Untuk memahami Kota Wirantara, kamu harus memahami rasa takut.
Bukan takut pada kegelapan atau pencuri receh. Tapi takut yang lebih dalam—takut yang membuat orang menutup tirai pukul tujuh malam, takut yang membuat pedagang membayar "uang aman" tanpa banyak tanya, takut yang membuat polisi memalingkan wajah ketika mobil hitam berkaca gelap melintas.
Semua itu bermula dari satu nama: Sindikat Naga Hitam.
Reno tumbuh mendengar nama itu seperti orang lain mendengar dongeng. Tapi ini bukan dongeng. Sindikat menguasai pelabuhan, pasar, bahkan sebagian dewan kota. Pemimpinnya, yang dijuluki Tuan Garda, tak pernah menampakkan wajah, tapi tangannya menjangkau setiap sudut. Mereka yang melawan akan menghilang. Mereka yang patuh akan hidup—dengan kepala tertunduk.
Reno melihatnya sendiri keesokan harinya, ketika ia pergi ke warung kopi langganannya di Jalan Mawar. Pemiliknya, Pak Harto, sedang berdebat dengan dua pria berjaket kulit.
"Bulan ini saya nggak sanggup, Mas. Pembeli sepi—"
"Sepi atau nggak bukan urusan kami." Pria yang lebih besar menggebrak meja. "Tuan Garda nggak suka alasan."
Reno mengepalkan tangan di bawah meja. Ia merasakan denyut itu—energi yang ingin keluar, ingin meledak, ingin menghanguskan dua bajingan itu. Garis cahaya mulai muncul di bawah kulit pergelangannya. Ia menariknya kembali dengan susah payah, napasnya berat. Belum saatnya, katanya pada diri sendiri. Aku belum bisa mengendalikannya. Kalau aku gagal, Pak Harto yang akan menanggung.
Pria itu mengambil semua uang dari laci kasir dan pergi, menyenggol bahu Reno tanpa minta maaf.
"Maaf kamu lihat itu, Nak," kata Pak Harto, suaranya bergetar saat menuang kopi. "Begitulah kota ini. Dulu nggak begini. Dulu kita masih bisa bermimpi."
Reno menatap cangkir kopinya. "Kenapa nggak ada yang melawan?"
Pak Harto tertawa getir. "Melawan? Tahun lalu ada anak muda yang ngumpulin pedagang buat protes. Namanya Bayu. Pemberani. Suatu pagi dia ditemukan di sungai. Polisi bilang kecelakaan." Ia menggeleng. "Di Wirantara, keberanian itu mahal. Dibayar nyawa."
Sepanjang hari itu, Reno berjalan menyusuri kota dengan mata yang baru. Ia melihat anak-anak bermain di gang sempit di bawah bayang gedung-gedung megah milik Sindikat. Ia melihat ibu-ibu antre di pasar dengan dompet tipis sementara mobil mewah melintas. Ia melihat poster wajah orang-orang hilang yang sudah lusuh, ditempel di tiang listrik, tak pernah dicari.
Kota ini sakit. Dan tidak ada yang berani menjadi dokternya.
Malam harinya, Reno duduk di apartemennya, menatap tangannya yang berdenyut pelan dengan cahaya biru. Dimas pernah berkata kekuatan adalah cara dunia memilih siapa yang berkuasa. Tapi Reno mulai berpikir mungkin kekuatan adalah pertanyaan: kamu akan jadi apa dengannya?
Ia teringat wajah ketakutan Pak Harto. Wajah Bayu yang ia bahkan tak pernah kenal. Wajah seluruh kota yang menunduk.
"Mungkin aku nggak diberi kekuatan ini buat sembunyi," gumamnya.
Tapi ia juga tahu, melawan Sindikat sama dengan menggali kubur sendiri. Mereka punya senjata, uang, orang dalam, dan kekejaman tanpa batas. Sementara ia hanya seorang insinyur muda yang baru bisa membuat percikan listrik dari jarinya dan belum tahu cara mengarahkannya tanpa menghancurkan dirinya sendiri.
Ia memandang ke luar jendela. Lampu kota berkelip seperti mata yang waspada. Di suatu tempat di luar sana, Tuan Garda sedang menghitung uang ketakutan rakyatnya.
Reno menggenggam tangannya. Cahaya biru itu menyala lebih terang.
"Aku harus belajar," bisiknya pada malam. "Dan aku harus cepat."