Normal Pov.
Rumah sakit itu sudah pernah menyaksikan banyak hal di keluarga ini—seorang ibu yang mendapat ginjal baru, seorang perempuan muda yang selamat dari rem yang digunting—tapi malam itu ia menyaksikan sesuatu yang lebih tua dari semua drama: seorang bayi yang memutuskan bahwa empat minggu itu terlalu lama untuk ditunggu.
Jingga masuk ruang bersalin pukul tujuh malam. Pembukaan baru dua, kata dokter, dan kalimat "masih lama, Bu" itu disambut oleh Kevin seperti vonis—ia yang sudah menandatangani persetujuan, menyerahkan berkas, dan sekarang berdiri di koridor dengan ketidakmampuan total seorang lelaki yang seluruh hidupnya dilatih untuk menyelesaikan masalah, menemukan satu masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan apa pun selain menunggu.
Di ruang tunggu, pasukan berkumpul dengan kecepatan yang mencurigakan.
Sinta tiba pukul delapan dengan tongkatnya dan—kata sopirnya yang mengantar—"tidak bisa disuruh pelan-pelan, Pak, beliau malah menyuruh ngebut." Bibi Sarah datang dengan tas berisi kain-kain yang sudah ia siapkan sejak bulan kelima. Nada dan Tono datang masih dengan baju kerja. Lisa datang dengan laptop yang tidak pernah dibukanya. Bahkan Irvan muncul di ujung koridor, tidak berani masuk, cuma mengirim pesan ke Nada: 'Aku di lobi kalau butuh apa-apa. Sampaikan padanya: orang paling keras kepala yang kukenal tidak boleh kalah sama persalinan.'
Dan di dalam ruang bersalin itu, Jingga Broto berjuang dengan caranya sendiri: diam, rahang terkatup, dan—kata suster yang menanganinya—"pasien paling tidak kooperatif soal berteriak yang pernah saya tangani. Dia menolak berteriak, Bu. Dia bilang itu buang-buang tenaga."
***
Kevin Pov.
Mereka mengizinkanku masuk pukul sebelas malam.
Aku tidak akan menceritakan empat jam itu pada siapa pun, dan aku sudah meminta Jingga tidak menceritakannya juga, dan dia tertawa—di tengah kontraksi, dia tertawa—dan berkata, "Takut citramu rusak?"
"Takut citramu rusak. Kamu menggenggam tanganku sampai pucat dan bilang hal-hal yang tidak bisa diulang di depan bayi."
"Aku TIDAK bilang hal-hal—"
"Kamu bilang ke dokter bahwa kalau dia tidak mempercepat ini, kamu akan membeli rumah sakit ini dan memecatnya."
"...Itu hiperbola."
"Itu percobaan pembelian di ruang bersalin, Kevin."
Tapi kemudian pembukaan itu lengkap, dan tidak ada lagi lelucon di dunia yang cukup kuat untuk satu jam berikutnya, dan aku berdiri di sana memegang tangannya—tangan yang dua tahun lalu menukar cangkirku, yang setahun lalu kulepaskan di koridor, yang sekarang mencengkeram tanganku seperti aku adalah satu-satunya benda padat di dunia—dan aku berpikir: kalau aku bisa kembali ke satu malam di hidupku, bukan malam apa pun yang besar. Malam beranda itu. Malam aku seharusnya mulai mempercayainya lebih awal.
Dan pukul 00.47, di hari yang baru, tangis itu terdengar.
Kecil. Marah. Hidup.
***
Normal Pov.
"Bayi perempuan," kata dokter. "Dua koma sembilan kilogram. Sehat. Paru-parunya—" ia tertawa "—paru-parunya tidak waras kerasnya."
Mereka meletakkannya di dada Jingga, dan ruangan itu—mesin-mesin, lampu, orang-orang berseragam—mundur pelan-pelan dari kesadaran semua orang seperti tirai.
Jingga menatap wajah merah mungil itu. Wajah yang mengerut marah pada dunia, pada dingin, pada lampu, pada seluruh perjalanan yang tidak ia minta. Dan Jingga tertawa—basah, lelah, utuh.
"Halo," bisiknya. "Halo, kamu. Lama sekali."
Kevin berdiri di sisi ranjang dengan dua tangan yang tidak tahu ke mana harus pergi, sampai Jingga—tanpa mengalihkan matanya dari bayi itu—berkata pelan:
"Pegang dia."
"Aku—bagaimana kalau—"
"Kevin." Akhirnya ia menoleh, dan matanya adalah mata yang dua tahun ini melewati segalanya. "Pegang anakmu."
Maka Kevin Pratama mengangkat bayi itu dengan kedua tangan yang gemetar—lelaki yang menandatangani kontrak miliaran tanpa berkedip, gemetar di depan dua koma sembilan kilogram—dan bayi itu, yang sejak lahir menangis pada dunia, berhenti menangis di dada ayahnya.
Berhenti begitu saja. Seperti mengenali sesuatu.
"Astaga," kata Kevin, pada tidak ada siapa-siapa, dengan suara yang sudah bukan suaranya. "Astaga. Dia—dia diam."
"Dia tahu," kata suster di dekat pintu, tersenyum.
"Dia tahu apa?"
"Dia tahu dia sudah sampai."
***
Jingga Pov.
Pukul tiga pagi, ketika bayi itu tidur di box kecil di samping ranjangku dan dunia akhirnya tenang, Kevin duduk di kursi pengunjung dan tidak mau pulang—ia bilang rumah sakit punya kursi yang lebih nyaman dari yang kuingat, tapi aku tahu ia tidak akan bergerak dari sana sampai kami pulang.
"Namanya," kataku pelan.
Kevin mengangkat wajah.
"Kirana," kataku. "Kirana Karima. Cahaya dari Karim. Aku sudah memilihnya sejak lama, dan aku tidak bertanya padamu, dan kamu boleh marah."
"Aku tidak marah."
"Tapi ada satu hal yang belum ada di namanya." Aku menatapnya, dan aku memastikan ia mendengar setiap kata, karena aku hanya akan mengucapkannya sekali: "Belakangnya masih kosong. Dan aku tidak akan mengisinya dengan apa pun yang datang dari rasa bersalah, atau tekanan, atau kota yang menonton. Kalau suatu hari nama belakang itu diisi, aku mau diisi oleh orang yang sudah membaca buku itu sampai habis—sampai halaman terakhir, sampai halaman tentang tertawa dan lupa mencatat. Bukan untuk menebus koridor. Tidak ada yang perlu ditebus. Tapi karena dia sudah sampai di halaman itu dan memutuskan untuk tinggal."
Kevin diam sangat lama. Di box kecil itu, Kirana menggeliat dalam tidurnya, kepalan tangannya yang sebesar kenari terbuka dan menutup, memegang udara.
"Aku menyimpan sebuah kotak di saku kiriku selama hampir setahun," kata Kevin akhirnya, suaranya serak. "Kamu tahu itu."
"Aku tahu itu."
"Bukan malam ini." Ia berdiri, mencium dahiku, lalu dahi Kirana—yang mengerut dalam tidur, persis ibunya. "Kamu sudah melahirkan hari ini. Kamu tidak boleh dilamar pada hari yang sama dengan dua keajaiban sekaligus; itu tidak adil untuk kalender. Tapi sebentar lagi. Dan aku janji satu hal: ketika aku akhirnya berlutut, tidak akan ada koridor, tidak akan ada amplop, tidak akan ada halaman yang belum dibaca."
Pukul empat pagi, ia tertidur di kursi pengunjung itu dengan tangan masih memegang tepi box bayi, seperti penjaga.
Dan aku menatap dua orang itu—lelaki yang kubenci sebelum kukenal, dan bayi yang lahir dari semua yang salah yang berubah jadi benar—dan untuk pertama kalinya sejak aku sembilan belas tahun, aku tidak memikirkan hari esok.
Hari ini sudah cukup. Hari ini lebih dari cukup.
Jingga Pov End.