"Lelahnya..." Kata Nadia sambil menjatuhkan tubuhnya di kursi makan.
Pekerjaannya menyiapkan rumah yang akan ditempatinya bersama Ningsih dan Galih hari ini baru selesai menjelang maghrib. Sebenarnya jika hanya bersih-bersih saja sudah selesai setelah dhuhur. Tapi karena Nadia banyak permintaan sehingga mereka bertiga tidak bisa segera pulang.
"Kenapa baru pulang, Ning?" tanya Sri.
Ningsih hanya cemberut dan terus jalan ke arah kamar mandi. Dia mengisyaratkan kepada Sri untuk bertanya langsung kepada Nadia.
"Apa ada masalah, dok? Kok jam segini baru pulang?" tanya Sri mengalihkan pandangan pada Nadia.
"Nggak ada masalah sih, Bu. Hanya saja tadi sekalian menata posisi beberapa barang agar nanti lebih mudah saat melakukan pelayanan," jawab Nadia.
"Oalah, kenapa tidak besok atau lusa saja, dok? Biar kalian tidak terlalu capek," kata Sri.
"Yah biar bisa segera digunakan, Bu Sri. Jadi aku juga bisa segera pindah ke sana dan melaksanakan tugasku," kata Nadia.
"Dokter mau pindah ke rumah itu?" tanya Sri heran.
"Kalau tidak di sana mau di mana lagi, Bu? Tidak mungkin kan saya menumpang di rumah ini terus kan?" tanya Nadia bingung dengan pertanyaan Sri.
"Sebenarnya kami tidak masalah jika dokter tetap tinggal di sini. Biar rumah dinas itu hanya untuk mengobati pasien saja. Tenaga kesehatan yang sebelumnya juga seperti itu kok," kata Sri yang sudah duduk di depan Nadia.
"Oh iya? Kenapa begitu, Bu Sri? Bukankah rumah itu memang disediakan untuk tempat tinggal sekaligus pelayanan kesehatan?" tanya Nadia.
"Iya, sih... Tapi-" Sri menggantung ucapannya. Dia ragu untuk menceritakan alasan tenaga kesehatan memilih untuk tidur di rumahnya ketimbang di tempat yang sudah disediakan.
"Tapi kenapa, Bu?" tanya Nadia karena Sri tidak segera melanjutkan.
"Gimana ya menjelaskannya?" kata Sri.
"Apa jangan-jangan di sana ada hantunya ya?" tebak Nadia bercanda.
"Dokter sudah tahu? Apa jangan-jangan dokter punya kemampuan melihat makhluk gaib?" tanya Sri terkejut.
"Hah?! Beneran, Bu? Aku tadi cuma bercanda lho," Nadia ikut terkejut.
"Oh.. Eh.. Anu... Emm, nanti biar Bapak atau Galih saja yang menjelaskan," kata Sri salah tingkah.
"Ibu aja lah yang cerita. Ada apa sebenarnya dengan rumah itu. Aku sudah terlanjur penasaran ini," bujuk Nadia meskipun ada rasa ngeri jika dugaannya memang benar.
"Penasaran apa ini, dokter?" tanya Aji yang baru masuk lewat pintu belakang. Tangan pria itu masih memegang cangkul yang basah pertanda sudah dicucinya.
"Itu lho, Pak, tadi ibu bilang kalau nakes sebelum saya tidak ada yang tinggal di rumah dinas karena alasan tertentu. Mungkin Bapak bisa menjelaskan kenapa," jawab Nadia.
Aji dan Sri saling berpandangan sejenak, "Sebenarnya ada beberapa nakes yang mengaku diganggu makhluk dari dunia lain," kata Aji.
Nadia mengangguk-angguk mendengar cerita Aji.
"Sebenarnya tidak semua, dok. Hanya beberapa," kata Aji menegaskan.
"Yah namanya orang kan macam-macam ya, dok. Ada yang beradab, sopan, permisi dulu kalau mau menempati tempat baru. Tapi ada juga yang tidak. Bahkan ada yang tidak percaya kalau kita hidup berdampingan dengan makhluk Allah yang lain. Kalau saya perhatikan, para nakes yang diganggu adalah yang tipe kedua. Mereka tidak percaya dan kemudian bersikap semaunya. Jadi mungkin yang di sini jadi tidak terima," jelas Aji.
Lagi-lagi Nadia mengangguk, "Apa mungkin saya termasuk yang tidak diterima ya, Pak?" tanyanya.
"Maksudnya, dok? Apa dokter juga diganggu?" tanya Aji serius.
"Entahlah, Pak. Sepertinya begitu," jawab Nadia kemudian menceritakan apa yang dialaminya di malam pertama dan kejadian saat berkeliling rumah dinas.
"Oh kalau itu saya rasa hanya bentuk perkenalan saja, dok," jawab Aji santai.
"Perkenalan bagaimana, Pak? Jujur saya merasa terganggu," kata Nadia.
"Kami yang warga asli kampung ini juga masih sering mengalami hal seperti itu. Biasanya saat kondisi lelah atau sedang tidak fokus, ada saja yang menyapa," kata Aji.
Nadia berpikir sejenak, "Bisa jadi sih. Mengingat kemarin saya habis melakukan perjalanan yang menakjubkan. Hehehe,"
"Betul kan? Kalau yang tadi saya jelaskan gangguan itu seperti ditampakkan sosok menyeramkan, suara barang dibanting, bahkan pernah ada yang dibuat tidak bisa keluar rumah karena katanya tidak melihat pintu depan," kata Aji.
Mulut Nadia ternganga, "Hah?! tidak bisa keluar rumah?" tanyanya.
"Betul. Sepertinya itu gangguan yang paling parah, " kata Aji.
"Lalu bagaimana dia keluar, Pak?" tanya Nadia semakin penasaran.
"Besoknya ada warga yang curiga karena sampai siang lampu rumah masih menyala. Saat mereka masuk ditemukan dokternya tergeletak di ruang tengah," jawab Aji.
"Waduh!!!" seru Nadia.
"Tenang, dokter. Seperti yang saya bilang tadi, tidak semua. Tingkat keparahan gangguan biasanya tergantung amal perbuatan. Hehehe," Aji mencoba menenangkan Nadia.
"Dulu ada juga bidan namanya Nining yang sangat baik. Aman tinggal di rumah itu sendirian selama beberapa tahun. Tapi sayang beliau harus pindah karena menikah. Jadi dokter tenang saja, selama dokter tidak ada niat tidak baik, saya yakin pasti aman," kata Aji.
"Kalau kabur dari patah hati itu kira-kira termasuk niat tidak baik bukan ya?" tanpa sadar Nadia menanyakan alasannya mengikuti program pengabdian masyarakat ini.
"Jadi Dokter Nadia patah hati?" tanya Sri yang sejak tadi hanya diam saat Aji bercerita.
"Eh itu," Nadia menggaruk kepala kikuk, "Itu salah satu alasannya sih, Bu," jawabnya nyengir.
"Siapa juga yang begitu tidak bijak menolak wanita seperti Dokter Nadia? Sudah cantik, dokter pula," kata Sri memuji.
"Ck! Ibu bisa aja. Jelas baginya saya punya kekurangan sehingga tidak pantas dipertahankan," kata Nadia sendu.
"Sudah-sudah. Sebaiknya kita sholat maghrib dulu. Dari tadi kita terlalu serius bercerita sampai tidak terasa adzan sudah lewat agak lama," kata Aji menghentikan pembicaraan yang mulai seperti sesi curhat.
"Ah iya ya. Astaghfirullah!" kata Nadia sambil beranjak dari duduk.
"Ningsih mana, Bu? Kok Bapak tidak lihat dari tadi," kata Aji sambil berjalan menuju ke kamar mandi.
"Sepertinya masih di kamar, Pak. Tadi pulang langsung ke kamar mandi lalu masuk kamar," jawab Sri.
"Sejak siang?" tanya Aji heran.
Sri menggeleng, "Ningsih dan dokter Nadia baru pulang senja," jawabnya.
"Owww," kata Aji mengangguk. Pria itu lalu melanjutkan niatnya untuk mandi dan wudhu sebelum sholat.
Nadia yang samar mendengar percakapan Aji dan Sri jadi merasa bersalah. Sebenarnya dia sudah merasa kalau tadi Ningsih agak berat menuruti permintaannya saat di rumah dinas. Tapi karena sifat keras kepalanya tadi sedang datang, jadi dia memaksa Ningsih untuk tetap bertahan di sana. Demikian pula dengan Galih yang sepertinya tidak tega meninggalkan Ningsih jadi ikut menurutinya sampai semua selesai. Bahkan saat sholat ashar mereka menggelar tikar seadanya dan meminjam mukena dari rumah terdekat karena memang dari awal tidak ada persiapan.
Esoknya Nadia mencoba untuk meminta maaf pada Ningsih. Semalam dia memilih untuk tidur lebih awal karena beberapa pertimbangan. Pertama karena tubuhnya sudah lelah. Kedua karena ingat ketukan di jendela malam sebelumnya. Dan ketiga, dia masih melihat Ningsih cemberut saat makan malam, jadi dia memutuskan menunda permintaan maafnya atas kejadian tadi siang.
"Mau kemana, Ning?" tanya Nadia melihat Ningsih sudah bersiap keluar rumah di pagi hari.
"Mau ke rumah Mas Galih antar makanan dari Ibu," jawab Ningsih dengan nada yang masih terdengar dingin.
"Oh! Apa boleh aku ikut?" tanya Nadia karena dia juga ingin meminta maaf pada pria itu.
"Kayaknya jangan deh, dok. Mas Galih itu orangnya nggak tegaan. Nanti kalau dokter minta tolong lagi pasti dia berusaha bantu. Padahal Mas Galih sedang tidak enak badan," kata Ningsih.
"Iyakah? Apa gara-gara kemarin?" tanya Nadia semakin merasa bersalah.
"Kayaknya sih gitu," jawab Ningsih.
"Kalau begitu aku harus ikut kamu untuk menjenguk sekalian minta maaf," kata Nadia.
"Nggak usah dokter. Nanti aku sampaikan permintaan maaf dokter ke Mas Galih. Sebaiknya dokter jangan menemuinya dulu," kata Ningsih tegas.
"Baiklah," kata Nadia mengalah.
"Ya sudah. Aku mau pergi dulu," kata Ningsih.
"Eh! tunggu dulu, Ning!" kata Nadia mendekati tempat Ningsih berdiri.
"Ada apa lagi sih, Dok?" tanya Ningsih mulai kesal.
"Aku minta maaf ya untuk yang kemarin. Aku sadar terlalu egois sampai tidak memikirkan kondisi kalian," kata Nadia mengulurkan tangan.
Wajah Ningsih terlihat melunak. Dia menyambut uluran tangan Nadia tapi hanya sekedarnya saja, "Iya. Aku maafkan. Tapi lain kali jangan diulangi ya. Dokter kan baru datang di desa ini. Paling tidak dengarkan pendapat kami demi kebaikan bersama," kata Ningsih sudah seperti menasihati anak berusia di bawahnya.
"Siap!" kata Nadia tersenyum.
"Aku berangkat. Assalamualaikum," pamit Ningsih.
"Maafkan perkataan Ningsih ya, dok," kata Sri dari belakang tubuh Nadia yang sedang memperhatikan Ningsih. Dia lalu berbalik dan mendekati Sri.
"Aman, Bu. Sudah biasa kok. Di rumah sakit kami sudah sering mendengarkan kekesalan dari keluarga pasien yang kadang tidak bisa menerima keadaan. Lagipula kejadian kemarin memang salah saya. Jadi wajar kalau Ningsih kesal. Apalagi Mas Galih katanya sampai tidak enak badan karena hal ini," kata Nadia.
"He..hhh! Anak itu terlalu melebih-lebihkan. Galih hanya flu saja kata Bapak. Dia memang alergi dingin. Jadi ketika cuaca seperti sekarang ini pasti bersin-bersin," jelas Sri.
"Oh. Tahu gitu tadi aku bawakan obat sekalian buat Mas Galih," kata Nadia.
"Tidak apa-apa, dok. Biasanya dengan minuman hangat dan makan sup ayam saja sudah reda. Makanya tadi Ibu minta Ningsih untuk antarkan," kata Sri.
"Apa Mas Galih masih saudara Ibu? Sepertinya Ningsih sangat peduli dengannya," tanya Nadia penasaran.
"Bukan, dok. Ningsih sejak kecil memang dekat dengan Galih. Sudah seperti kakak adik. Galih juga salah satu orang yang bisa Bapak ajak berdiskusi masalah desa dan warganya. Karena itu kami jadi seperti keluarga," jelas Sri.
"Jangan-jangan Ibu sama Bapak juga menjodohkan Mas Galih dengan Sri?" goda Nadia.
Sri tertawa, "Sebenarnya Ibu pernah kepikiran. Tapi hanya sebatas pemikiran yang tidak mungkin kami wujudkan," jawabnya.
"Kenapa, Bu?" tanya Nadia curiga.
"Emm...karena... Galih terlalu dewasa untuk Ningsih," jawab Sri terkekeh.
Nadia ikut terbahak, "Terlalu dewasa atau terlalu tua?"