BAB 9: Angin Barat dan Janji Pesisir
Musim angin barat tiba lebih cepat dari perkiraan warga desa. Langit di atas pantai selatan yang biasanya cerah keemasan kini kerap tertutup gumpalan awan abu-abu tebal. Gelombang laut menggulung tinggi, menghantam dinding-dinding karang dengan suara gemuruh yang menggetarkan d**a.
Sebagian besar nelayan memilih menyandarkan perahu mereka di daratan, memperbaiki jaring, atau sekadar berkumpul di teras warung untuk mencari kehangatan.
Namun, di Warung Bara & Garam, panggangan tidak pernah benar-benar dingin.
Aruna berdiri di dapur, mengamati kepulan uap hangat dari panci besar berisi Sup Ikan Rempah Pesisir—menu musim dingin yang baru diluncurkannya dua hari lalu untuk menyikapi minimnya pasokan ikan bakar akibat angin kencang. Kuah kuning kaya kunyit, serai, jahe bakar, dan taburan garam krosok itu menjadi incaran hangat warga yang kedinginan ditiup angin laut.
Bara masuk ke dapur dengan jaket kain tebal yang basah diciprat gerimis. Di tangannya, ia memegang sebuah lentera gantung berbahan kuningan tua dengan rangka kayu yang diukir sangat presisi.
"Lampu minyak di jalanan desa mati lagi kena angin," kata Bara sambil menggantungkan lentera itu di sudut teras depan, memancarkan pendar cahaya kuning hangat yang mengusir kegelapan sore.
"Terima kasih, Bara," kata Aruna sambil menyodorkan mangkuk sup panas ke meja teras. "Angin malam ini kencang sekali. Kamu tidak ke bengkel lagi, kan?"
"Bengkel sudah ditutup rapat," sahut Bara. Ia duduk di bangku kayu, menyesap kuah sup panas yang langsung menghangatkan tenggorokannya. "Atap warung ini aman. Penyangga ekstra yang kita pasang bulan lalu bekerja dengan baik."
Aruna tersenyum, duduk di hadapan Bara sambil memeluk cangkir teh jahenya. Ada kedamaian luar biasa yang menyelimuti mereka di tengah riuh angin malam yang menderu di luar.
Saat gerimis berubah menjadi hujan deras, sebuah sepeda motor tua berhenti di depan teras. Kipli turun terburu-buru dengan mantel plastik yang basah kuyup, membawa sebuah amplop cokelat tebal yang dibungkus plastik transparan agar tidak basah.
"Mbak Aruna! Mas Bara!" seru Kipli sambil terengah-engah naik ke teras. "Ada surat penting dari dinas provinsi! Tadi diantar Pak RT ke rumahku karena angin mati lampu di jalan raya!"
Bara menerima amplop itu, menyerahkannya pada Aruna. Aruna membuka bungkusan plastik dan membaca surat bertandatangan resmi Gubernur dan Dinas Kebudayaan Provinsi tersebut.
Mata Aruna membelalak pelan saat membaca kalimat demi kalimat di kertas tebal itu.
"Ada apa, Aruna?" tanya Bara.
"Pemerintah Provinsi..." bisik Aruna dengan nada tak percaya. "Mereka memilih Warung Bara & Garam sebagai perwakilan Warisan Kuliner Otentik Pesisir untuk pameran budaya internasional di Bali bulan depan."
Kipli bersorak girang. "Wah! Luar biasa! Warung kita mau diboyong ke pameran internasional!"
Namun, Aruna tidak langsung bersorak. Ia membaca baris berikutnya dengan cermat. Pameran itu berlangsung selama satu minggu penuh, dan Aruna diminta untuk mendemonstrasikan teknik memasak tradisional dengan panggangan batok kelapa serta garam krosok pesisir di hadapan para chef internasional dan kritikus kuliner dunia.
Aruna menatap Bara. Ada riak keraguan tipis di matanya.
Pergi ke Bali berarti meninggalkan warung ini selama lebih dari sepuluh hari. Memisahkan dirinya dari tanah dan perapian tempat ia baru saja menemukan akarnya.
"Kamu cemas?" tanya Bara pelan setelah Kipli pamit pulang membawa kabar gembira itu ke warga desa.
"Bukan cemas tentang memasaknya," aku Aruna jujur. Ia menatap lentera buatan Bara yang berayun pelan ditiup angin. "Aku cuma... tidak ingin kembali ke dunia pameran yang dipenuhi kamera dan penilaian orang-orang kota. Aku takut rasa masakan ini berubah kalau dibawa ke panggung mewah seperti itu."
Bara mengulurkan tangannya di atas meja, menggenggam jemari Aruna dengan lembut namun mantap.
"Rasa masakan ini gak ada hubungannya sama panggung atau gedung mewah, Aruna," kata Bara dengan suara beratnya yang menenangkan. "Rasa masakanmu ada di dalam hatimu dan kejujuran caramu mengolahnya. Di manapun kamu memanggangnya—di teras kayu ini atau di panggung Bali—selama kamu membawanya dengan ketulusan yang sama, rasanya gak bakal berubah."
"Kamu ikut denganku?" tanya Aruna, menatap mata Bara dengan pendar harapan.
Bara menatap papan nama kayu mereka di atas teras, lalu kembali menatap Aruna. Sebuah senyuman tipis dan hangat mengembang di bibirnya.
"Saya yang buat rangka panggangan gantungmu," kata Bara tegas. "Mana mungkin saya biarkan kamu berangkat sendiri tanpa tukang kayumu?"
Malam semakin larut. Hujan deras di luar perlahan mereda menjadi gerimis tipis yang menenangkan.
Di bawah pendar kuning lentera kuningan dan derit lembut papan nama kayu ditiup angin barat, Aruna merasa tidak ada lagi badai yang perlu ditakutkan. Masa lalu di Jakarta telah menjadi abu, dan masa depan terbentang luas bagai samudera di hadapan mereka.
Bersama Bara, kayu, dan garam, setiap langkah adalah perjalanan pulang yang pasti.