“Kamu sudah sembuh, Nak?”
Sera menutup mata. Hanya pertanyaan sederhana, tetapi suaranya membuat sesuatu yang sejak tadi ditahan mendadak naik ke tenggorokan.
“Sudah jauh lebih baik, Bu.”
“Kenapa tidak bilang? Ibu baru melihat kabarnya dari anak-anak.”
“Sera cuma luka sedikit.”
Di seberang, Bu Ratih mendesah. Sera bisa membayangkan perempuan itu duduk dengan ponsel milik Danu di tangan, mengenakan kacamata yang sering turun ke ujung hidung.
Perempuan yang mengurus Rumah Singgah Pelita itu selalu bisa membuat Sera merasa kembali menjadi seseorang yang lebih muda.
Seseorang yang belum pandai menyembunyikan ketakutan dengan mulut tajam.
“Sedikit sampai masuk rumah sakit?”
Sera menggigit bibir.
“Sekarang sudah pulang. Ini juga sudah mulai kerja.”
“Anak keras kepala.”
Sera tertawa pelan, tetapi matanya mulai basah.
Ia tidak keberatan disebut begitu oleh Bu Ratih.
Dulu perempuan itu juga mengomel ketika Sera menolak makan, lalu tetap meninggalkan sepiring nasi di tempat yang bisa dijangkaunya. Tidak bertanya terlalu banyak. Tidak memaksanya menceritakan hal yang belum sanggup diucapkan.
“Mas Danu masih di sana?” tanya Sera.
“Masih. Ibu meminjam teleponnya sebentar. Nomor Ibu yang lama sedang bermasalah.”
“Oh.”
Sera mengembuskan napas. Nada terburu-buru Danu tadi membuatnya membayangkan sesuatu yang lebih buruk.
“Jangan kirim terlalu banyak lagi,” lanjut Bu Ratih. “Persediaan yang kemarin masih ada.”
“Yang berikutnya untuk kebutuhan lain, Bu. Sudah Sera sesuaikan.”
“Ibu ingin melihat kamu, bukan hanya kotaknya.”
Kalimat itu membuat Sera diam.
Dari ruangan utama terdengar suara Rama memanggil salah seorang murid. Sera membuka mata dan memandangi dinding lorong di hadapannya.
“Besok Sera datang.”
“Kalau kamu masih sakit, jangan dipaksakan.”
“Nggak. Besok memang libur. Sera datang sebentar, ya.”
Bu Ratih akhirnya mengiyakan setelah kembali mengingatkan agar ia menjaga diri.
Ketika Danu mengambil alih telepon, Sera menanyakan beberapa kebutuhan yang harus disiapkan. Pria itu sudah lama membantu mengantarkan barang sesuai pesanan, tanpa menuliskan nama Sera sebagai pengirim pada kotak yang diterima rumah singgah.
Bukan karena barang tersebut bermasalah.
Sera hanya tidak ingin setiap kiriman berubah menjadi cerita tentang dirinya.
“Besok saya datang langsung,” katanya.
“Baik, Mbak.”
“Terima kasih sudah bantu Ibu menelepon.”
Setelah sambungan terputus, Sera tetap berdiri beberapa saat.
Rumah Singgah Pelita adalah bagian hidup yang jarang disebutkannya. Ada orang-orang di sana yang mengenal dirinya sebelum nama Gunawan membuat orang lain memperlakukannya dengan ramah.
Mereka mengenal Sera ketika ia tidak memiliki jawaban atas pertanyaan tentang rumah.
Pikiran itu membuat dadanya terasa sesak.
“Ser?”
Sera cepat-cepat menyeka sudut mata dan menoleh.
Gadis berdiri beberapa langkah darinya.
“Lo dicariin. Barangnya udah beres.”
Sera mengangguk.
“Gue ke sana.”
Gadis tidak langsung bergerak. Ia memperhatikan wajah temannya, lalu menurunkan suara.
“Lo nangis?”
“Debu.”
“Lorongnya bersih banget.”
Sera mendelik lemah. “Sekarang lo mau inspeksi gedung?”
Gadis menghela napas.
“Kalau belum mau cerita, bilang aja. Gue bisa diam kok.”
“Sejak kapan?”
“Sebentar doang. Jangan kebanyakan berharap.”
Sera tertawa kecil.
Gadis menyentuh bahunya, lalu mengeluarkan tisu dari tas.
“Jangan pakai tangan. Nanti belepotan.”
“Ini air mata, bukan saus.”
“Ya sudah. Mau gue ambilkan piring?”
Sera merampas tisu itu. Gadis membiarkannya mengusap wajah tanpa menambahkan pertanyaan.
Di dekat pintu, seorang murid kecil berlari mengejar botol minum yang menggelinding. Gadis menangkapnya dengan ujung sepatu, lalu menyerahkannya. Anak itu mengucapkan terima kasih sebelum kembali ke tempat latihan.
Sera memperhatikan punggung kecil tersebut.
“Tadi mereka senang banget diwawancara,” katanya.
“Besok kalau tayang, paling satu rumah disuruh nonton.”
“Belum tentu semuanya masuk.”
“Makanya pilih yang bagus. Yang pelatihnya salah tingkah jangan dipotong.”
Sera menoleh tajam.
“Pelatih yang mana?”
Gadis menatapnya dengan wajah kelewat polos.
“Gue belum sebut nama. Kenapa lo langsung tegang?”
“Gue bisa pulang naik kendaraan lain.”
“Boleh. Yang mobilnya di depan juga belum pulang.”
Sera mengangkat buku catatan, membuat Gadis buru-buru melindungi kepala.
Namun setelah tawanya reda, Gadis merapikan tali tas Sera yang terpelintir.
“Ser, nanti kalau lo butuh ditemenin ke suatu tempat, bilang aja.”
Sera terdiam sebentar. Gadis rupanya mendengar janji kunjungannya, meskipun tidak mengetahui tujuannya.
“Besok gue bisa sendiri.”
“Oke.”
Tidak ada desakan berikutnya. Sera menyimpan tisu yang sudah dilipat ke dalam saku tas, kemudian menyentuh siku sahabatnya singkat.
“Makasih.”
Gadis tersenyum, lalu berjalan lebih dulu. Ia tidak menoleh setiap beberapa langkah untuk memastikan Sera mengikutinya.
Hal itu membuat Sera lebih mudah menarik napas dan kembali ke ruangan utama.
Gio masih di sana.
Ia sedang berbicara dengan Rama, tetapi langsung menoleh ketika melihat Sera. Matanya berhenti pada wajah gadis itu sedikit lebih lama.
Sera pura-pura sibuk memeriksa tas.
“Udah selesai teleponnya?” tanya Gio.
“Udah.”
“Ada masalah?”
“Nggak.”
Gio memandangnya, kemudian mengangguk.
Sera hampir merasa lega sampai pria itu melanjutkan.
“Kalau kaki lo sakit, bilang. Dari tadi berdiri terus.”
“Lo pikir semua masalah gue ada di kaki?”
“Enggak. Sebagian besar kayaknya di mulut.”
Sera spontan memukul lengannya dengan buku catatan.
Gio tertawa.
Kali ini Sera ikut tersenyum, meskipun rasa hangat dari percakapan dengan Bu Ratih masih memenuhi dadanya.
Raka datang membawa tas kamera.
“Kamu pulang sama tim?” tanyanya kepada Sera.
“Iya. Gadis juga ikut sampai kantor.”
Gio melirik ke arah kendaraan operasional di luar.
Ia ingin menawarkan mengantar, tetapi Sera sudah memiliki rencana. Selain itu, pembicaraan dengan Adam yang tadi tertunda masih harus diselesaikan.
“Kalau begitu hati-hati,” katanya.
Sera menatapnya.
“Lo juga.”
Gadis yang mendengar langsung menunduk, menyembunyikan senyum. Rama menyenggol lengannya agar tidak mulai meledek.
Setelah kendaraan pergi, Gio tetap berdiri dekat pintu sanggar.
Raka menghampirinya.
“Kenapa?”
Gio menoleh.
“Nggak.”
“Jawaban kalian hari ini kompak sekali.”
Gio mengernyit. “Kalian siapa?”
Raka hanya tersenyum, lalu menepuk bahunya sebelum berjalan menuju mobil.
Gio menggeleng kesal.
Ia mengambil ponsel dan melihat pesan Adam yang belum dibalas.
Hari Minggu pukul tujuh. Jangan terlambat.
Gio membaca kalimat itu, kemudian menelepon ayahnya.
Kali ini ia tidak ingin berbicara di tengah keramaian atau membiarkan percakapan berhenti pada kesimpulan yang dibuat orang lain.
Di dalam kendaraan operasional, Sera duduk dekat jendela. Gadis berbicara dengan rekannya tentang hasil persiapan liputan, tetapi sesekali melirik Sera.
Perempuan itu sedang membuka percakapan dengan Danu.
Ia mengetik daftar barang yang akan dibawa besok, lalu berhenti pada bagian paling bawah.
Bu Ratih tadi hanya meminta dirinya datang.
Sera menghapus dua tambahan yang sebenarnya tidak diperlukan.
Untuk sekali ini, ia akan membawa dirinya sendiri.
Bukan hanya sesuatu yang bisa dititipkan melalui orang lain.