Salju tipis mulai turun di Puncak Awan, menyelimuti pelataran luas Keluarga Xiao dengan warna putih yang pucat. Namun, dinginnya cuaca hari itu tak sebanding dengan tajamnya tatapan ribuan pasang mata yang tertuju ke tengah panggung batu.
"Xiao Tianlong! Maju ke depan!" teriakan Penatua Pertama, Xiao peng, menggelegar, memecah kesunyian.
Di sudut barisan, seorang pemuda berusia tujuh belas tahun melangkah maju. Wajahnya rupawan namun pucat, dengan garis rahang yang tegas menunjukkan keteguhan hati yang luar biasa. Meski mengenakan jubah abu-abu yang sudah lusuh, pundaknya tetap tegak.
"Lihat si sampah itu," bisik-bisik mulai terdengar dari kerumunan murid klan.
"Sudah sepuluh tahun dia mencoba, tapi tetap saja tertahan di tingkat pertama Body Tempering. Dia hanya membuang-buang sumber daya klan!"
Tianlong mengabaikan hinaan itu. Ia berhenti di depan sebuah batu hitam setinggi manusia yang dikenal sebagai Batu Penguji. Dengan napas yang diatur, ia meletakkan telapak tangannya di permukaan batu yang sedingin es tersebut.
‘Sekali saja... kumohon, bereaksilah!’ batin Tianlong berteriak.
Ia memeras setiap tetes energi dalam ototnya, mencoba mengalirkan Qi yang tipis ke dalam batu tersebut. Satu detik... dua detik... keheningan yang menyiksa terjadi. Batu itu tetap gelap gulita, tanpa ada satu pun cahaya yang muncul.
"Hasil: Body Tempering Realm, Tingkat 1," ucap Penatua Xiao Peng dengan nada jijik yang terang-terangan. "Status: Nadi Naga Mati. Sama sekali tidak ada kemajuan dalam satu tahun terakhir!"
Tawa meremehkan meledak di seluruh pelataran.
"Naga Langit? Nama itu terlalu berat untuk pecundang sepertimu!" teriak Xiao Yan, putra Penatua Pertama yang berdiri sombong di barisan depan. Xiao Yan baru saja mencapai Qi Gathering tingkat 3, menjadikannya jenius nomor satu di klan.
Tianlong mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan, mengalirkan darah segar. Namun, yang paling menyakitkan bukanlah tawa mereka, melainkan tatapan seorang gadis berbaju biru di tribun kehormatan. Lin Xueru. Tunangannya—setidaknya, sampai hari ini.
Lin Xueru berdiri, suaranya tenang namun dingin seperti es kutub. "Paman Xiao Peng, karena hasil hari ini sudah jelas, aku ingin menyampaikan pesan dari ayahku. Pertunangan antara keluarga Lin dan Xiao Tianlong... resmi dibatalkan mulai saat ini. Keluarga Lin tidak bisa menerima menantu yang bahkan tidak bisa melindungi dirinya sendiri."
Dunia seolah runtuh di bawah kaki Tianlong. Hinaan klan bisa ia tahan, tapi pengkhianatan di depan umum ini adalah pedang yang menusuk langsung ke jantungnya.
"Kau..." suara Tianlong serak, matanya menatap tajam ke arah Xueru. "Kau membatalkannya di sini, di saat aku sedang jatuh?"
"Dunia ini hanya milik yang kuat, Tianlong. Kau dan aku berada di dunia yang berbeda," jawab Xueru tanpa sedikit pun rasa bersalah sebelum berbalik pergi.
"Pergi dari panggung ini, Sampah! Kau mengotori tempat ini!" Xiao Peng mengibaskan lengan bajunya dengan kasar. Sebuah gelombang energi Qi yang kuat menghantam d**a Tianlong.
BRUAK!
Tubuh Tianlong terlempar hingga lima meter, jatuh tersungkur di atas salju yang membeku. Darah merah segar menyembur dari mulutnya, menetes dan membasahi sebuah liontin giok kuno yang ia kalungkan di lehernya—satu-satunya peninggalan ibunya yang misterius.
Saat darah itu menyentuh permukaan giok yang retak, sesuatu yang mustahil terjadi. Giok itu tidak memantulkan darah, melainkan menyerapnya habis. Sebuah getaran panas tiba-tiba menjalar dari d**a Tianlong ke seluruh pembuluh darahnya.
Di dalam kepalanya, sebuah suara berat yang seakan berasal dari zaman purba bergema, membuat jiwanya bergetar hebat.
"Sepuluh ribu tahun tertidur... akhirnya, keturunan dengan Darah Naga Sejati telah membangunkanku dengan amarahnya."
"Wahai manusia kecil, apakah kau ingin membalikkan langit dan membumihanguskan mereka yang menghinamu?"
Mata Xiao Tianlong yang tadinya meredup tiba-tiba berkilat keemasan. Rasa sakit di tubuhnya menghilang, digantikan oleh kekuatan yang sangat panas dan liar.
‘Siapa... siapa kau?’ tanya Tianlong dalam kesadarannya.
"Aku adalah penguasa yang terlupakan. Aku adalah takdirmu. Aku... adalah Sang Naga Langit!"