"Hiks... Ibu, tolong... kakiku sakit!"
"Jangan menangis, sayang. Kita akan keluar dari sini, ya. Percaya sama Ibu," suara ibunya penuh ketenangan, tapi Laura bisa merasakan kepanikan yang tersembunyi di baliknya.
"Ibu... Laura takut, apinya banyak..."
"Tolong! Seseorang tolong kami!" teriak sang ibu sambil mendorong anaknya ke arah pintu. "Laura, kamu duluan keluar, cepat!"
"Hiks... Ibu! Ibuuuu!!"
Laura tersentak bangun. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi pelipis, air matanya menetes di pipi. Bayangan wajah ibunya masih terukir di kepalanya, terjebak dalam mimpi buruk yang sama setiap malam. Ia menutup mata sejenak, membayangkan tangan ibunya yang hangat menenangkan dirinya tapi kini hanya tinggal kenangan.
Pagi yang cerah menyambut nya, ia hampir terlambat menghadiri rapat penting di perusahaan ayahnya. Namun langkahnya terhenti saat sosok yang paling tidak ingin ia temui berdiri menghalangi pintu kamar yang tidak lain ibu tirinya, Sonya.
"Heh! Anak pungut, buatkan sarapan untuk kami dulu!" bentak Sonya, sambil melempar piring hingga pecah di lantai dekat kaki Laura.
Laura menghela napas dalam, menahan kemarahan yang memuncak. Ia hanya menggeleng pelan tanpa sepatah kata pun, lalu merapikan rambut panjangnya, mengenakan jas hitam elegan, dan menyarungkan sepatu high heels.
"Dasar anak kurang ajar! Kamu dengar nggak perkataan saya?!" bentak Sonya sembari menjambak rambut Laura dengan kasar.
Laura mendesis, sudut bibirnya melengkung tipis. "Bibi Wati... siapkan sarapan untuk nenek lampir ini. Jangan lupa kasih makanan sehat. Kalau bisa, taruh sianida sekalian, Bik." Suaranya datar, menusuk siapa pun yang mendengarnya.
Tanpa rasa bersalah, Laura menepis tangan ibu tirinya, lalu melangkah pergi dengan senyum dingin layaknya senyum seorang pewaris perusahaan besar, sekaligus wanita yang menyimpan dendam dalam-dalam.
Saat berjalan menuju garasi, matanya tertumbuk pada paket besar bertuliskan nama Sonya Saraswati. Laura berhenti, menatapnya dengan tatapan selidik. Paket ini bisa jadi jebakan, atau justru pertanda rencana licik berikutnya dari ibu tirinya.
Ia menarik napas panjang, mengingat pesan terakhir ibunya yang selalu terngiang di telinga “Tetap kuat, Laura. Jangan biarkan mereka menguasaimu.” Perlahan ia mengambil paket itu dan memasukkannya ke mobil. Menyalakan mesin, matanya menatap tajam paket tersebut.
"Permainan apa lagi yang kau rencanakan, ibu tiriku tersayang?" gumamnya, menginjak gas perlahan.
Gedung megah Kiehl Operation menjulang kokoh. Begitu Laura turun dari mobil, semua mata tertuju padanya. Para karyawan menunduk hormat kepada anak tunggal CEO perusahaan ternama, pewaris masa depan yang sudah terbentuk sejak lama.
"Halo, Nona Laura. Selamat pagi. Nanti mau makan siang bersama kami?" tanya seorang karyawan ramah.
"Tidak. Terima kasih," jawab Laura singkat, cuek, lalu memencet tombol lift.
Ting !
Lift menutup, meninggalkan bisikan di luar. Laura menatap pantulan dirinya di kaca, senyum tipis yang tak pernah hilang menghiasi wajahnya, senyum seorang wanita yang siap membalas semua dendam masa lalu.
Pintu lift terbuka, dan sebelum ia sempat melangkah, tangan seseorang menahan pintu. Seorang pria berjas hitam masuk, aroma parfum mahal memenuhi ruang sempit itu. Laura sempat melirik bagian rahang tegas, serta sorot mata tajam, senyum tipis terkesan meremehkan. Dan yang utama Pria asing ini sangat tampan cuma Laura sudah terbiasa dengan hal ini.
“Boleh saya tekan tombolnya?” suara pria itu rendah, tenang.
Laura mengerutkan kening. “Sudah saya tekan.” Nada ketus keluar begitu saja.
Pria itu menoleh penuh, tatapannya seolah menelanjangi jiwa. Alih-alih tersinggung, ia tersenyum kecil. "Cepat sekali marah pada orang asing."
Laura mendengus, melipat tangan di dadanya. "Mungkin saya memang tidak suka basa-basi dengan orang asing."
Lift sunyi, hanya suara mesin yang bergerak. Sebelum pintu terbuka, pria itu menunduk sedikit, suaranya nyaris berbisik "Kalau begitu… mari kita lihat, apakah kita masih tetap orang asing setelah ini."
Laura menoleh, tapi pintu sudah terbuka. Pria itu melangkah keluar lebih dulu, meninggalkannya dengan perasaan janggal dan sedikit penasaran.
Beberapa menit kemudian, Laura duduk di ruang rapat, mengatur berkas di meja. Pintu terbuka, semua orang berdiri.
“Selamat datang, Tuan Arvino Baskara,” sambut direktur utama.
Di sanalah pria itu berdiri, sosok yang tadi bersamanya di lift. Senyum tipisnya muncul kembali, kali ini lebih menusuk.
Laura terdiam, tangan mengepal di bawah meja. Untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa akan berhadapan dengan permainan lebih berbahaya daripada sekadar dendam pada ibu tiri.
Arvino mengangkat alisnya, meneliti Laura dari atas ke bawah. "Sepertinya... kita akan saling bertemu lagi, ya," ucapnya pelan, tapi terdengar jelas oleh Laura.
Laura menahan napas, menatap balik dengan sikap dingin, tapi hatinya sedikit berdebar. Ini orang asing… atau mungkin bukan sepenuhnya asing? Pikirnya.
Rapat pun dimulai, membahas pembangunan apartemen mewah di lahan bekas kebakaran itu. Laura menatap peta dan berkas laporan, namun pikirannya sesekali melayang ke sosok Arvino yang duduk di seberang ruangan, tersenyum tipis, menunggu reaksinya.
Entah kenapa, Laura merasa familiar dengan peta pembangunan apartemen ini, seperti dia pernah datang ke tempat tersebut. Namun ia menepis perasaan itu dan mencoba fokus mencari tahu hal ini nanti. Selama rapat, Laura hanya memutar bolpoin di jemarinya, sedari tadi, dan setiap gerak-geriknya selalu dilirik oleh Arvino saat ia mempresentasikan di depan.
“Nona Laura, berdiri. Apa Anda tahu isi rapat yang baru saya sampaikan?” tanya Arvino.
“Aahh… uhh… emm… yaa, pasti tentang pembangunan apartemen bekas kebakaran di Anyer, kan? Lagian pengunjung bakal trauma kalau datang ke situ,” jawabnya asal.
Ayahnya, yang melihat putrinya tidak serius menghadiri rapat, merasa malu dan menepuk jidatnya. Rasanya ia ingin membuang muka saja.
“Pfft… Nona Laura Kiehl, saya sedang membicarakan proses proyek kerja sama perusahaan, belum sampai masalah pembangunan apartemen. Apa karena pacar Anda belum membalas pesan, makanya kehilangan fokus dalam rapat ini?” cengir Arvino tegas.
Laura yang mendengar itu rasanya kesal, dan emosinya memuncak. Ia merasa dipermalukan di depan ayah dan karyawan, ditambah lagi posisi yang ia incar direbut oleh pria bernama Arvino. Rasanya ia muak.
“Aduhh… uhh… saki perut… maaf, saya mohon undur diri sebentar,” titahnya, lalu pergi meninggalkan rapat dengan perasaan campur aduk.
Sebelum rapat berakhir, Laura kembali ke ruangannya dengan wajah muram. Sejak tadi ia menahan emosi, dan kini ingin meluapkannya sendirian. Namun begitu pintu terbuka, pemandangan di depan matanya membuat darahnya mendidih.
Sekretaris Jon orang yang seharusnya paling bisa ia andalkan malah terlihat asyik bercanda sambil menyantap kue.
“SEKRETARIS JON! Apa-apaan ini?! Berani-beraninya kau makan kue sambil bercanda di kantorku?!” bentaknya, meletakkan tas kerja dengan keras di atas meja.
“Wah, Nona Laura… jangan salah paham,” Jon cengir kuda sambil panik mengusir rekannya yang menitipkan berkas. “Hei, kau! Cepat keluar dulu!”
Laura memijat pelipis, menahan napas. “Aku sudah muak dengan pemandangan seperti ini. Jangan bikin aku kehilangan kesabaran.” Matanya kemudian tertuju pada benda kecil di atas meja.
Sebuah k*nd*m tergeletak di sana. Laura menyipitkan mata. “Ini… punya siapa?!”
Jon pucat. “E-ehhh… itu… maksud saya—“
“Jawab aku, Jon! Jangan coba-coba berbohong!” Laura melangkah mendekat, tangan terulur.
Jon hampir tersandung kursi, wajahnya merah padam. “M-maksudnya… itu… kond*m, Buk!”
Laura menatapnya sejenak, mulutnya mengeras, lalu meledak tertawa tak terkendali. “Hahaha! Kond*m?! Jadi selama ini kau… hahahaha!”
Jon tersipu, tidak tahu harus menatap kemana.
Laura meraih benda itu, tapi sebelum sempat menekannya ke meja, Jon menyambar barang itu dari tangan Laura.
“Apa-apaan, Jon! Kembalikan!” teriak Laura.
Mereka berebut, saling tarik-menarik. Kond*m itu melesat ke udara… dan tepat saat itu, Arvino Baskara muncul di pintu, menatap keduanya dengan ekspresi dingin.
Laura hampir tersedak tawa, tapi panik luar biasa. Dan dalam sekejap… kond*m itu menempel tepat di wajah Arvino, menutupi sebagian dahinya!
Arvino terpaku, matanya melebar, lalu perlahan menariknya dari muka dengan satu tangan, menatap keduanya dengan senyum tipis yang jelas menyimpan kejengkelan.
Laura menelan tawa, hampir jatuh dari kursi. Jon hanya bisa terdiam, wajah nya merah padam.
Arvino mengusap dahinya, matanya menatap Laura dan Jon dengan sorot campuran terkejut, kesal, dan curiga.
“Ini… apa maksudnya?! Kalian sedang bersenang-senang ya?” suaranya pelan tapi hampir terdengar mengejek.
Laura menelan ludah, menahan tawa. “Ehh… itu… kejadian yang tidak sengaja, Pak Arvino!”
Jon tergagap, bahkan dia merasa ingin menghilang saja dari bumi ini. “B-buk… iya, memang… tidak sengaja.”
Arvino mengangkat satu alis, tatapannya menusuk. “Hmm… kond*m… di ruang kerja anak CEO… cukup aneh, bukan?”
Laura menelan ludah lagi, jantungnya berdetak kencang. Ia bisa merasakan Arvino mulai curiga.
“Sangat… kebetulan. Atau mungkin… bukan kebetulan sama sekali,” gumam Arvino, menyipitkan matanya yang tajam seolah mencoba menebak cerita di balik benda itu.
Laura dan Jon saling berpandangan, panik tapi juga ingin tertawa. Mereka tahu, momen ini bisa menjadi cerita lawak di kantor… tapi juga bikin Arvino makin memperhatikan Laura.
Kond*m itu kini tergulung di lantai, saksi bisu dari salah satu momen paling awkward dan lucu di Kiehl Operation—dan entah bagaimana, Arvino tampak mulai lebih memperhatikan Laura setelah /kejadian itu.
Beberapa detik setelah kond*m tergulung di lantai, Arvino berdiri di depan meja Laura, senyum tipis tapi tajam masih terpatri di wajahnya.
Laura menahan napas, menatapnya dengan campuran panik dan ingin tertawa. Jon? Sudah tak berani berkedip.
Arvino mencondongkan badan sedikit, matanya menatap Laura dari atas ke bawah.
“Hmm… sepertinya ruang kerjamu penuh kejutan,” ucapnya pelan. Sembari menatap keliling ruangan Laura.
Laura tergagap. “Ehh… Pak Arvino… itu… eh… bukan maksud saya…”
Arvino mengangkat satu alis, senyumnya masih menawan tapi menyimpan sindiran. “Bukan maksudmu? Bisa dibilang ini… kejutan yang sangat… pribadi.”
Laura menelan ludah. “B-buk… bukan begitu, Pak!”
Tanpa peringatan, Arvino mengambil kursi Jon dan menaruhnya sedikit terlalu dekat dengan Laura. “Hmm… Jon, sepertinya kamu harus lebih waspada dengan bosmu.”
Jon menelan ludah, wajahnya semakin merah. “Y-ya, Pak…”
Laura menatap Arvino tajam. “Pak… jangan coba-coba ganggu urusanku lagi.”
Arvino tersenyum tipis, suara rendah tapi lembut, penuh sindiran. “Atau aku bisa saja… membuat hari-harimu di kantor lebih… menarik,” ucapnya sambil mengedipkan sebelah mata.
Laura menghela napas, menegakkan punggungnya. “Ekhem… lupakan soal kejadian memalukan tadi, dan saya minta maaf jika membuat Anda tidak nyaman, Tuan Arvino Baskara. Maksud kedatangan Anda ke ruangan saya?” tanyanya sambil mengernyitkan alis, menatap pria itu dengan serius.
Arvino tersenyum cengir, menatap Laura dengan mata berbinar. “Oh, tidak masalah. Aku harus memaafkan calon istriku… untuk hal sepele seperti itu,” ucapnya tenang.
Laura seakan sedang bermimpi. Ia menepuk pipinya sendiri, lalu melangkah mendekat, melipat tangan di d**a.
“Calon istri??” gumamnya heran. “Apakah kau bercanda, atau… kau hanya ingin bermain-main denganku?”
Arvino mengangguk santai, tetap tersenyum. “Iya, Nona Laura Kiehl. Karena kelalaianmu di ruang rapat tadi, ini undangan acara makan malam di mansion keluarga Baskara. Jangan lupa hadir.” Ia meletakkan kartu undangan di meja Laura dengan penuh gaya.
Laura menatap kartu itu dengan bulu kuduk merinding. Bagaimana mungkin pria asing yang baru saja ia temui di lift dan yang baru saja melihat ia berebut k****m dengan sekretarisnya tiba-tiba melamarnya?
“Random sekali… sulit ditebak… apakah ini mimpi buruk atau nyata?” gumamnya dalam hati, merasa dunia seolah berputar lebih cepat dari yang bisa ia tangani.
Hari mulai gelap, dan Jon terpaksa lembur karena kelalaiannya membuat tamu terhormat yaitu Pak Arvino menjadi tidak nyaman. Ia duduk di meja, menatap tumpukan dokumen sambil menggerutu.
Laura melangkah keluar dari ruangannya, menatap Jon sebentar. “Selamat tinggal, Sekretaris Jon. Aku pulang dulu,” ucapnya dingin tapi santai.
Jon menatapnya heran. “Buk… eh… bonus gaji saya ikut naik, kan? Demi semangat lembur ini?”
Laura menoleh, alis terangkat tipis. “Itu bukan urusanku. Aku bukan bagian keuangan. Kalau mau, pasrahkan saja dengan gajimu.” Lalu ia melangkah menjauh, heels-nya menapak lantai dengan gesit.
Jon menunduk, wajah nya pucat pasih mendengar klarifikasi dari atasannya. “Huh… aku yang apes, harus lembur, dokumen numpuk, dan baru saja nyaris bikin bosku dan calon istrinya… berseteru gara-gara barang genit!” Ia mengelus tengkuk, menghela napas panjang.
Di sudut lain, Jon berbicara pada dirinya sendiri. “Kenapa suasana hati Buk Bos berubah ya? Tadi marah-marah, sekarang tiba-tiba manis dan sok imut. Idihhh! Aku bener-bener nggak ngerti hidupku.”
Sementara itu, di luar kantor, Laura melangkah di koridor, heels-nya berdetak ritmis di lantai. Pikirannya campur aduk antara geli dan kesal. “Random banget. Baru berebut kond*m, sekarang disodorin undangan makan malam sama Arvino. Serius, dunia ini makin gila!”
Lampu gedung mulai redup, Jon masih terduduk menatap tumpukan kertas, dengan satu kalimat terus berputar di kepala “Kenapa aku harus jadi korban semua kekacauan ini… huh!” sembari menggeleng kan kepalanya
Laura tiba di mobilnya dan teringat soal paket milik ibu tirinya tadi. Tanpa aba-aba, ia mengambilnya dari bangku belakang, membuka kotak paket itu, dan terkejut setengah mati. Ia sampai melemparnya karena tak menyangka isinya.
“Astaga, apa - apaan ini?!” teriaknya, lalu dengan cepat mengencangkan sabuk pengaman dan bergegas menuju kantor polisi.”