Bagian I: Tanah yang Mati dan Harapan yang Tersisa.
Angin dingin berhembus kencang melintasi lereng Tebing Hitam, membawa bau jelaga dan amis sisa limbah pabrik yang mengendap di ceruk-ceruk batu. Di bawah naungan dinding batu cadas yang menjulang tinggi, perkampungan nelayan lama Teluk Bandar Hitam berdiri lunglai. Rumah-rumah panggung kayu tampak lapuk dengan atap rumbia yang terkoyak angin, menggambarkan kelelahan bertahun-tahun di bawah himpitan Serikat Dagang Nusantara.
Gendis melangkah di sepanjang lorong sempit desa, memperhatikan wajah-wajah lesu para perempuan pesisir yang duduk di ambang pintu. Jemari mereka yang kaku tak lagi memegang cangkul tambak atau tembikar fermentasi; mereka hanya menatap kosong ke arah deretan cerobong asap pabrik di kejauhan. Di sudut desa, terlihat b