Naima melangkah melewati gerbang kayu Pesantren Al-Falah, menghirup dalam-dalam aroma tanah basah dan dedaunan yang menenangkan. Suasana bising metropolitan Jakarta seketika menguap, berganti dengan riak tenang kehidupan para santri yang berlalulalang membawa kitab kuning. Langkah kakinya membawa Naima menuju kediaman utama pengasuh pesantren, tempat di mana ia dibesarkan dengan penuh nilai kehangatan.
"Assalamu'alaikum, Naima!" sebuah teriak bersahaja menyambutnya dari pintu samping.
Naima menoleh, menyunggingkan senyum hangat melihat Jannah berlari kecil mendatangi dirinya. "Wa'alaikumsalam, Mbak Jannah."
Jannah langsung meraih tas jinjing di tangan Naima tanpa bernegosiasi. "Lelah ya, Nim? Perjalanan dari kampus macet?"
"Lumayan, Mbak. Tapi pas sampai sini, rasa capeknya langsung hilang," sahut Naima sambil merapikan bagian depan jilbabnya.
"Ganti baju dulu di kamar, ya. Habis ini Kang Uzair nungguin kamu di ruang tamu," kata Jannah mengingatkan.
Naima mengangguk pelan, melangkah masuk menuju kamarnya yang bersih dan tertata rapi. Usai membasuh muka dan mengganti pakaiannya dengan gamis rumahan yang longgar, ia melangkah menuju ruang tamu utama. Di sana, Uzair sudah duduk menanti di balik meja kayu jati yang kokoh.
Uzair mendongak, mengisyaratkan adik sepupunya itu untuk duduk di hadapannya. "Bagaimana kuliahmu minggu ini, Naima?"
"Alhamdulillah lancar, Kang," jawab Naima pelan.
Uzair mengetuk meja kayu di ruang tamu rumah pesantren. "Naima, kamu tahu betul alasan Abah dan Ummi membiarkanmu kuliah di luar. Jangan sampai warna kota mengubah warna imanmu."
Naima menunduk sedikit, mendengarkan nasehat kakak sepupunya dengan penuh rasa takzim. "Insya Allah, Kang. Naima selalu ingat pesan Abah dan Ummi."
"Di kampus umum, pemikiran orang macam-macam," lanjut Uzair dengan suara bernada dalam. "Banyak doktrin luar yang dibungkus kata kebebasan, padahal tujuannya mengikis akidah."
"Naima paham, Kang Uzair. Naima bisa menjaga diri dan prinsip."
Uzair menatap Naima dengan pandangan menilai yang teduh. "Ada masalah di kampus? Mukamu kelihatan lebih banyak pikiran dibanding biasanya."
Naima sempat tertegun sejenak. Bayangan senyum dingin dan sindiran tajam Naldo di kelas Filsafat Moral mendadak terlintas di benaknya. Namun, ia tidak ingin membebankan pikiran Uzair dengan urusan dinamika kelasnya.
"Tidak ada, Kang. Cuma agak lelah saja karena tugas akhir mulai menumpuk," kilih Naima sopan.
Uzair mengangguk pelan, mempercayai jawaban adiknya. "Bagus kalau begitu. Jaga kesehatanmu, jangan sampai kesibukan kampus mengganggu hafalan dan tugas di rumah belajar."
"Nggih, Kang. Naima pamit ke kamar dulu."
Naima bangkit dari duduknya, berjalan perlahan menuju area kamar tidur. Saat melangkah di lorong samping, Jannah rupanya sudah berdiri menunggu sambil memegang nampan berisi dua cangkir teh hangat.
"Masuk ke kamarmu yuk, Nim. Mbak bawa teh segar," bisik Jannah santun.
Keduanya melangkah masuk ke dalam kamar Naima. Jannah meletakkan nampan di atas meja kecil, lalu duduk bersila di tepi tempat tidur sambil memperhatikan wajah Naima yang masih tampak sayu.
"Kamu tidak bisa membohongi Mbak, Naima," ucap Jannah lembut sambil menyodorkan satu cangkir teh.
Naima menerima cangkir tersebut, menyesap teh manis hangat yang sedikit meredakan ketegangannya. "Memangnya Naima kelihatan kenapa, Mbak?"
"Garis di dahi kamu itu jelas banget," tutur Jannah. "Kang Uzair mungkin cuma lihat kamu lelah fisik, tapi Mbak tahu ada hal lain yang mengganggu pikiranmu dari kampus."
Naima menghela napas panjang, meletakkan cangkirnya kembali ke tatakan kayu. "Ada dosen baru di jurusan Naima, Mbak Jannah."
"Lalu? Dosennya galak?"
"Bukan galak," jawab Naima pelan. "Cara mengajarnya sangat kritis, tapi sering menyindir nilai-nilai agama secara halus. Tadi di kelas, dia seolah menuduh bahwa orang beragama itu cuma patuh secara buta."
Jannah menyentuh jemari Naima dengan lembut. "Lalu kamu diam saja?"
"Tentu tidak. Naima debat balik pakai argumen Ibnu Rushd dan Al-Ghazali," sahut Naima dengan senyum tipis.
Jannah tertawa kecil mendengar penuturan Naima. "Pantas saja mukamu kusut. Kamu habis menguras energi buat meladeni dosen pemikir macam begitu."
"Tapi rasanya agak menyebalkan, Mbak. Dia memandang sebelah mata pada orang-orang yang menjaga aturan," aku Naima jujur.
"Ingat pesan Abah Hasan, Naima," kata Jannah menenangkan. "Orang yang paling keras mengkritik agama biasanya sedang mencari kebenaran dengan cara yang salah. Kamu tidak usah membawa kekesalan itu sampai ke dalam hati."
"Iya, Mbak Jannah. Terima kasih ya sudah mendengarkan," bisik Naima merasa jauh lebih lega.
"Sudah, sekarang minum tehmu sampai habis, terus istirahat," balas Jannah sambil tersenyum hangat.
Jannah bangkit merapikan nampan, lalu melangkah keluar dari kamar dan menutup pintu dengan pelan. Naima kini sendirian di dalam kamar yang tenang. Ia melangkah mendekati jendela kayu yang terbuka separuh, menatap ke arah pelataran depan pesantren.
Di luar jendela kamar Naima, deru mesin mobil sport melintas pelan di jalan raya depan gerbang utama Pesantren Al-Falah, suaranya yang berat membelah keheningan malam desa sebelum perlahan menghilang di kegelapan.