“Aku harus cepat pergi. Setidaknya sebelum penjaga datang,” gumam Sakura membuka lemari bergambar Doraemon dan terlihat sudah ada tas kecil dan sebuah koper yang ia siapkan.
Sakura segera menenteng tas kecil sembari ia memakai sepatu flat berwarna siver. Kemudian dengan cepat ia meraih koper dan mengeluarkannya.
“Aduh repot sekali,” kesal Sakura berkacak pinggang sembari sedikit berfikir.
“Jika aku kabur dengan bawa banyak bawaan pasti sangat sulit. Sebaiknya aku tinggal saja barang-barang ini. Uang tabunganku masih banyak untuk aku belikan barang yang kubutuhkan nantinya.” Sakura kini memutuskan untuk meninggalkan kopernya itu.
Sebelum membuka pintu kembali, Sakura menyambar daging ayam kecap kesukaannya. Kemudian ia mengendap-endap keluar rumah. Tas kecil ia taruh di balik bajunya sehingga tak ada yang curiga.
Sakura yang turun ke bawah kini mengintip melalui celah horden. Nampak hanya sekuriti di luar.
Sakura mengusap dadanya, "Bodyguard ayah sebentar lagi akan datang. Aku harus cepat," gumam Sakura.
Ia berjalan berbalik. Mulutnya seketika terkatup rapat setelah melihat seorang asisten rumah tangga setengahbaya sudah berada di belakangnya entah sejak kapan.
"Maaf, Non mau kemana?" tanya wanita itu terdengar asal bagi Sakura.
Dengan wajah santai Sakura pun berkata, "nunggu ayah pulang. Gk pulang juga. Padahal sudah malam."
Sakura masih memasang wajah santai sembari berlalu begitu saja meninggalkan asisten rumah tangga yang sempat menaruh kecurigaan padanya.
Namun ketika Sakura mengintip dari celah pintu ruang perpustakaan, wanita itu berlalu begitu saja. Sepertinya sudah tidak ada lagi besit rasa curiga.
Sakura mulai menjalankan aksinya untuk kabur. Ia keluar lewat jendela ruang buku ketika takut akan ada yang memergokinya pergi. Hal itu tidak mustahil ketahuan ketika asisten rumah tangga milik Ardian sangat banyak. Semuanya terdiri dari 25 orang.
Ia membuka sebuah besi penutup gorong-gorong besar yang ada di belakang rumahnya. Sebelum keluar lewat jalan itu, Sakura memasang masker untuk penutup hidung. Barulah ia menunduk dan jalan dengan jongkok.
"Menjijikan sekali," gumam Sakura menitikan air matanya ketika tidak kuat dengan bau busuk yang menyengat.
Tiba-tiba saja Sakura berjingkat kaget ketika mendengar suara tikus yang mencicit.
"Aw ..." Ia mengerang setelahnya ketika kepalanya membentur atap gorong-gorong yang keras.
"Huwa ... apa ini karena aku sudah durhaka sama ayah?" tanya Sakura tiba-tiba menangis sesegukan.
Namun tangisannya hanya berlangsung beberapa detik saja. Setelah menghapus air matanya, ia langsung bersikap optimis.
"Davian, aku datang kepadamu." Wanita itu kembali merangkak.
Dua menit berada di dalam gorong-gorong yang panjang, akhirnya gadis itu bisa keluar.
"Tinggal beberapa langkah lagi," ucap gadis itu sudah ada di pinggiran jalan raya.
Tangannya langsung saja menghentikan mobil taxi.
"Akhirnya aku bisa keluar dari rumah tanpa penjagaan." Wanita itu berkata di dalam hati dengan begitu gembira.
"Maafkan aku ayah. Aku terpaksa melakukan ini. Bukankah ayah bilang aku sudah dewasa dan harus segera menikah. Sekarang aku sedang menemui impianku. Mengejar cinta Davian," gumam gadis itu mengeluarkan sebuah gambar dari kertasnya.
Sebuah foto yang menampakan seorang aktor tampan idola Sakura.
"Aku rela melakukan apapun untuk mendapatkan cintamu. Bahkan aku rela memberikan keperawananku untuk dia ... Ups ..." Sakura langsung membekap mulutnya sendiri dengan rapat.
"Apa yang aku bicarakan ini. Dasar tidak waras!" gerutu Sakura yang kesal sendiri dengan fikirannya yang aneh-aneh.
Sakura kini turun dari taxi yang ia naiki. Penampilan rapi ketika sebelum ia keluar dari rumah, justru kini sudah menjadi kebalikan. Pakaian yang bisa dibilang cukup buruk keluar dari taxi dengan tas kecil. Pakaiannya kotor terkena lumpur dari gorong-gorong dan rambut panjangnya terlihat berantakan, serta matanya agak sedikit sembab. Namun wajahnya langsung riang. Dengan semangat yang menggebu ia melangkah ke arah sebuah bangunan besar di depannya.
Namun langkahnya melambat melihat sosok bayangan di kegelapan yang tidak tertimpa dengan cahaya. Seolah sesosok vampir sedang menunggunya di seberang jalan. Tepatnya di samping gedung apartemen megah yang bertuliskan Princess Fish.
Ah ... fikirannya kembali terbayang pada film horor yang kemarin ia tonton. Jika vampir itu benar-benar tampan seperti yang ada di film, tidak apa-apa. Tapi bagaimana kalo sebaliknya, ia bisa saja mati sebelum mendapatkan pria idaman, menikah, punya anak dan hidup bahagia.
Gadis itu segera menepiskan bayangan aneh yang tiba-tiba saja melintas di otaknya.
Bruk ... bayangan itu entah mengapa berlari ke arahnya. Sakura yang sudah menyebrang jalan menghentikan langkahnya. Jantung Sakura mencuat seketika. Bukannya berhenti, pria itu justru langsung menabrak pundak kiri miliknya hingga membuatnya jatuh ke belakang.
"Aww ... " gadis itu meringis karena bokongnya yang kesakitan akibat jatuh terduduk.
"Sorry," ujar sosok bayangan yang sempat membuat bulu kuduknya merinding.
Pria itu langsung segera pergi meninggalkannya dengan tanpa membantu Sakura.
Sakura langsung berdiri dengan perasaan kesal. Hampir saja dirinya mati berdiri akibat ulah pria itu, terutama sikap aneh bak vampir.
"Eh kamu siapa sih? Nabrak sembarangan gk mau tanggung jawab lagi!" protes Sakura membuat langkah pria itu terhenti dan berbalik badan ketika tahu jika Sakura berteriak padanya.
"Aku sudah minta maaf" pria itu menjawab dengan nada malas. Wajahnya datar nampak dengan tangan yang membawa kertas dan botol minuman.
Tangan Sakura terkepal pada sosok pria yang baru ia temui terutama ia ajak bercakap.
"Dasar-"
"Kamu gk tau siapa aku, dasar Ayam Hutan! Aku adalah Zein Arsena seorang aktor terkenal" ucapnya memotong. Wajahnya dingin yang menyebalkan bagi Sakura.
"Owh ..." Sakura pergi meninggalkan pria menyebalkan itu setelah hanya ber oh ria.
"Heh Ayam Hutan!" teriak pria itu. Tapi tidak di indahkan oleh Sakura yang sudah menghilang di balik pintu hotel.
"Dasar Ayam Jantan. Masih ada aja ya yang suka mabuk kaya gitu?" decak Sakura masih mengingat bau yang menguar di tubuh pria itu tadi.
"Ada yang bisa saya bantu Nona?" tanya seorang pria muda penunggu di bagian kasir. Pelayanan hotel yang Sakura inginkan.
"Aku ingin bertemu dengan Davian!" sahut Sakura tak ingin lama.
"Davian siapa ya?" tanya pria itu memandang penampilan Sakura dengan sedikit menilai.
Sakura memutar bola matanya dengan malas, "Aktor idola ku dong. Aku tahu, dia tinggal disini." Sakura begitu antusias.
"Maaf Nona. Davian memang tinggal disini. Tapi saya tidak ijinkan anda disini!" ucap pria itu menolak.
"Kenapa tidak boleh? Kamu fikir aku tidak punya uang untuk sewa atau bahkan membeli salah satu apartemen," ucap Sakura ngotot kali ini.
Pria itu nampak kebingungan sehingga memanggil seorang satpam. Dari penampilan Sakura pria itu tak bisa melayani Sakura.
"Bawa gelandangan ini keluar!" seru pria itu pada satpam.
Sebelum satpam itu menggiring Sakura keluar, Sakura sepontan mengelak.
"Siapa sih Bos kamu! Aku akan beli salah satu apartemen disini!" teriak Sakura dengan keras hingga ia menjadi tatapan para pegawai yang lain.
"Ada apa ini ribut-ribut!" seru seorang pria setengah baya dengan pakaian nyetil bersetelan jas hitam menghampiri meja resepsionis.
Sakura bisa menilai jika orang itu memiliki peran penting disini. Terdengar suaranya yang menggetarkan para pekerja.
"Maaf Pak. Wanita ini memaksa untuk membeli salah satu kamar. Tapi dia seorang gelandangan, atau sedikit kurang waras," jelas pria muda itu tanpa berfikir panjang terlebih dahulu.
"Sembarangan aja kalo ngomong. Jangan pandang orang dari penampilannya. Kamu belum tahu siapa aku!" seru Sakura membela diri.
Pria yang merupakan orang penting di gedung itu kini memandangi penampilan Sakura dengan saksama. Ucapan Sakura yang meyakinkan, namun penampilannya membuat ia percaya jika Sakura hanya seorang gelandangan.
"Kalau begitu tunjukan bukti! Bukankah kamu akan membeli salah satu ruang disini?" kata pria itu agak bijak.
Sakura tersenyum senang dengan sikap atasan yang memberikannya peluang.
"Tapi Pak dia itu-"
"Cukup! Jika wanita ini memang seorang gelandangan kamu akan mendapat kenaikan pangkat. Tapi jika dugaanmu salah, maka aku akan menurunkan jabatanmu." Pria itu memotong ucapan anak buahnya.
Sakura menyeringai mendengar ucapan atasan itu. Dengan cepat ia mengeluarkan sebuah tas kecil branded yang sudah tidak kentara setelah masih tertinggal bercakan lumpur.
Sebuah kartu debit ia keluarkan dengan santai. Kartu debit eksklusif berwarna silver yang membuat semua orang terkesima sesaat.