Layla terbangun ketika ia merasakan sesuatu yang hangat dan basah menjilati dadanya. Ia mengerang, perlahan-lahan membuka kelopak matanya.
Sejujurnya matanya terasa sangat berat, seperti ia tidak tidur selama semalaman karena lembur ---
Layla membuka matanya lebar-lebar...BENAR LEMBUR!!! KARENA BOS b******k NYA!!
Layla segera melihat ke sekeliling, merasa asing dengan ornamen-ornamen disekitar yang terlihat memiliki satu tone warna yaitu gelap.Tidak mungkin kantor nya seperti ini, kantor yang diingat layla adalah perusahaan elit yang suka memperbudak karyawan-karyawan nya dengan yang namanya 'lembur'.
Layla memijat dahinya, merasa pusing dan kepala nya berat. Layla mengerutkan dahi, berusaha mengingat apa yang terjadi sebelumnya hingga ia bisa terdampar di tempat yang asing ini.
'slickk...slick...'
Layla tersentak sedikit, melihat ke arah dimana suara basah seperti seseorang yang sedang menjilati sesuatu. Netra coklat nya otomatis terbuka lebar ketika melihat bos-nya, maxime menjilati d**a nya. "Akhh---uhukk uhukk!! hh!!!" Layla berteriak tapi suaranya tersendat-sendat, tenggorokan nya terasa sangat kering.
Disisi lain tanpa disadari Layla yang sibuk terbatuk-batuk, Maxime berhenti menjilati d**a Layla. Maxime hanya menatap dingin, netra merah gelap nya seolah-olah tidak peduli dan merasa tidak terganggu dengan teriakan Layla sebelumnya karena semalaman ia puas mendengarkan teriakan dan tangisan Layla yang berada dibawah kontrol nya.
Maxime menjentikkan jarinya, lalu munculah segelas air putih di tangan nya. Maxime menyodorkan gelas berisi air itu pada Layla.
Sedangkan Layla yang sudah berhenti batuk, mengusap-usap kelopak matanya dan berusaha menjernihkan penglihatannya. Merasa tak percaya apa yang dilihatnya tadi: pertama, ia melihat bos-nya itu menjilati dadanya yang berdarah? pantas saja ia merasa ada sesuatu yang hangat dan basah menjilati dadanya?. kedua, bagaimana bisa secara sekejap ada segelas air minum di tangan pria itu?
Apakah layla sudah gila? Atau memang karena ia baru saja bangun sehingga nyawa nya belum terkumpul penuh sehingga ia banyak berkhayal, mulai dari bos-nya yang menjilati dadanya hingga melihat hal-hal diluar akal.
Layla, menolak. Ia menolehkan kepalanya ke kiri, menghindari tatapan Maxime yang sangat tajam dan dingin sembari ia berusaha menjernihkan pikirannya. Tapi, baru saja dua detik terlewati Layla tidak bisa menahan ketika dirinya ditatap tajam oleh Maxime seperti dirinya adalah mangsa.
"S-stop---" Layla menatap netra Maxime lalu ia menyadari bahwa sedari tadi ada sesuatu yang terasa tidak benar.
Ya, semuanya. semua yang ia rasakan sedari ia membuka mata sangatlah janggal. Tidak ada yang normal tentang apa yang terjadi paga Layla saat ini.
Layla, mengeratkan cengkraman nya pada selimut tebal yang ternyata sama sekali tidak membantu menutupi tubuhnya sedikit pun. karena sebelum Layla terbangun, Maxime menyingkapkan selimut itu secara sengaja untuk melihat tubuh polos Layla yang dipenuhi tanda-tanda miliknya.
Tangan Layla gemetar, ketika ia melihat tubuh polosnya yang penuh bercak ungu dan merah. Beberapa diantaranya memiliki bekas gigitan seperti pada pahanya, perut nya, dadanya, lengan nya.
Layla hampir saja pingsan, terlalu banyak praduga dan memori gila yang memasuki kepalanya secara serentak.
"hufff---" Layla, menarik nafas dalam-dalam sebelum dia membuka mulut nya dan "bagaimana ini bisa terjadi?...beri aku waktu untuk bernafas sebentar". Layla menarik nafas.
maxime hanya diam di posisinya, tepat disebelah Layla yang terlihat sangat amat terkejut dengan situasi saat ini. netra merah gelap maxime memicing, ia bukan seseorang yang sabar jadi maxime mencengkram leher Layla yang jenjang dan dipenuhi tanda gigitan yang dibuatnya semalaman. lalu maxime mendorong wanita itu hingga kepala belakang layla menempel pada bantal.
"cepat...jangan buang waktuku, kelinci kecil" suaranya sangat rendah, dalam dan mampu membuat Layla merinding.
layla terbatuk-batuk karena lengan Maxime yang mencengkram lehernya dengan erat "uhukk! ughh! uhukk!!". Layla sangat ketakutan. Pada akhirnya, yang dihadapi nya adalah pria bertubuh besar dan tinggi. pria yang mampu melakukan apapun pada dirinya yang tanpa keahlian sedikitpun tentang membela dirinya sendiri. pria yang memiliki jabatan tinggi pula yaitu sebagai pewaris keluarga kaya dan CEO di perusahaan dimana Layla bekerja.
Tapi Layla berusaha kuat didepan pria dengan tanduk aneh dan mata merah itu, meskipun ia sadar diri dengan posisinya saat ini.
layla memukul-mukul lengan besar maxime, berusaha melepaskan cengkraman di lehernya.
" uhukkk!! le-lepaskan---". maxime bisa melihat bahwa layla gemetar dibawah cengkraman nya.
"---mphhh!".
Layla membuka matanya lebar-lebar ketika secara tiba-tiba Maxime mencium nya, Layla berusaha menolak dan menutup rapat-rapat bibirnya sembari masih berusaha memukul dan mendorong maxime. tak mau menyerah, Layla bahkan menendang-nendang maxime tapi apa yang Layla dapat hanyalah perasaan sakit pada paha, pinggang dan bagian privasi nya. "Mphhh!!! unghhh!!!"
Namun, pria besar itu seolah tidak peduli dan malah menikmati bagaimana Layla berusaha keras meskipun tidak akan memberi hasil yang sesuai dari keinginan wanita itu.
Maxime mengigit bibirnya dengan taring nya yang tajam. layla mengerang kecil, melihat hal ini menjadi kesempatan Maxime segera mendorong lidah nya masuk kedalam mulut layla membuat gadis itu mengerang "Hmpphh!! mmm!"
lalu air menerobos masuk kedalam mulut Layla, hingga kerongkongannya. Layla membuka matanya lebar-lebar ketika menyadari bahwa Maxime berusaha memberinya air karena Layla menolak gelas yang diberikannya tadi.