Normal Pov.
Kevin menepati janjinya tentang tempat itu pada hari Minggu, dengan sebuah map di teras rumah Broto dan wajah orang yang sudah menyimpan rahasia terlalu lama.
"Aku sudah mencari selama tiga bulan," katanya, membuka map itu di meja teras—meja yang sama tempat termos-termos itu dulu berdiri berjaga. "Kriteria pertamamu: tidak ada sejarah untuk kita berdua. Kriteria keduaku: harus ada sejarah untuk seseorang."
Jingga mengangkat alis. "Itu kontradiksi."
"Tunggu." Kevin mengeluarkan sebuah foto—foto lama, sudutnya memutih: sepasang muda di depan sebuah rumah kayu kecil menghadap laut. Lelaki itu tertawa lebar dengan kemeja yang salah kancing. Perempuan itu—
Jingga mengambil foto itu dengan dua tangan.
"Mama," katanya. Bukan pertanyaan.
"Kota kecil di selatan. Enam jam dari sini. Bibi Sarah yang memberi tahuku—diam-diam, dengan syarat aku tidak bilang dia yang memberi tahu." Kevin menunjuk rumah kayu di foto itu. "Orangtuamu bulan madu di rumah itu. Ibumu dua puluh dua tahun, ayahmu salah kancing sepanjang minggu, dan menurut Bibi Sarah, ibumu bilang itu minggu paling bahagia dalam hidupnya. Rumah itu masih ada. Pemiliknya masih orang yang sama. Dan aku sudah meneleponnya—dia menangis di telepon ketika kusebut nama ibumu. Dia bilang ibumu membantunya menanam pohon flamboyan di halaman depan, dan pohon itu sekarang—" Kevin berhenti, dan untuk sekali ini ia tidak berusaha menyembunyikan bahwa suaranya tidak stabil "—pohon itu sekarang lebih besar dari rumahnya."
Jingga menatap foto itu lama sekali. Ibunya muda, tertawa, di depan laut yang selalu ada.
"Tempat yang bersih untuk kita," kata Kevin pelan. "Tapi sudah diberkati duluan oleh dua orang yang paling layak memberkati."
***
Normal Pov.
Persiapan pernikahan itu berjalan seperti segala hal di keluarga itu: direncanakan dengan militeristik oleh Lisa, disusupi drama oleh keadaan, dan diselamatkan oleh orang-orang kecil yang tidak pernah diundang ke rapat.
Tamu dibatasi empat puluh orang—keputusan Jingga yang tidak bisa diganggu gugat. "Dua tahun kota itu menontonku tanpa diundang," katanya. "Kali ini yang datang cuma yang pernah menangis untuk kami sebelum kami layak ditangisi."
Daftarnya pendek dan berat: Bibi Sarah. Sinta. Nada dan Tono. Lisa dan suaminya yang jarang muncul. Mang Asep. Irvan dan Tiara. Dokter Gunawan—yang menyahut undangan itu dengan surat tulisan tangan: "Saya akan datang. Saya berhutang satu pesta pada ayahmu." Dua sopir lama HA Express yang sejak zaman Karim tidak pernah pindah. Dan pemilik rumah kayu itu, Nyonya Ratri, tujuh puluh satu tahun, yang langsung menganggap dirinya panitia.
Media tidak diundang. Media mencoba tetap datang—dua wartawan ditemukan menyamar sebagai nelayan di pantai sebelah, dan penduduk kota kecil itu, yang sudah diberi tahu ceritanya oleh Nyonya Ratri, mengawal mereka keluar dengan ramah dan teguh seperti mengawal keluar angin.
"Aku hampir kasihan pada mereka," kata Tono, yang mendengar laporannya dari kepala dusun setempat sambil memperbaiki pagar.
"Jangan," kata Kevin, menyerahkan palu. "Mereka tidak kasihan pada kita waktu koridor itu."
"Adil." Tono memaku papan terakhir. "Tapi untuk catatan—kamu sekarang menikahi perempuan yang dua tahun mengalahkan seluruh industri gosip. Pagar ini tidak akan pernah cukup kuat kalau dia yang mau keluar."
Kevin menatap pagar itu, lalu ke arah rumah kayu tempat Jingga sedang tertawa di dapur bersama para ibu. "Aku tidak membangun pagar untuk menahannya, Ton. Aku membangun pagar supaya dia tahu ada yang menjaga saat dia tidur. Bedanya jauh."
***
Jingga Pov.
Tiga hari sebelum hari H, kami berangkat.
Enam jam perjalanan, dan aku tertidur dua jam di antaranya dengan Kirana di pangkuan dan kepala di bahu Kevin—pola tidur yang sudah jadi standar sejak bayi itu lahir, kata Bibi Sarah, "karena kamu akhirnya percaya ada yang jaga."
Kota kecil itu menyambut kami dengan bau garam dan angin yang tidak pernah berhenti. Rumah kayu Nyonya Ratri berdiri di ujung jalan tanah, persis seperti di foto—cuma pohon flamboyan itu yang berbeda: foto itu merekamnya setinggi pagar, dan sekarang ia menaungi separuh halaman dengan bunganya yang merah seperti... seperti namaku. Aku berdiri di bawahnya lama sekali, sampai Nyonya Ratri keluar dan memelukku tanpa izin, seperti orang yang sudah berhak.
"Kamu persis dia waktu dia muda," katanya di pelukanku. "Dia juga diam dulu kalau sampai di tempat baru. Mengumpulkan dulu. Mengukur. Lalu besoknya dia sudah menata ulang dapurku."
"Aku tidak akan menata ulang dapurmu, Nyonya."
"Kamu sudah melirik rak piringku tadi," kata perempuan tua itu, melepasku dan menatapku dengan mata yang menyipit. "Persis. Dia. Silakan. Rak itu memang salah sejak 1987."
Malam itu, aku berdiri di tepi laut di belakang rumah itu sendirian. Kevin mengerti tanpa diberi tahu—ia menahan semua orang di dalam dengan alasan makan malam.
Aku berbicara dengan laut, yang berarti berbicara dengan dua orang sekaligus.
"Ma," kataku, dan kata itu sudah tujuh belas tahun tidak kupakai, sehingga keluarnya seperti membuka pintu berkarat. "Aku menikah tiga hari lagi. Di rumahmu yang dulu. Lelakinya... rumit, Ma. Tapi dia membaca sampai habis. Kamu akan suka bagian itu."
Ombak datang dan pergi, datang dan pergi.
"Dan Ayah sudah menang. Aku yang mengantarnya. Kamu bisa tenang di mana pun kalian berdua sekarang—" suaraku akhirnya patah, di kota kecil itu, di depan laut yang tidak memberitakan siapa-siapa "—karena anakmu sudah tidak marah lagi. Anakmu sudah pulang."
***
Normal Pov.
Di dalam rumah, melalui jendela dapur, Kevin menonton siluet itu di tepi air—tidak mendekat, tidak menelepon, cuma menjaga agar tidak ada satu pun orang yang keluar mengganggunya.
"Dia sering begitu?" tanya Nyonya Ratri di sampingnya, pelan.
"Sering. Dia menyelesaikan banyak hal dengan orang-orang yang sudah pergi." Kevin menatap laut yang gelap itu. "Aku cuma perlu memastikan dia tidak harus menyelesaikan apa pun sendirian lagi. Itu tugas saya sekarang."
Nyonya Ratri menatap lelaki di sampingnya itu, menimbangnya dengan mata tujuh puluh satu tahun, lalu mengangguk sekali.
"Kamu tahu apa yang membuat ibunya memilih ayahnya?" katanya. "Bukan uangnya—waktu itu dia tidak punya apa-apa. Ayahnya menunggu ibumu bicara dengan laut juga, di tempat yang sama, empat puluh tahun lalu. Ayahnya bilang: orang yang bicara dengan laut tidak boleh diajak bicara sampai dia berbalik sendiri."
Kevin tersenyum kecil. "Ayahnya bicara dengan laut juga?"
"Tidak." Nyonya Ratri berbalik ke dapur. "Ayahnya bicara dengan hujan. Keluarga itu tidak pernah normal, Nak. Kamu akan cocok."
Jingga Pov End.