dinding-dinding pertahanan, meruntuhkan menara observasi tempat Rangga pernah menyaksikan kakaknya bertarung dan gugur. Bunker bawah tanah tergenang air laut. Yang tersisa hanya kerangka—baja berkarat dan beton retak di tepi laut yang kini, untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun, tenang.
Mereka turun dari truk. Bu Inten, yang ikut dalam konvoi, menutup mulut dengan tangan saat melihat reruntuhan dapur tempat ia dulu menyisihkan porsi ekstra untuk Rangga. Pak Surya berdiri diam, memandang tempat ia membesarkan dua anak yatim yang menjadi keluarganya.
Rangga berjalan ke tepi air. Ia berhenti di tempat Garuda pernah berdiri—tempat Bara pernah berdiri di antara dua Leviathan dan bunker, menolak mundur, lalu menarik tuas inti reaktor. Pasir di sini pernah hangus oleh cahaya putih yang membunuh kakaknya. Sekarang ombak kecil menjilat pasir itu dengan lembut, seolah laut sendiri sudah lupa apa yang pernah ia lahirkan.
"Kita bisa membangunnya kembali," kata Rangga.
Pak Surya menghampiri. "Membangun kembali benteng? Untuk apa? Tidak ada lagi yang perlu dipertahankan."
"Bukan benteng." Rangga berbalik menghadap reruntuhan, dan untuk pertama kalinya sejak ia bangun di ranjang rumah sakit, sesuatu menyala di matanya yang bukan kesedihan atau kewajiban. "Kota. Tanjung dulu kota nelayan, bukan? Sebelum semuanya. Pak Surya pernah cerita—dermaga, pasar ikan, anak-anak berenang di teluk."
Pak Surya menatapnya, lalu perlahan, sesuatu yang sudah lama mati di mata tua itu hidup kembali. "Dulu. Sebelum kau lahir. Sebelum Leviathan."
"Maka kita kembalikan." Rangga memandang teluk yang tenang. "Bukan dinding untuk bersembunyi. Dermaga untuk keluar. Pasar untuk hidup. Tempat di mana sirine bukan lagi suara yang paling sering didengar anak-anak."
Sari berlari menyusul, berhenti di samping Rangga, memandang laut yang sama. "Boleh aku berenang di sana suatu hari, Kak?"
Rangga berlutut di sampingnya, mengabaikan rasa nyeri yang masih tersisa di tubuhnya. "Suatu hari," katanya. "Akan kupastikan."
Mereka mulai hari itu juga. Bukan banyak—hanya membersihkan satu lorong, menambal satu atap, menyalakan satu lampu yang masih berfungsi. Tapi ketika malam turun di Tanjung, untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ada cahaya hangat di reruntuhan benteng tepi laut itu. Bukan cahaya peringatan. Bukan cahaya pertahanan. Hanya cahaya orang-orang yang pulang.
Rangga berdiri di reruntuhan menara, memandang ke laut, dan untuk pertama kalinya tak mencari apa pun yang akan bangkit dari kedalaman. Hanya laut. Hanya malam. Hanya rumah.