The Ambush
Beberapa kali suara ketukan pintu tidak diidahkan penghuninya. Sampai akhirnya pintu itu terbuka menampilkan wanita cantik dengan rambut sepunggungnya.
“Maaf, cari siapa?” tanya wanita itu.
“Maaf, Nona. Kami mencari penghuni rumah ini yang bernama Bernard,” ucap Drake.
“Ah, dia ada di dalam,” jelas Lucy sambil memperhatikan Drake dan tiga pengawal lain yang ikut bersamanya.
“Kalau begitu kami ingin menemuinya,” ucap Drake.
“Maaf, yang bersangkutan sedang tidak ingin diganggu,” tolak Lucy dengan waspada.
“Kalau begitu, kami minta maaf jika Nona tidak nyaman dengan tindakan kami,” setelah mengucapkannya, Drake pun memberi perintah pada tiga pengawalnya untuk masuk ke dalam rumah.
Seketika Lucy panik dan berteriak, “Hey, aku sudah bilang dia sedang tidak ingin diganggu. Kenapa kalian seperti ini?”
Derap langkah kaki menggema di lantai yang terbuat dari kayu kokoh, membuat keadaan yang tadinya sunyi menjadi riuh bahkan tegang. Beberapa pengawal menyergap penghuni rumah yang kini tengah bersantai sambil memainkan remot televisinya. Tindakan itu membuat pria yang bernama Bernard terkesiap.
“Apa-apaan ini? Siapa kalian?” tanya Bernard saat tangannya di cekal oleh salah satu pengawal.
Lucy pun menghampiri Bernard yang tengah terpekik kesakitan, “Lepaskan dia! Aku akan lapor polisi atas tindakan kriminal ini.”
“Lepaskan aku! Sialan!” pekik Bernard yang berusaha melepaskan diri.
Drake yang sudah berdiri tidak jauh dari kerumunan pun angkat bicara, “Silahkan jika Nona ingin melaporkan hal ini! Hanya saja pihak kami sudah lebih dulu melaporkan tindakan kriminal yang teman pria anda lakukan atas kerugian yang kami alami.”
“Apa?” Lucy terkejut mendengar penuturan Drake.
Pengawal yang bertugas menggeledah rumah itu pun menemukan sebuah laptop milik penghuni rumah. Dia memberikan laptop itu pada Drake untuk dicek. Semua sesuai dengan apa yang dia dapatkan. Drake pun menunjukan yang ada di layar laptop itu pada Lucy.
“Teman pria anda melakukan peretasan atas sistem kami dan kami merugi hingga lebih dari sepuluh juta poundsterling,” mendengar nominal yang Drake sebutkan, Lucy seketika menatap Bernard tidak percaya.
“Jika Nona tidak bisa bekerja sama, Nona bisa ikut bersamanya,” Drake menjeda ucapannya dan beralih pada tiga pengawalnya sambil memberikan laptop itu pada mereka, “Bawa dia!”
Ketiga pengawal itu langsung patuh dan membawa Bernard pergi dengan segera. Drake melihat Lucy masih terlihat syok dengan apa yang baru saja dialaminya. Terlihat sekali jika wanita itu tidak tahu apa pun dengan apa yang dilakukan teman prianya.
“Bagaimana? Apa Nona mau ikut?” pertanyaan Drake membawa kesadaran Lucy. Seketika Lucy menggeleng meski perlahan.
“Kalau begitu, saya permisi,” Drake pun meninggalkan Lucy seorang diri yang kini tengah menangis sejadi-jadinya di dalam rumah yang mulai sepi.
Drake kembali ke mobil yang terparkir di belakang mobil yang ditumpangi Tuan Armstrong dan Austin. Saat dia sudah bersiap di belakang kursi kemudi, earpiece-nya mengeluarkan sinyal. Tidak lama kemudian dia pun mendengar suara yang cukup familiar di balik earpiece-nya.
“Kerja bagus, Drake,” puji Tuan Armstrong dengan cukup bangga.
“Terima kasih, Tuan,” Drake menganggukkan sedikit kepalanya meski Tuan Armstrong tidak bisa melihat apa yang dia lakukan.
Akhirnya mobil mereka pun pergi dari tempat itu, tanpa membuat kegaduhan sedikit pun.
***
“Kenapa kau selalu membuat keributan?” Lyra merasa kesal karena kelakukan Felix yang selalu menyebalkan.
“Kau selalu menggemaskan ketika marah seperti ini,” Felix malah semakin menjadi menggoda Lyra.
“Kau!”
Lyra mencoba memukul Felix. Namun, Felix lebih cepat menghindar sambil tertawa. Tawa yang terdengar begitu renyah, tapi membuat Lyra semakin jengkel. Felix berlari ke sana kemari mengitari isi rumah Lyra. Saat sampai di sofa, Lyra melempar bantal ke wajah Felix yang membuat Felix semakin tertawa terbahak-bahak. Sampai akhirnya Lyra mampu menangkap Felix yang mulai berguling di sofa. Lyra pun memukul-mukul d**a Felix dengan kesal.
“Oke, aku minta maaf,” Felix berusaha memberhentikan tawanya sambil menangkap tangan Lyra yang terus-menerus memukulnya.
“Tidak. Kau harus diberi pelajaran,” ucap Lyra.
“Lyra, berhenti! Pukulanmu membuatku sakit,” Felix mulai memohon pada Lyra yang kini tengah menatap tajam ke arahnya.
“Kau mengulanginya lagi, akan ku habisi,” ucap Lyra penuh penekanan.
“Baik,” Felix menjeda ucapannya saat melihat Lyra tengah melipatkan kedua tangannya di d**a, “Tapi untuk hari ini.”
Ucapan Felix sukses membuat Lyra menatapnya lagi seolah ingin memburu. Di detik kemudian Lyra memukul Felix lagi.
“Lyra, aku lapar,” ucap Felix berusaha mengalihkan perhatian Lyra. Namun, itu tidak berhasil.
“Aku tidak peduli,” ucap Lyra acuh.
“Aku bersungguh-sungguh kali ini,” ucap Felix.
Lyra menatap Felix yang memasang wajah menggemaskan, “Aku tidak ingin memasak untukmu. Jadi, kau yang buat makanannya sendiri.”
“Baiklah,” ucap Felix.
Lyra pun melepaskan Felix yang mulai melangkah ke arah dapur. Lyra memilih menyalakan televisi, sementara Felix sibuk berkutat di dapur. Namun, tidak lama, suara ketukan di pintu terdengar.
“Felix, apa kau mengundang seseorang untuk bergabung bersama?” teriak Lyra pada Felix yang tengah menyiapkan makanan.
Seolah berpikir, Felix mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Lyra, “Tidak. Aku tidak merasa mengundang siapa pun. Mungkin itu klienmu yang datang.”
“Apa kau sedang bergurau denganku? Sejak kapan aku mengundang klien ke rumah,” gerutu Lyra sambil berjalan ke arah pintu utama.
Lyra pun membuka pintu itu karena ketukannya tidak berhenti. Saat dia melihat siapa yang datang, dahinya mengernyit seketika.
“Ada apa kalian ke mari?” tanya Lyra pada Drake dan juga Austin yang berdiri di depan pintu.
“Selamat siang Nona Lyra!” ucap Austin sambil memberikan salam hormat pada Lyra, diikuti oleh Drake yang berdiri selangkah di samping Austin.
Drake dan Austin pun memberikan ruang untuk Tuan Armstrong yang melangkah ke hadapan putrinya.
“Ayah!” ucap Lyra dengan wajah tidak percaya.
“Apa kabar, putri Ayah?” suara bariton tuan Armstrong terdengar lebih lembut dari biasanya.
Lyra mengampiri Tuan Armstrong yang tengah merentangkan tangannya, lalu Lyra pun memeluknya, seraya Tuan Armstrong mengecup puncak kepala Lyra, “Kabarku baik. Kenapa Ayah tidak memberitahu sebelumnya jika ingin mengunjungiku?”
“Kebetulan Ayah ada urusan di sini. Jadi, Ayah mampir sebentar untuk melihat keadaanmu,” jelas Tuan Armstrong.
“Ah, begitu rupanya,” Lyra hanya mengangguk-angguk faham tanpa menaruh curiga sedikit pun.
Dia pun mengajak Tuan Armstrong untuk masuk ke dalam rumahnya. Drake dan Austin mengekori mereka yang berjalan lebih dulu. Beberapa pengawal lain menunggu di pintu masuk rumah Lyra.
“Lyra, apa Ayah boleh meminjam ruang kerjamu?” pertanyaan Tuan Armstrong seketika membuat Lyra mengernyitkan dahinya.
“Untuk apa? Tumben sekali,” Lyra menatap Tuan Armstrong dengan raut wajah menyelidik.
“Sedikit pekerjaan untuk mereka,” Tuan Armstrong melirik Drake dan Austin yang berdiri tidak jauh dari sofa yang kini mereka duduki.
Setelah mengerti Lyra pun mengangguk samar, “Ah, tentu.”
Tuan Armstrong langsung memberikan isyarat pada Drake untuk pergi ke tempat yang dimaksud. Berbeda dengan Austin, dia masih berdiri di sana sambil memperhatikan sekitar. Matanya menelusuri setiap sudut rumah Lyra, sampai matanya menemukan seseorang tengah sibuk di dapur sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.
Austin pun memberi isyarat pada Tuan Armstrong jika di rumah ini Lyra tidak tinggal sendiri. Tuan Armstrong yang menangkap isyarat itu pun langsung beralih pada Lyra yang kini fokusnya pada layar televisi.
“Itu siapa, Lyra?” tanya Tuan Armstrong yang membuat Lyra mengalihkan perhatiannya.
Lyra mengikuti arah pandang Tuan Armstrong, dan dia melihat Felix yang kini tengah mengenakan celemek di tubuhnya sambil membawa nampan yang berisi makanan.
“Ah, dia temanku, Ayah,” Lyra pun beralih pada Felix, “Felix, kemarilah!”
“Teman?” ulang Tuan Armstrong sambil menatap Felix tidak suka.
Felix pun menyimpan makanannya di meja, lalu menyapa Tuan Armstrong dengan sopan, “Halo Om! Saya felix, teman Lyra.”
“Sejak kapan kalian berteman? Kenapa Ayah tidak tahu?” mata Tuan Armstrong semakin menajam, memperlihatkan aura kelam.
“Sejak aku masih kuliah,” jelas Lyra dengan suara lirih, “Ayah, kami hanya teman. Sungguh!”
Merasa dirinya tersudut, Felix pun memilih untuk mundur. Bahkan dia melihat Lyra sekarang seolah tidak bisa berkutik dari pria paruh baya yang dipanggil ayah oleh gadis itu, “Lyra, Om, sepertinya saya harus pergi. Masih ada pekerjaan yang belum selesai.”
“Iya, Felix. Hati-hati,” ucap Lyra.
“Kalau bisa kau jangan kembali lagi ke rumah anak saya,” ucapan Tuan Armstrong membuat Lyra dan Felix terkejut.
“Maksud Ayah apa?” Lyra sedikit tidak suka dengan ucapan ayahnya.
“Seperti yang kau dengar, Lyra,” ucap Tuan Armstrong.
“Ayah, Felix satu-satunya temanku. Jika Ayah seperti ini, aku akan benar-benar sendiri,” jelas Lyra.
“Jika kau tidak ingin sendiri, kembalilah ke rumah. Ayah akan menemanimu,” ucap Tuan Armstrong.
“Bukan seperti itu. Ayah tidak mengerti,” ucap Lyra.
“Kenapa kau begitu emosional sekarang?” Tuan Armstrong menatap Lyra tidak suka, dia pun menatap Felix yang tengah menundukkan kepalanya, “Kau pergilah!”
“Iya, Om. Kalau begitu saya permisi!” Felix mengangguk patuh, lalu beralih pada Lyra yang kini tengah menatapnya, “Lyra, aku pergi.”
“Felix…” lirih Lyra.
Sebelum Felix memutar tubuhnya, dia melihat Drake tengah berada di ruang kerja Lyra. Setelah itu, Felix pun langsung meninggalkan rumah Lyra tanpa sepatah kata pun. Bahkan raut wajahnya tidak terbaca.
Di tempat lain, di mana Drake tengah sibuk mencari keberadaan laptop Lyra dan perangkat lain yang memungkinkan bisa digunakan untuk mengakses internet. Namun, dia tidak menemukannya di mana pun. Drake pun menyalakan earpiece-nya.
“Tidak ada apa pun di sini. Aku tidak menemukan perangkat kerja milik Nona Lyra,” lirih Drake pada Austin.
Austin yang mendengar itu pun langsung berbisik pada Tuan Armstrong.
“Lyra, di mana laptopmu?” tanya Tuan Armstrong pada Lyra yang kini tengah marah.
“Untuk apa lagi?” ucap Lyra sedikit bersungut.
“Ayah membutuhkannya,” ucap Tuan Armstrong.
“Tidak ada,” singkat Lyra.
“Lyra…” lirih Tuan Armstrong, tapi terkesan tegas.
“Ck, di kamarku,” ucap Lyra tanpa mengalihkan pandangannya.
Drake yang mendengar itu pun langsung beralih ke kamar Lyra. Namun, saat Drake akan memasuki kamar itu, tiba-tiba suara Lyra menggema.
“Berhenti di sana!” Lyra berdiri seketika.
Mendengar kalimat perintah itu, Drake pun memberhentikan langkahnya. Lyra menatap Drake dengan tajam, “Jika kau berani masuk ke kamarku, aku akan menghabisimu.”
Drake melirik Austin dan dia menggeleng lemah. Drake pun hanya mengedipkan matanya sebagai isyarat mematuhi perintah yang ada.
“Kalau begitu bawa laptopmu pada ayah,” ucap Tuan Armstrong.
“Sebenarnya Ayah ini kenapa?” tanya Lyra.
“Apanya Lyra?” tanya Tuan Armstrong seolah tidak mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan.
“Kenapa Ayah menyebalkan? Tadi Ayah mengusir Felix dan sekarang pengawal Ayah menggeledah rumahku. Tujuan Ayah itu apa?” emosi Lyra sudah tidak terbendung lagi sampai napasnya pun memburu tak beraturan.
“Ayah akan menjelaskannya setelah kau memberikan laptopmu,” ucap Tuan Armstrong yang tak ingin dibantah.
“Lebih baik Ayah kembali ke Manchester dan bawa semua pengawal Ayah dari sini,” Lyra melangkah pergi menuju kamarnya. Namun, langkahnya langsung terhenti saat suara bariton Tuan Armstrong menggelegar dengan keras.
“Lyra!”
“Apa lagi Ayah?” wajah Lyra sudah memerah dengan mata yang hampir berkaca-kaca.
Tuan Armstrong berusaha menahan amarahnya dengan susah payah, agar tidak menyakiti putri satu-satunya yang kini menatapnya dengan raut wajah yang sedih. Tuan Armstrong pun langsung beralih pada Drake, “Ambil dan periksa!”
“Sesuai perintah,” Drake pun langsung bergerak kembali dan mencari laptop milik Lyra.
“Aku benci Ayah,” gumam Lyra yang masih bisa didengar oleh Tuan Armstrong, Austin, bahkan Drake.
Drake merasa bersalah atas ini, karena pekerjaannya yang mengantar dia ke tempat itu, dan menyakiti hati seorang gadis yang tengah berdiri mematung sambil menatap ayahnya dengan rasa yang begitu mendesak d**a. Drake pun menemukan laptop Lyra yang ada di loker nakas. Dia langsung begerak mencari bukti dan mencocokan data yang dia dapat. Seketika napasnya tercekat saat menatap layar laptop milik Lyra.
Bagaimana ini? batin Drake.
Sejenak, Drake mengalihkan pandangannya pada Lyra yang masih berdiri di depan pintu kamarnya. Sorot matanya tidak bisa berbohong jika kali ini hatinya tengah terluka. Drake merasa bingung dengan keadaan yang sudah kacau seperti ini. Bahkan dia pun sampai mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
Maaf Lyra, batin Drake.