Normal Pov.
Mereka menikah pukul empat sore, di bawah pohon flamboyan yang sedang berbunga penuh, dengan laut sebagai saksi yang paling tua.
Tidak ada pelaminan tinggi. Tidak ada tirai emas. Cuma dua baris kursi kayu yang dicat ulang oleh pemuda-pemuda kampung, satu meja akad di bawah naungan bunga merah, dan empat puluh orang yang masing-masing punya bagian dalam cerita yang panjang itu—yang datang bukan untuk menonton, melainkan untuk menutup.
Kirana—empat bulan, dengan bando kecil yang terus ia lepas—duduk di pangkuan Sinta di barisan depan, dan setiap kali ia bersuara, seluruh tamu menoleh dan tersenyum, sampai penghulu akhirnya menyerah dan memasukkannya ke dalam pembukaan: "Sebelum kita mulai, izinkan saya menyapa dulu anggota termuda kita, yang sepertinya ingin berbicara lebih dulu."
Pohon flamboyan itu menjatuhkan bunganya sepanjang acara, satu demi satu, pelan-pelan, seperti hujan yang sopan.
***
Normal Pov.
Jingga berjalan ke meja akad itu sendirian.
Itu permintaannya, dan tidak ada yang berani membantah: tidak ada yang mengantarnya, karena orang-orang yang seharusnya mengantarnya sudah tidak ada—dan ia menolak memberikan peran itu pada pengganti. Tapi ia tidak benar-benar sendirian. Di tangannya ada buket bunga flamboyan dan mawar putih, dan di dalam buket itu, dijahit Bibi Sarah dengan tangan yang gemetar subuh tadi, ada sebuah amplop kecil yang sudutnya sudah memutih.
Surat kesepuluh. Surat terakhir Karim dari kaleng biru—yang bertahun-tahun tidak pernah dibuka karena di amplopnya tertulis: "Untuk Jingga, di hari dia menikah. Jangan sebelumnya. Ayah minta jangan sebelumnya."
Ia berjalan di antara dua baris orang yang mencintainya—melewati Bibi Sarah yang sudah menangis sejak pagi, Nada yang menangis sejak kemarin, Lisa yang menangis tanpa mengakuinya, Mang Asep yang menangis sambil berdiri tegak seperti patung—dan di ujung jalan itu, di bawah pohon, Kevin menunggu dengan jas sederhana dan mata yang tidak pernah lepas dari matanya.
Di langkah ketujuh, angin lewat, dan bunga-bunga flamboyan turun sekaligus, banyak sekali, seperti seseorang di atas sana kehabisan kesabaran menaburkannya pelan-pelan.
Empat puluh orang menengadah. Dan Jingga—di tengah hujan bunga merah itu—tertawa, dan berkata cukup keras untuk didengar dua baris kursi:
"Iya, Yah. Aku dengar. Jangan boros."
***
Normal Pov.
Akad itu berjalan dengan satu kali ulang—bukan karena Kevin gagal, tapi karena penghulunya yang menangis duluan, lelaki tua sahabat Nyonya Ratri yang mengenal ibu Jingga dan harus berhenti sebentar untuk "membersihkan kacamata yang tidak kotor," kata Nyonya Ratri keras-keras, yang membuat seluruh tamu tertawa dan es itu cair.
Lalu ijab itu diucapkan, sekali, utuh, dengan suara Kevin yang dalam dan tidak bergetar—dua tahun terakhir telah membakarnya habis, dan yang tersisa adalah sesuatu yang tidak bisa diguncang.
"Sah."
Dan di barisan depan, Kirana bersorak—tepat pada detik itu, satu suara kecil yang tidak mengerti apa-apa kecuali bahwa semua orang senang—dan pendopo kecil itu pecah oleh tawa dan tepuk tangan, dan Sinta mengangkat cucunya tinggi-tinggi seperti piala yang paling berharga.
***
Normal Pov.
Resepsi itu adalah pesta kota kecil: hidangan laut yang tidak habis-habis, musik dari gitar para nelayan, anak-anak yang berlarian sampai orang tua mereka menyerah.
Dokter Gunawan menari dengan Nyonya Ratri—dua orang tua yang baru bertemu kemarin dan sudah berdebat soal cara mengobati masuk angin. Tiara dan Irvan berdansa di pinggir, masih dengan jarak satu langkah yang tidak mereka sadari sudah tidak ada. Tono dan Nada menerima ucapan seperti raja dan ratu kedua. Dan Lisa—Lisa tertidur di kursi pukul sembilan malam, kelelahan setelah dua hari tanpa rundown, dengan bunga flamboyan di rambutnya yang diselipkan Kirana lewat tangan Bibi Sarah.
Di tepi air, saat langit berubah ungu, Kevin dan Jingga berdiri berdua—pengantin yang berhasil kabur dari pestanya sendiri, sebuah tradisi yang mulai mereka banggakan.
"Sekarang," kata Kevin, "kita punya tempat."
"Sekarang kita punya tempat," kata Jingga.
"Pohon itu. Laut itu. Rumah yang rak piringnya salah sejak 1987." Kevin menggenggam tangannya. "Dan tidak satu pun dari mereka berbau badai."
Jingga menatapnya—lelaki yang dulu ia tulis sebagai langkah tiga, yang pernah mencampakkannya di koridor, yang berdiri sembilan belas hari di luar gerbang, yang melamarnya dengan buku catatan terbuka—dan ia berpikir bahwa cinta yang diuji memang tidak pernah kembali ke bentuk semula. Ia kembali sebagai sesuatu yang lebih kuat dan lebih aneh, seperti tulang yang tumbuh di bekas patahnya.
"Ayahku menyuruhku membaca surat kesepuluh malam ini," kata Jingga. "Di rumah. Dengan kamu. Dia tidak bilang begitu di amplopnya—tapi aku tahu dia maksud begitu. Ayahku tidak pernah menulis surat yang tidak dimaksudkan untuk dibaca berdua."
Mereka berjalan pulang ke rumah kayu itu bergandengan, meninggalkan pesta yang tidak merasa ditinggalkan, di bawah pohon flamboyan yang masih menaburkan bunganya pada jalan yang mereka lalui.
***
Normal Pov.
Malam itu, di kamar kecil menghadap laut, dengan Kirana tidur di keranjangnya dan suara pesta mereda di kejauhan, Jingga membuka surat kesepuluh.
Kevin duduk di sebelahnya. Surat itu mereka baca bersama, pelan-pelan, bergantian saat salah satu suaranya tidak sanggup—surat seorang ayah yang menulis untuk hari yang tidak akan pernah ia lihat, kepada anak yang ia percaya akan sampai ke hari itu, dengan kata-kata terakhirnya:
*"...dan kalau di hari itu kamu berdiri di samping seseorang yang sudah melihatmu di titik terburukmu dan tidak pergi, maka kamu sudah menemukan satu-satunya hal yang Ayah doakan. Orang-orang datang saat kamu kuat, Nak. Tapi orang yang tinggal saat kamu hancur—itu keluargamu. Pegang dia. Maafkan dia kalau dia pernah lambat pulang. Dan sesekali, kalau kamu menang bertengkar, ingatlah bahwa kamu anakku: kamu memang tidak pernah kalah.*
Selamat menikah, Jingga. Ayah ada di kursi yang kamu kosongkan. Ayah selalu ada di kursi yang kamu kosongkan."
Di luar, ombak datang dan pergi. Di keranjangnya, Kirana tidur dengan kepalan tangannya terbuka, seperti orang yang sudah selesai memegang sesuatu.
Dan di kamar kecil itu, dua orang yang sudah membaca sampai habis akhirnya sampai ke halaman yang tidak ditulis siapa-siapa—halaman pertama dari buku yang baru.
Jingga Pov End.