Sera menatap Gadis seperti sedang melihat orang yang baru saja menjual namanya tanpa izin.
“Lo udah ngomong sama Rama?”
“Baru nanya tempatnya bisa atau nggak.”
“Terus kenapa bawa nama gue?”
“Karena yang reporter lo. Masa gue yang datang bawa piring sambil nanya prestasi taekwondo?”
Sera memutar bola mata.
Gadis duduk lebih dekat dan menurunkan suara, meskipun wajahnya masih penuh semangat.
“Denger dulu. Lo sendiri bilang pengin tetap dapat bahan yang bisa dieksplor. Ini kan bisa jadi usulan. Tempatnya jelas, narasumbernya ada, dan lo nggak perlu naik bukit.”
“Jangan nyindir kaki gue.”
“Gue menyayangi kaki lo.”
“Mulut lo meragukan.”
Gadis tertawa.
Pembicaraan mereka berhenti ketika nama Sera dipanggil dari arah ruangan Panca. Sera mengambil buku catatan, lalu berdiri dengan gerakan yang lebih hati-hati daripada biasanya.
Gadis menunjuk kakinya sambil mengangkat alis.
Sera membalas dengan tatapan tajam.
Di dalam ruangan, Panca melihat perban yang masih menempel sebelum mempersilakannya duduk.
“Saya kira kamu akan menghabiskan cuti istirahat.”
“Saya cuma menyelesaikan laporan, Mas.”
“Semua orang bilang begitu sebelum menerima pekerjaan lain.”
Sera tersenyum canggung.
Panca membuka beberapa catatan di meja. Ia membicarakan laporan yang sudah dikerjakan Sera, kemudian kembali pada tawaran yang pernah disampaikan sebelumnya.
Pengganti Lina untuk berita malam masih menjadi pembahasan.
Sera mendengarkan tanpa langsung menjawab.
“Keberatanmu masih sama?” tanya Panca.
Ia mengangguk.
“Saya takut kehilangan kesempatan liputan langsung kalau seluruh jadwal pindah ke studio.”
“Bekerja di studio bukan berarti berhenti menjadi wartawan.”
“Saya tahu. Tapi saya lebih cocok kalau masih bisa bertemu narasumber secara langsung.”
Panca bersandar.
“Kalau kita bicarakan masa percobaan dan pembagian tugas yang realistis?”
Sera terdiam.
Tawaran itu lebih dekat dengan sesuatu yang bisa dipertimbangkannya.
Ia tidak langsung setuju. Ada jadwal yang perlu dilihat, pekerjaan yang harus disiapkan, dan keadaan tubuhnya yang memang belum memungkinkan mengambil terlalu banyak tugas.
Panca tampaknya tidak mengharapkan jawaban saat itu juga.
“Pikirkan. Sementara ini selesaikan pemulihanmu. Kalau punya usulan liputan yang tidak memaksakan keadaan, kirimkan dengan jelas.”
Sera teringat percakapannya dengan Gadis.
Ia menjelaskan gagasan mengenai pembinaan atlet dan kegiatan sanggar, tanpa menyebutnya sebagai rencana yang sudah pasti diterima narasumber.
Panca mengajukan beberapa pertanyaan.
Sera mencatat.
Ketika keluar, Gadis sudah menunggu dengan wajah penasaran.
“Gimana?”
“Lo ini teman apa petugas pemeriksa?”
“Teman yang berjasa.”
Sera duduk.
“Gagasannya boleh diajukan. Belum tentu jadi.”
Gadis tersenyum lebar.
“Berarti gue berjasa.”
“Jangan nagih makan.”
“Yah.”
Sore berikutnya, Sera menjalani kontrol sesuai jadwal. Raka yang kebetulan memiliki waktu menawarkan mengantar setelah mengetahui kedua pamannya sedang sibuk.
Sera menerima.
Tidak ada rasa berdebar ketika pria itu datang, hanya kenyamanan yang selama ini dikenalnya dengan baik.
Mereka membicarakan pekerjaan sepanjang perjalanan.
Raka menanyakan liputan yang sedang direncanakan, lalu tertawa ketika mendengar sanggar Gio disebut.
“Aku juga akan ke sana untuk pemotretan,” katanya.
Sera menoleh.
“Yang anak-anak itu?”
“Iya. Sudah janji sama Gio.”
“Dunia sempit banget.”
“Atau kamu mulai sering berada di tempat yang sama dengan dia.”
Sera langsung mendelik.
Raka mengangkat bahu dengan wajah tidak bersalah.
Setelah pemeriksaan selesai, Sera mengikuti arahan yang diberikan dan kembali membicarakan batas kegiatan yang bisa dilakukannya. Ia tidak ingin datang untuk liputan lalu justru merepotkan seluruh orang karena memaksakan kaki.
Di perjalanan pulang, Raka melihatnya memeriksa ponsel.
“Gio?”
Sera mengangkat wajah terlalu cepat.
“Kenapa nanya dia?”
“Karena reaksimu begitu.”
Sera mendengus.
Raka tertawa, lalu kembali memperhatikan jalan.
“Dia nanya hasil kontrol,” aku Sera akhirnya.
“Bagus.”
“Bagus apanya?”
“Ada yang mengingatkan kamu supaya tidak sok kuat.”
Sera hendak membalas, tetapi kalimatnya tertahan.
Raka selalu mengenalnya sebagai orang yang bisa menjaga diri. Ia menyukai kepercayaan itu.
Namun, perhatian Gio yang kadang berlebihan ternyata juga memiliki tempat berbeda di hatinya.
Hal tersebut mulai membuatnya takut.
“Kamu akhir-akhir ini jarang cerita tentang Gio dengan wajah marah,” ujar Raka.
“Karena dia lagi jarang nyebelin.”
“Begitu?”
Sera menoleh.
“Kamu jangan ikut-ikutan Gadis.”
Raka tersenyum, tetapi kali ini tidak melanjutkan godaan.
Beberapa saat kemudian, ia berbicara dengan suara lebih tenang.
“Aku senang kamu punya orang lain yang bisa dihubungi.”
Sera diam.
Kalimat itu mengingatkannya pada percakapan di kafe sebelum pernikahan Rea dan Jouvan. Pada penolakan yang begitu jelas sampai ia tidak bisa lagi berpura-pura tidak mendengar.
“Aku belum lupa omongan kamu waktu itu,” katanya pelan.
Raka mengangguk.
“Aku tahu.”
“Aku juga belum tahu harus merasa apa sekarang.”
“Kamu tidak perlu memberi jawaban kepadaku.”
Sera menatap jalan di depan.
Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus membuktikan bahwa cintanya kepada Raka masih sebesar dulu agar seluruh perjuangannya tidak terlihat sia-sia.
Ada sesuatu yang mulai berubah.
Ia belum ingin menamainya.
Raka menepikan kendaraan sebentar untuk membeli minuman sebelum perjalanan dilanjutkan. Ia kembali membawa dua botol, lalu menyerahkan salah satunya kepada Sera.
“Kamu selalu ingat yang biasa aku minum,” gumam Sera.
“Karena kamu pernah protes panjang waktu kubelikan yang salah.”
Sera tertawa kecil.
Raka tersenyum, lalu memasang sabuk pengamannya kembali.
Ada banyak kenangan baik di antara mereka. Sera tidak ingin menganggap semuanya memalukan hanya karena harapannya selama ini tidak dibalas.
“Aku tetap boleh cerita sama kamu, kan?” tanyanya.
Raka menoleh.
“Tentu.”
“Jangan sampai karena pembicaraan waktu itu, kita malah jadi orang asing.”
“Aku tidak ingin begitu.”
Sera mengangguk.
Raka memperhatikan wajahnya sebelum melanjutkan.
“Tapi kalau kamu perlu menjaga jarak sebentar, aku juga bisa mengerti. Kamu tidak harus terlihat santai terus supaya aku merasa lebih enak.”
Sera memandang botol di tangannya.
“Nyebelin ya, kamu kadang terlalu tahu.”
“Kadang kamu terlalu mudah dibaca.”
“Jangan bilang itu sama Gio.”
Raka tertawa begitu lepas sampai Sera ikut tersenyum meskipun baru menyadari nama siapa yang kembali disebutnya.
Ia menatap keluar jendela saat kendaraan mulai bergerak.
Hubungan dengan Raka tidak harus dibuang agar dirinya bisa berjalan ke arah lain.
Pikiran itu terasa asing, tetapi untuk pertama kalinya tidak sepenuhnya menakutkan.
Sesampainya di apartemen, Sera berterima kasih dan berpamitan. Raka menunggu sampai ia masuk, kemudian pergi untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Di dalam lift, Sera membuka pesan Gio.
Hasil kontrolnya gimana? Dokternya udah nyerah ngasih tahu lo?
Ia mengetik sambil menahan senyum.
Dokternya baik. Nggak bawel kayak lo.
Balasan datang saat pintu lift terbuka.
Bagus. Berarti yang bawel cukup satu.
Sera berhenti di depan pintunya.
Cukup satu.
Kalimat itu seharusnya tidak memiliki arti apa-apa.
Namun, ia masih memikirkannya ketika menerima konfirmasi bahwa usulan liputan sanggar bisa dilanjutkan ke persiapan berikutnya.
Sera membaca jadwal yang dikirim, lalu mengembuskan napas.
Sepertinya menghindari Gio akan semakin sulit.
Yang lebih merepotkan, ia mulai tidak yakin masih ingin melakukannya.