Tuan Garda bukan orang yang sabar, tapi ia orang yang teliti. Dan ketika seekor naga memburu, ia tidak mengandalkan kekuatan saja. Ia menebar jaring.
Reno mulai menyadarinya dari hal-hal kecil. Mobil hitam yang terlalu sering muncul di dekat tempat ia beraksi. Orang asing yang bertanya-tanya di pasar tentang "anak muda yang sering keluar malam". CCTV baru yang tiba-tiba terpasang di gang-gang yang biasa ia lewati. Sindikat sedang mempersempit ruang gerak Bayangan.
Tapi Reno tidak sepenuhnya sendirian menghadapi jaring itu. Tanpa ia rencanakan, sebuah jaring tandingan justru tumbuh di sekelilingnya. Semua bermula dari Pak Harto. Pemilik warung kopi tua itu, yang dulu hanya bisa menunduk pada penagih Sindikat, diam-diam menebak bahwa Bayangan adalah anak muda yang dulu sering duduk di warungnya—dan ia memilih membalas budi dengan cara yang ia bisa. Pak Harto mulai menyampaikan kabar: kapan truk Sindikat lewat, gudang mana yang dijaga, pedagang mana yang baru diperas. Dari warungnya yang jadi tempat banyak orang singgah, kabar itu mengalir, dari satu pedagang ke pedagang lain, dari tukang becak ke penjaga pasar. Pelan-pelan, tanpa pernah tahu wajah aslinya, rakyat kecil Kota Wirantara menjadi mata dan telinga Bayangan—sebuah jaringan informan rapuh yang dijalin oleh harapan, dengan Pak Harto sebagai simpul utamanya.
Lalu Sindikat mulai bermain kotor.
Suatu malam, Reno menerima kabar lewat jalur Pak Harto bahwa Sindikat menahan sekelompok pedagang di gudang pelabuhan. Umpan yang jelas. Reno tahu itu jebakan. Tapi ia juga tahu, jika ia tidak datang, orang-orang itu bisa benar-benar dilukai untuk memancingnya.
Ia datang.
Gudang pelabuhan itu terang benderang, dikelilingi puluhan anak buah Sindikat bersenjata. Para pedagang memang ada di sana, terikat di tengah, ketakutan. Begitu Reno—sebagai Bayangan—melangkah masuk, pintu-pintu baja menutup. Jaring telah mengatup.
"Akhirnya," seorang pria gemuk berjas, kaki tangan kepercayaan Tuan Garda yang dijuluki Kelana, melangkah maju sambil bertepuk tangan pelan. "Sang Bayangan yang terkenal. Kau tahu, kau merusak banyak bisnis kami."
"Lepaskan mereka," kata Reno, suaranya berat di balik topeng.
"Tentu. Setelah kau mati." Kelana menjentikkan jari.
Tembakan menghujani dari segala arah.
Reno bergerak. Tubuhnya yang dialiri energi melesat di antara peluru, melompat, berputar, melepaskan sengatan ke setiap senjata yang ia capai. Ia menarik daya dari lampu sorot gudang sampai padam, melemparkan ruangan ke dalam gelap yang menjadi sahabatnya. Di kegelapan, Bayangan adalah raja. Ia melumpuhkan satu per satu, gerakannya dituntun percikan biru yang sesekali menerangi wajah-wajah ketakutan musuhnya.
Tapi mereka terlalu banyak. Dan Kelana sudah mengantisipasi.
"Sekarang!" teriak Kelana.
Jaring logam dialiri listrik tegangan tinggi jatuh dari langit-langit, menyelimuti Reno. Ironisnya, listrik—elemen yang ia kuasai—dalam jumlah sebesar itu justru membebani tubuhnya, mengacaukan energinya sendiri. Ia berlutut, tubuhnya kejang, topengnya nyaris terlepas.
"Lihat?" Kelana mendekat, menyeringai. "Bahkan dewa petir pun bisa kelebihan beban. Buka topengnya. Tuan Garda ingin tahu wajah orang yang akan dia kubur."
Tangan Kelana terulur ke topeng Reno.
Dalam detik itu, Reno menutup matanya, mencari ketenangan di tengah rasa sakit, persis seperti yang ia latih berminggu-minggu di gudang tua. Ia tidak melawan listrik di jaring itu. Ia menyerapnya. Ia menariknya masuk ke dalam dirinya, semua tegangan itu, sampai jaring itu mati dan tubuhnya membara dengan energi yang nyaris tak tertahankan.
Lalu ia melepaskannya.
Gelombang biru meledak dari tubuhnya, menghempaskan Kelana dan semua orang dalam radius beberapa meter. Lampu, kabel, setiap perangkat elektronik di gudang itu meledak serentak. Reno bangkit, asap mengepul dari jaketnya, topengnya masih di tempatnya.
Ia memutus ikatan para pedagang dengan tangan gemetar. "Pergi. Lewat pintu samping. Cepat."
Mereka berlari. Reno menatap Kelana yang tergeletak setengah sadar.
"Sampaikan pada Tuan Garda," kata Reno, suaranya dingin. "Kota ini bukan miliknya. Tidak lagi."
Ia menghilang ke dalam malam sebelum bala bantuan tiba.
Di puncak gedung Naga Hitam, Tuan Garda mendengar laporan kegagalan itu dengan wajah tak terbaca dalam bayang-bayang. Untuk waktu yang lama ia diam. Lalu ia berkata, perlahan, kepada seseorang yang berdiri di sudut ruangan—sosok yang sejak tadi diam, mengenakan jubah dan topeng putih pucat tanpa ekspresi.
"Tampaknya orang-orangku tak sanggup," kata Tuan Garda. "Sudah waktunya aku melepaskanmu."
Sosok bertopeng putih itu memiringkan kepala. Dan ketika ia mengangkat tangannya, udara di sekitarnya bergetar—dengan kekuatan yang sama persis seperti milik Reno.