Langit malam itu tidak berbintang. Awan hitam tebal menggantung rendah seolah-olah langit sendiri sedang berduka. Di kediaman utama Kelan Yu, suasana yang biasanya tenang dan damai kini berubah menjadi lautan api. Suara teriakan, benturan senjata, dan derap langkah kaki yang bergegas memenuhi udara, menciptakan irama kematian yang mengerikan. Di tengah kekacauan itu, seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun bersembunyi di balik tumpukan kayu bakar di gudang belakang kediaman. Tubuhnya gemetar hebat, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya yang mungil. Itu adalah Yu Zutora.
Matanya yang bulat dan bening penuh dengan air mata. Ia bisa melihat dari celah-celah dinding kayu bagaimana orang-orang berbaju zirah berwarna emas—warna lambang Kekaisaran—berlarian ke sana kemari, membunuh siapa saja yang bergerak. Di kejauhan, ia melihat sosok ayahnya, Yu Cang, pemimpin Kelan Yu yang gagah perkasa, kini bertarung melawan tiga orang jenderal Kekaisaran sekaligus. Pedang di tangan ayahnya berkilau memancarkan cahaya biru, namun setiap ayunan yang dilakukannya terasa semakin berat dan lambat. Darah sudah membasahi sebagian besar pakaian ayahnya.
"Jangan biarkan satu pun yang lolos! Musnahkan akar dan cabang Kelan Yu!" teriak seorang pemimpin pasukan musuh dengan suara lantang yang menusuk tulang.
Hati kecil Zutora terasa seperti diremas. Ia tidak mengerti mengapa kedamaian yang selama ini ia nikmati harus hancur dalam satu malam saja. Ia ingat betul bagaimana beberapa hari yang lalu, utusan dari Kekaisaran datang dengan sikap sombong, menuntut agar Kelan Yu menyerahkan seluruh harta dan teknik warisan leluhur. Kelan Yu menolak, karena hal itu adalah harga diri dan nyawa mereka. Dan kini, penolakan itu dibayar dengan darah.
Tiba-tiba, pintu gudang terbuka paksa. Seorang prajurit Kekaisaran dengan wajah bengis masuk, membawa obor di tangan kiri dan pedang di tangan kanan. Matanya menelusuri setiap sudut ruangan yang remang itu. Zutora menutup mulutnya dengan kedua tangan sekuat tenaga, menahan napas hingga dadanya terasa sesak. Ia berdoa dalam hati agar ia tidak ditemukan. Namun, takdir malam itu seolah tidak berpihak padanya. Saat prajurit itu hendak pergi, ia melihat sepasang mata kecil yang berair bersinar di balik tumpukan kayu.
"Hah! Ada tikus kecil ternyata," gumam prajurit itu sambil menyeringai kejam. Ia melangkah mendekat.
Zutora mundur perlahan hingga punggungnya menyentuh dinding kayu. Tidak ada jalan keluar lain. Ketika prajurit itu mengangkat pedangnya untuk memenggal kepala anak kecil itu, sebuah bayangan hitam melesat masuk dan menebas leher prajurit tersebut dalam sekejap. Tubuh besar itu roboh ke tanah, mengucurkan darah segar yang membasahi lantai gudang.
Orang yang datang menyelamatkan itu adalah Paman Yu Wen, pengawal setia ayahnya. Tubuhnya penuh luka, dan satu lengannya sudah patah terkulai tak berdaya. Wajahnya yang tua namun gagah kini penuh keputusasaan. Ia segera mendekati Zutora, meraih bahu anak itu dengan tangan yang masih tersisa.
"Tuan Muda Zutora, dengarkan aku baik-baik," bisik Yu Wen dengan napas tersengal, matanya menatap tajam ke dalam mata anak itu. "Kelan kita telah dikhianati. Kekaisaran takut akan potensi kita yang suatu hari bisa menyaingi kekuatan mereka. Mereka tidak akan membiarkan siapa pun hidup."
"Ayah... Ibu... di mana mereka, Paman?" tanya Zutora dengan suara parau, air matanya tak henti mengalir.
Yu Wen terdiam sejenak, menahan rasa sakit yang mendalam di hatinya sendiri. "Mereka sedang menahan musuh di depan agar kau bisa lolos. Kau harus hidup, Zutora. Kau adalah satu-satunya harapan yang tersisa."
Tiba-tiba, suara langkah kaki banyak terdengar mendekat ke arah gudang. "Dia ada di sini! Aku melihat ada yang masuk ke sana!" teriak seseorang dari luar.
Wajah Yu Wen berubah pucat. Ia tahu mereka sudah dikepung. Ia mengeluarkan sebuah bungkusan kain kecil dari dalam dadanya dan menyelipkannya ke tangan Zutora. Diikuti dengan itu, ia memberikan sebuah gulungan perkamen tua berwarna kuning keemasan.
"Ini adalah warisan terpenting Kelan Yu, 'Kitab Jiwa Naga'. Dan ini... adalah inti kekuatan leluhur kita. Kau harus menjaganya dengan nyawamu, dan suatu hari nanti... gunakanlah kekuatan itu untuk mengembalikan kehormatan Kelan Yu," ucapnya terburu-buru.
Pintu gudang dihantam keras dari luar. Kayu-kayu pintu itu mulai retak. Yu Wen menggendong Zutora dan berlari ke arah jendela belakang yang menghadap ke tebing curam dan sungai deras di bawahnya. Tidak ada jalan lain selain melompat.
"Paman akan menahan mereka di sini. Kau harus pergi! Ingatlah wajah-wajah mereka! Ingatlah malam ini! Dan ingatlah nama Kelan Yu!" seru Yu Wen. Ia mengangkat tubuh kecil Zutora dan melemparkannya keluar jendela ke arah semak-semak di tepi tebing.
Namun, di detik yang sama itu juga, pintu gudang runtuh. Seorang penyihir dari Kekaisaran masuk, melihat anak yang dilempar itu, dan dengan cepat melontarkan serangan sihir berupa cahaya merah menyala. Yu Wen berusaha menangkis serangan itu dengan tubuhnya sendiri, namun sisa tenaganya sudah habis. Sebagian kekuatan sihir itu lolos dan melesat ke arah Zutora yang sedang melayang di udara.
"AAAAAA!!"
Sebuah rasa sakit yang luar biasa tajam menusuk di bagian wajah sebelah kiri. Zutora menjerit kesakitan saat cahaya merah itu mengenai matanya kiri. Ia merasakan sesuatu yang panas dan basah mengalir turun membasahi pipinya. Pandangan sebelah kirinya seketika berubah menjadi kegelapan abadi.
Dengan sisa kesadaran yang mulai menghilang karena rasa sakit dan ketakutan, Zutora jatuh ke bawah, berguling-guling menuruni lereng berbatu sebelum akhirnya jatuh ke dalam arus sungai yang hitam dan dingin. Di saat tubuhnya diseret arus yang deras, pandangannya yang masih tersisa menangkap gambaran terakhir: gudang itu meledak, dan seluruh kawasan Kelan Yu berubah menjadi lautan api yang tak berujung.
Di tengah dinginnya air sungai dan rasa sakit yang menyiksa di wajahnya, satu tekad tertanam dalam di lubuk hatinya yang paling dalam, sekeras batu karang dan sedalam samudra.
Aku akan bertahan hidup. Aku akan menjadi kuat. Dan suatu hari nanti... aku akan membuat seluruh Kekaisaran membayar harga yang mahal atas setiap tetes darah yang tumpah malam ini.
Dengan pikiran itu, kesadaran Yu Zutora pun lenyap, terbawa arus menuju takdir panjangnya yang baru saja dimulai.