Ponsel Gio berhenti bergetar, tetapi Sera telanjur merasa ada orang ketiga duduk bersama mereka.
Ia tahu Levia bukan pacar Gio. Pria itu sudah menjelaskannya saat di rumah sakit.
Namun, mengetahui status seseorang tidak otomatis menjelaskan isi hatinya.
Apalagi Gio sendiri masih datang ketika Levia meminta pertolongan.
Sera meletakkan sendok.
“Lo nggak perlu buru-buru ngabisin makan gara-gara gue,” ujar Gio.
“Gue udah kenyang.”
“Nasimu masih banyak.”
“Perut gue bukan tempat penitipan nasi.”
Gio menghela napas. Ia mengenali perubahan nada gadis di hadapannya, tetapi belum yakin penyebabnya.
Ponselnya kembali bergetar.
Kali ini sebuah pesan muncul. Gio mengambilnya dan membaca singkat sebelum mengetik balasan.
Sera berusaha tidak melihat.
Ia gagal.
Yang tertangkap hanya beberapa kata, tetapi cukup membuatnya semakin kesal kepada diri sendiri karena penasaran.
Gio meletakkan ponsel kembali.
“Dia mau nanya soal makan siang tadi.”
Sera mengangkat kepala.
“Makan siang?”
Gio baru menyadari dirinya memberikan informasi yang tidak diminta.
“Iya. Tadi dia datang ke kantor.”
“Oh.”
Sera mengangguk pelan, kemudian mulai menutup salah satu kotak makanan.
Gio menatap gerakan tangannya.
“Kenapa?”
“Apanya?”
“Jawaban lo cuma begitu.”
“Emang harus gimana? Gue tepuk tangan karena lo makan sama mantan?”
Gio terdiam sesaat sebelum senyum kecil muncul.
Sera langsung menunjuknya.
“Jangan mulai.”
“Gue belum mulai apa-apa.”
“Muka lo itu loh.”
Gio menahan tawa. Namun, ia tidak ingin Sera terus memiliki kesimpulan yang salah.
“Dia datang ngajak makan. Gue ikut setelah bilang jangan datang lagi ke kantor buat urusan pribadi.”
Sera mengangkat bahu.
“Kenapa cerita sama gue?”
Pertanyaan itu membuat Gio diam.
Benar juga. Kenapa ia merasa perlu menjelaskan semuanya kepada gadis yang selama ini mengaku tidak ingin mengurusi hidupnya?
Karena Sera salah paham?
Atau karena ia tidak suka Sera berpikir dirinya masih ingin kembali kepada Levia?
Gio menyandarkan punggung.
“Karena tiap ketemu dia, lo selalu nyebut pacar gue.”
“Sekarang gue nggak bilang begitu.”
“Tapi kayaknya pikiran lo masih begitu.”
Sera mengambil gelas dan meneguk air.
Ia tidak bisa membantah sepenuhnya.
Gio memperhatikan gadis itu, lalu mengalihkan pandangan sebelum suasana menjadi semakin aneh.
“Udah. Makanan sisanya mau disimpan di mana?”
“Gue yang beresin nanti.”
“Kalau gitu gue bawa pulang aja.”
Sera langsung menarik kotak lebih dekat.
“Enak aja. Tadi udah dikasih.”
Gio tertawa. Akhirnya wajah galak yang dikenalnya kembali muncul.
Mereka membereskan meja dengan pembagian yang lebih banyak ditentukan oleh letak barang daripada perdebatan. Sera menunjukkan wadah yang bisa digunakan, Gio membawa piring ke dapur.
Ketika pria itu hendak mencucinya, Sera berdiri di ambang pintu.
“Lo tamu.”
“Terus?”
“Nggak usah cuci piring.”
“Piring dua biji, Ser. Bukan katering satu gedung.”
Sera mendengus. Namun, ia akhirnya hanya bersandar dan memperhatikan Gio menyelesaikannya.
Pemandangan itu terasa terlalu akrab.
Seorang pria berada di dapurnya setelah mereka makan bersama, sementara dirinya berdiri tanpa tahu harus melakukan apa.
Sera segera mengalihkan pikiran.
“Lo nggak ke sanggar?”
“Besok. Malam ini gue pulang setelah dari sini.”
Gio mengeringkan tangannya, lalu berbalik. Sera berdiri cukup dekat sehingga keduanya hampir bertabrakan.
Perempuan itu mundur satu langkah.
Gio refleks menahan sikunya agar ia tidak kehilangan keseimbangan.
“Hati-hati.”
Sera menatap tangannya.
“Gue nggak jatuh.”
“Bagus. Gue juga belum siap dijadikan tersangka kalau kaki lo tambah sakit.”
Sera tertawa kecil sebelum sempat menahannya.
Gio melepaskan pegangannya, tetapi matanya tetap tertuju pada wajah gadis itu.
Sera yang tertawa tanpa bersiap menyerang ternyata berbahaya bagi ketenangannya.
Ingatan tentang malam di mobil kembali menyelinap.
Gio langsung memalingkan wajah.
Ada satu hal yang belum pernah dikatakannya.
Dan semakin nyaman Sera berada di dekatnya, semakin tidak enak rasanya menyimpan kejadian tersebut.
“Gi?”
Pria itu menoleh.
“Lo bengong.”
“Capek.”
“Ya udah pulang. Besok kan kerja lagi.”
Gio mengangguk, lalu mengambil ponsel dan kunci.
Sera mengantarnya sampai pintu. Sebelum keluar, pria itu melihat perban di tangannya.
“Jadwal kontrol lo kapan?”
“Beberapa hari lagi.”
“Udah ada yang nganter?”
“Belum tahu.”
“Kalau perlu—”
“Iya. Gue tahu nomor lo.”
Gio tersenyum tipis.
“Tumben jawabannya nggak ngajak perang.”
“Jatah marah gue udah habis di kantor.”
“Semoga besok belum diisi ulang.”
Sera memutar bola mata, tetapi senyum di bibirnya tidak berhasil disembunyikan.
Setelah Gio pergi, apartemen terasa lebih sunyi daripada sebelumnya.
Sera menatap piring yang sudah bersih, lalu kotak makanan yang disimpan rapi.
Ia tidak suka menyadari bahwa dirinya masih ingin mengobrol.
“Baru juga ditinggal,” gumamnya. “Jangan norak, Ser.”
Ia mengambil ponsel untuk mengalihkan perhatian.
Ada sebuah pesan yang masuk saat mereka makan tadi.
Nomor yang dikenalnya dengan baik.
Sera membuka percakapan itu dan wajahnya berubah.
Pengiriman berikutnya perlu dikonfirmasi lebih awal. Ada perubahan waktu dari pihak penerima.
Ia membaca pesan tersebut dua kali, kemudian berjalan menuju kamar.
Pintu ditutup meskipun apartemen kosong.
“Halo, Mas. Saya baru baca pesannya.”
Sera mendengarkan jawaban dari seberang dengan kening berkerut.
“Barang yang kemarin sudah diterima semuanya, kan?”
Setelah mendapat penjelasan, bahunya sedikit turun.
“Kalau waktunya berubah, kabari saya dulu. Jangan kirim ke alamat lain sebelum saya pastikan.”
Ia diam beberapa saat, lalu menambahkan dengan suara lebih pelan.
“Dan seperti biasa, nama saya jangan disebut kalau ada yang tanya.”
Percakapan itu selesai tanpa banyak kata.
Sera duduk di tepi ranjang, memandangi layar yang mulai gelap.
Beberapa menit lalu ia masih menertawakan Gio.
Sekarang pikirannya kembali berada di tempat yang selama ini dijaga agar tidak disentuh orang lain.
Ponselnya bergetar lagi.
Pesan dari Gio.
Jangan lupa obat. Yang tadi berani masuk kerja besok jangan protes kalau badan remuk.
Sera tersenyum tipis meskipun matanya terasa lelah.
Ia mengetik balasan pendek.
Iya, Pak Dokter Palsu.
Setelah mengirimnya, Sera meletakkan ponsel menghadap ke bawah.
Di dalam mobil yang masih terparkir, Gio membaca balasan Sera sambil tersenyum sendiri.
Dokter palsu.
Setidaknya gadis itu menjawab, bukan hanya membaca lalu membiarkannya terlihat seperti orang yang sedang mencari perhatian.
Gio segera mengerutkan kening.
Memangnya ia tidak sedang mencari perhatian?
Pria itu meletakkan ponsel, lalu menyalakan mesin. Jawaban atas pertanyaan tersebut dibiarkannya menggantung karena ada hal lain yang harus dipikirkan.
Levia sudah mengirim pesan lagi.
Kali ini menanyakan apakah Gio sampai rumah dengan selamat.
Gio membalas seperlunya sebelum berangkat. Ia tidak ingin bersikap kasar, tetapi juga tidak ingin keramahan kecil kembali diterjemahkan sebagai janji untuk mengulang hubungan lama.
Masalahnya, ia masih belum pandai membuat perbedaan itu terlihat jelas.
Sementara itu, di apartemennya, Sera mematikan lampu ruang tamu dan kembali ke kamar. Piring yang sudah dicuci Gio tertinggal di tempat pengeringan.
Besok benda itu akan mengingatkannya lagi bahwa seseorang pernah datang tanpa diminta, dan untuk sekali ini ia tidak merasa ingin segera menyuruhnya pergi.
Perhatian Gio menyenangkan.
Justru karena itu, ia mulai merasa harus berhati-hati.