Masih diruang yang sama, mawar tiga. Kali ini aku akan menceritakan tetangga bangsal depan disamping jendela. Pasien perempuan yang kutaksir berusia lima puluhan. Rita Anggraini namanya.
Bu Rita bergabung disini karena terjatuh di kamar mandi. Pinggangnya keseleo. Menurutku harusnya berobat ke tukang urut saja. Biar urat-uratnya diluruskan. Tapi pemahaman orang berbeda. Mungkin Bu Rita lebih nyaman dirawat disini.
Ketika rasa sakit itu datang Bu Rita berteriak dan memaki. Segala sumpah serapah keluar. Tak elok sekali mendengarnya. Harus banyak istighfar.
Bu Rita dijaga juga bergantian. Kalau siang yang menjaga anak perempuannya. Berganti malam suaminya.
Keduanya tak pernah terlewat dengan amukannya. Semisal anaknya berkomentar ketika Bu Rita kesakitan.
"Sabar Bu! Istighfar..".
Semakin marahlah Bu Rita. Mungkin lebih baik diam pikir anaknya. Dinasehati pun percuma. Malu juga dengan penghuni bangsal yang lain. Walau tidak ada yang berkomentar, tapi merasa risih dan terganggung juga dengan ulahnya.
Selain marah, Bu Rita juga banyak maunya. Tempat tidurnya kurang tinggi. Ketika ditinggikan katanya jangan terlalu tinggi. Saat diturunkan, Bu Rita berteriak pinggangnya sakit.
Setiap hari. Selalu begitu. Ada saja tingkahnya. Harus banyak sabar melihat tabiatnya.
Selain mendengar teriakan dan makiannya, kita juga disuguhkan untuk mendengar teleponnya yang berderang dering setiap saat. Sungguh mengganggu.
Lagi. Saat berinteraksi ditelepon pun Bu Rita memaki dan mengumpat. Mungkin memang sudah kebiasaannya begitu.
"Eh, duit dalam lemari itu awas kalau berkurang. Ibu masih hafal jumlah, bentuk, dan susunannya. Berkurang sedikit saja mati kau yaa...".
Lain waktu.
"Bayar utang kau lun**. Jangan mentang-mentang aku masuk rumah sakit, lupa dengan hutanganmu. Kalau tidak dibayar aku jamin nambahnya beratus-ratus lipat cuihhh".
Lagi.
"Tak usah sombong hidup kau, hah! Aku doakan kau mati dak dikubur. Duit aku nih banyak. Kecil beli cem tu. Muntah aku".
Dan banyak lagi yang tidak bisa diceritakan.
Setelah capek bertelepon ria, Bu Rita kembali berteriak pinggangnya sakit. Lalu memaki. Begitu seterusnya sampai mereka pulang. Bangsalpun aman sentosa.
Sahabat Sholihah,
Lidah adalah raja atas semua anggota tubuh. Semua tunduk dan patuh kepadanya. Jika ia lurus semua anggota tubuh ikut lurus. Jika ia bengkok, maka bengkoklah semua anggota tubuh.
Kenapa lidah perlu dijaga oleh gigi yang begitu rapi, rapat, dan kokoh, bahkan dikunci dengan dua bibir?
Secara filosofis karena lidah lebih tajam dari mata pedang yang dapat menembus ulu hati yang menyakiti seseorang.
Pedang menyayat tubuh masih mudah diharapkan sembuh, tapi jika lidah menyayat hati ke mana obat hendak dicari?
"Lidah dan dua buah bibir. Dan kami telah menunjukkan dua jalan". (QS. Al-Balad:9-10)
Berpikirlah dulu lalu bicara. Apa isi perkataan dan apa dampaknya. Apakah akan mendatangkan kebaikan atau keburukan.
“Barang siapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir maka hendaklah dia berkata baik atau diam”. (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no 47)
Sebagai seorang muslim kita dianjurkan untuk bertutur kata yang baik kepada siapa pun. Bahkan hal tersebut merupakan salah satu indikator keberimanan seseorang kepada Allah SWT.
Kita bisa memilih menjadi orang yang menebar keburukan dan kebencian melalui lisannya atau menjadi orang yang menebar manfaat dengan melakukan hal-hal yang kreatif