Kasih ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa.
Hanya memberi tak harap kembali.
Bagai sang surya menyinari dunia.
Potongan lirik lagu ini tak terbantahkan lagi. Sepertinya, satu-satunya hal yang abadi dan tak akan pernah padam adalah rasa sayang seorang ibu pada anak-anaknya. Walau banyak yang bilang ibu adalah sosok cerewet dan suka marah-marah, namun jauh di lubuk hatinya, tak ada yang lebih berharga daripada kesejahteraan anak-anaknya.
Dalam Islam pun, ibu mendapatkan tempat pada posisi yang sangat mulia, sehingga anak diwajibkan hormat kepada ibu terlebih dahulu, sebelum kepada Ayah.
Sebagaimana jawaban yang disampaikan Rasulullah SAW saat salah seorang sahabat bertanya kepadanya.
"Wahai Rasulullah, kepada siapakah seharusnya aku berbakti pertama kali?".
Nabi memberikan jawaban dengan ucapan "ibumu" sampai diulang tiga kali, baru kemudian yang keempat Nabi mengatakan "ayahmu". (HR. Bukhari dan Muslim)
Sungguh, berbakti kepada ibu merupakan ibadah yang sangat agung. Bahkan, kebaikan sebesar apapun rasanya belumlah cukup untuk membalas budi baiknya.
Ibu adalah wanita yang karenanya surga dunia itu ada. Ridhonya menjadi penyelamat hidup kita. Rumah menjadi bercahaya karena perawatan tangan dinginnya. Namun, apa jadinya ketika cahaya itu meredup. Ibu, sebagai cahaya rumah kami tiba-tiba sakit.
Dia didiagnosa oleh dokter terkena penyakit anemia akut. Penyakit ini disebabkan oleh kurangnya sel darah merah atau sel darah merah yang tidak berfungsi di dalam tubuh yang menyebabkan aliran oksigen berkurang ke organ tubuh.
Awalnya ibu hanya kelelahan. Kami mengira ibu hanya kecapean dengan rutinas sehari-harinya. Kulitnya pucat. Terlihat jelas pada wajah, gusi, bagian dalam bibir, kelopak mata bawah, dan punggung kukunya. Sering mengeluh pusing, jantungnya berdebar kencang serta tangan dan kakinya sering terasa dingin.
Gejala-gejala tersebut tidak kami sadari dan perhatikan. Hanya perawatan-perawatan biasa dan memberikan motivasi agar ibu semangat dan tidak mengeluh.
Hingga ibu sudah tidak kuat lagi dan kami membawanya ke rumah sakit.
Betapa terkejutnya mengetahui hemoglobin ibu dibawah rata-rata dan harus secepatnya tranfusi darah. Di sana juga kami baru mengetahui kalau ibu didiagnosa oleh dokter terkena penyakit anemia yang sudah akut.
Setelahnya, berkali-kali kita keluar masuk rumah sakit. Mencari donor untuk transfusi darah lima sampai tujuh kantong untuk memenuhi standar hemoglobinnya yang selalu rendah.
Penyakit ini membuat ibu rapuh. Berbagai cara sudah dilakukan. Selain obat dari dokter ibu juga meminum obat-obat herbal seperti minum madu, sari kurma, dan s**u untuk menambah tenaganya. Namun tetap penyakit itu setia menemaninya.
Ibuku wanita yang kuat. Jarang sekali berkeluh kesah, menyerah bahkan berputus asa. Jikalau pun sakit tak pernah dirasa. Dan kini disetiap dua bulan sekali kami berkunjung disini. Bangsal yang setia menemani.