Senin pagi, Sera datang ke ruang Mas Panca membawa dua lembar catatan.
Pria itu mengangkat wajah dari layar komputer.
“Akhirnya mau jawab tawaran saya?”
“Kalau saya bilang mau mencoba, bukan berarti besok langsung ditinggal sendiri di studio, kan, Mas?”
Panca menyandarkan punggung.
“Memangnya saya mau menjatuhkan acara sendiri?”
Sera tersenyum.
Percakapan mereka berlangsung hampir setengah jam. Sera menjelaskan keinginannya tetap mengerjakan liputan tertentu, sementara Panca mengingatkan bahwa jadwal studio tidak bisa disesuaikan semaunya.
Mereka belum menetapkan seluruh pembagian kerja.
Namun, Sera setuju mengikuti persiapan dan mencoba membawakan siaran bersama Lina sebelum perempuan itu berangkat.
Ketika keluar, wajahnya terlihat lebih serius daripada ketika masuk.
Gadis yang menunggu di dekat meja langsung mengangkat alis.
“Diterima jadi direktur?”
“Jadi orang yang harus bangun lebih teratur.”
“Wah. Berat.”
Sera meletakkan catatan.
“Gue mau coba tawaran Mas Panca.”
Gadis berhenti mengaduk minumannya.
“Serius?”
“Pelan-pelan dulu. Masih persiapan.”
“Bagus dong!”
Gadis hampir memeluknya, tetapi Sera lebih dulu mengangkat tangan.
“Kopi lo.”
“Oh!”
Gadis buru-buru menaruh gelas, baru kemudian merangkul bahunya.
Sera mengomel karena tasnya terjepit. Namun, ia tidak menghindar.
Ada rasa takut yang belum hilang. Ia menyukai lapangan, menyukai bertemu orang tanpa harus duduk menunggu hitungan mundur dari balik kamera.
Tetapi mencoba sesuatu tidak selalu berarti kehilangan semua yang sudah dicintainya.
Ia ingin melihat sendiri sebelum menolak.
***
Menjelang sore, Sera menghubungi Rama untuk memastikan beberapa nama dan jadwal latihan tambahan. Bahan yang mereka ambil Jumat masih membutuhkan beberapa gambar pendukung.
Rama sedang bersiap menangani kelas.
“Catatannya sama Gio. Lo hubungi dia aja, Ser.”
Sera menatap layar setelah sambungan berakhir.
Alasan pekerjaan, pikirnya.
Jelas sekali.
Ia menelepon Gio sebelum sempat memperdebatkan hal itu dengan dirinya sendiri.
“Kenapa?” suara pria tersebut terdengar setelah dering kedua.
“Lo sibuk?”
“Kalau gue bilang iya?”
“Gue tutup.”
“Galak amat. Ada apa?”
Sera menjelaskan kebutuhannya. Gio mengatakan ia akan berada di sanggar sampai petang dan bisa menyerahkan catatan yang dimaksud.
“Gue mampir sebentar. Sekalian cocokkan bagian wawancara.”
“Sendiri?”
“Enggak. Bawa rombongan sirkus.”
“Gue siapkan tempat parkir gajahnya.”
Sera memutus sambungan sambil tersenyum.
Gadis menoleh dari meja sebelah.
“Apa?”
“Gue belum ngomong.”
“Muka lo udah.”
Gadis tertawa dan kembali bekerja.
Sera memasukkan ponsel ke tas, berusaha mengabaikan rasa ringan yang muncul hanya karena percakapan singkat.
***
Latihan hampir selesai ketika Sera tiba.
Ia duduk di bangku dekat pintu, memperhatikan Gio mengajari seorang murid mengulang gerakan. Pria itu tidak langsung meninggalkan kelas meskipun sudah melihatnya.
Sera justru menyukai hal tersebut.
Ia membuka catatan dan menunggu.
Setelah murid-murid keluar, Gio menghampiri sambil mengusap keringat dengan handuk.
“Gajahnya mana?”
“Gue tinggal. Takut minder lihat pelatihnya.”
Gio tertawa.
Ia mengambil map dari ruang belakang, lalu duduk di ujung bangku yang sama. Sera menunjukkan beberapa keterangan yang perlu diperiksa.
Saat membicarakan anak-anak didiknya, Gio menjawab dengan rinci.
Ia tahu siapa yang baru berani ikut latihan berpasangan, siapa yang mudah kehilangan semangat, dan siapa yang biasanya terlambat karena menunggu ibunya pulang bekerja.
“Bagian itu nggak usah dimasukkan,” katanya ketika Sera bertanya lebih jauh.
“Kenapa?”
“Cerita keluarganya. Gue nggak tahu dia nyaman atau enggak.”
Sera mengangguk dan mencoret satu pertanyaan.
“Gue cek sama orang tuanya dulu.”
Gio memperhatikan gerakan tangannya. Perban Sera sudah jauh lebih kecil. Ia menahan keinginan untuk bertanya lagi tentang luka yang sama.
“Lo tadi mau ngomong apa?” tanya Sera.
“Nggak. Teruskan.”
Sera meliriknya sebentar, kemudian kembali membaca.
Setelah urusan selesai, mereka berjalan ke luar. Udara masih menyimpan panas sore, tetapi warung di dekat sanggar mulai ramai.
“Udah makan?” tanya Gio.
Sera menggeleng.
“Bakso?”
“Lo habis latihan langsung makan bakso?”
“Yang latihan anak-anak. Gue sebagian besar ngomel.”
“Itu olahraga andalan gue.”
“Makanya gue tawarin.”
Rama muncul dari dalam sambil membawa dua botol minum yang tertinggal.
“Mau ke mana?”
“Makan,” jawab Gio.
Rama memandang Sera, kemudian Gio. Senyumnya mulai terbentuk.
“Gue belum ngomong apa-apa,” katanya sebelum Gio sempat menegur.
“Bagus. Pertahankan.”
Sera menyilangkan tangan.
“Kalian kalau habis latihan memang aneh semua?”
“Cuma dia,” jawab Rama cepat.
Gio merebut satu botol dari tangan temannya dan meletakkannya di meja dekat pintu.
“Itu punya murid. Jangan sampai dibawa pulang lagi.”
Rama mendengus, tetapi kembali masuk setelah mengucapkan selamat makan. Dari dalam, suaranya terdengar menelepon Gadis.
Sera memejamkan mata sebentar.
“Lima menit lagi gue pasti dapat pesan.”
“Gue juga.”
“Teman lo nggak bisa diam.”
“Teman lo sama.”
Mereka saling pandang, lalu tertawa bersamaan. Gio menunggu Sera merapikan tali tas sebelum beranjak. Kali ini ia tidak mengambil tas itu tanpa bertanya, dan Sera merasa cukup nyaman untuk berjalan di sampingnya.
Mereka menyeberang setelah jalan lengang.
Sera memilih kursi dekat kipas, lalu menggesernya sedikit ketika hembusan angin membuat rambutnya menutupi wajah.
Gio mengambil tempat di seberangnya.
Untuk beberapa menit, pembicaraan mereka hanya berisi pilihan makanan dan keluhan Sera tentang naskah yang harus dipendekkan.
Kemudian Gio bertanya tentang tawaran studio.
Sera menatapnya heran.
“Lo masih ingat?”
“Lo pernah cerita.”
“Gue mau coba.”
Gio tersenyum.
“Bagus.”
“Belum tentu cocok.”
“Ya dicoba dulu. Kalau belum dicoba, lo mau nilai dari mana?”
Sera memutar sendok.
Ia sudah mendengar pendapat serupa hari itu, tetapi ada sesuatu yang berbeda ketika Gio mengatakannya sambil menatap langsung, seakan tidak meragukan kemampuannya.
“Lo sendiri?” tanyanya.
“Apa?”
“Urusan yang Jumat bikin lo berantem di telepon.”
Gio terdiam sebentar.
Lalu ia menjelaskan makan malam dengan keluarga Levia. Tidak seluruh percakapan, tetapi cukup untuk membuat Sera memahami mengapa nama mantan pacarnya masih muncul.
“Gue sudah bilang kalau kami nggak balikan.”
Sera menunduk ke mangkuk.
“Kenapa jelasin ke gue?”
“Karena lo nanya.”
“Oh.”
Gio memperhatikan wajahnya.
“Dan karena gue nggak mau lo salah paham.”
Sendok Sera berhenti.
Kipas di samping mereka berdengung. Di meja belakang, seseorang memanggil penjual meminta tambahan sambal.
Sera merasa suasana mendadak terlalu ramai untuk menyembunyikan detak jantungnya sendiri.
“Gue nggak bilang gue mikirin itu.”
“Gue juga nggak bilang lo bilang.”
“Ribet.”
Gio tersenyum, tetapi senyumnya tidak bertahan lama.
Sera tidak langsung menyadari perubahan itu. Ia sibuk mengaduk kuah yang sebenarnya tidak perlu diaduk.
Saat pulang, Gio menawarkan mengantar dan Sera mengiyakan.
Di dalam mobil, gadis itu bisa duduk tanpa tergesa mencari alasan untuk turun.
Justru kenyamanan tersebut membuat dada Gio semakin berat.
Ia menggenggam kemudi, menyadari bahwa menunda pembicaraan hanya akan membuat dirinya ingin menundanya lagi besok.