Brian sudah menunggu di ruang tamu ketika Sera tiba Rabu sore.
Anak itu berlari sambil membawa kertas gambar, membuat Adeline segera memperingatkannya agar tidak menabrak kaki Sera.
“Aku nggak nabrak!”
“Karena sudah diingatkan,” sahut ibunya.
Sera menahan tawa dan menerima gambar yang disodorkan.
Ia memiringkan kepala.
“Ini pohonnya tinggal di dalam laut?”
“Itu biru kehijauan.”
“Oh. Maaf, kemampuan Kakak belum sampai sana.”
Brian mengangguk serius, menerima pengakuan itu tanpa sedikit pun merasa sedang diledek.
Jeremy yang baru keluar dari ruang kerja langsung tertawa.
“Kalah kamu, Ser.”
“Sera sedang menghargai seniman, Om.”
Ia duduk di karpet setelah memastikan kakinya nyaman. Brian menyebarkan beberapa gambar lain di hadapannya, lalu menjelaskan masing-masing dengan napas nyaris tanpa jeda.
Sera mendengarkan sambil sesekali mengajukan pertanyaan.
Ada mobil dengan roda tidak sama besar, rumah yang pintunya lebih tinggi daripada jendela, dan satu gambar keluarga yang membuatnya berhenti lebih lama.
“Ini siapa?”
“Kak Sera.”
“Kenapa rambutnya berdiri semua?”
“Kan waktu bangun tidur begitu.”
Jeremy tertawa lebih keras.
Sera melipat tangan.
“Mulai sekarang Kakak harus bangun dalam keadaan sudah disisir.”
Brian sibuk memilih pensil, tidak merasa jawabannya menyinggung siapa pun.
Adeline datang membawa minuman.
“Jangan terlalu lama duduk di bawah, Ser.”
“Iya, Tante. Sebentar.”
Sera mengambil gelas, lalu melihat Brian membuka kotak warna. Beberapa batang sudah pendek meskipun masih ada warna lain yang tampak jarang digunakan.
“Kalau yang ini habis, kita pakai yang lain dulu,” ujar Adeline ketika putranya mengeluh.
“Tapi aku butuh merah.”
“Bisa pinjam. Jangan semua harus baru.”
Sera memperhatikan Brian mendesah dramatis.
Ekspresinya membuat ia teringat anak-anak di Rumah Singgah Pelita yang berebut menjadi kucing pada kunjungannya Sabtu lalu.
Tanpa sadar ia tersenyum.
Adeline menangkapnya.
“Ada apa?”
“Sera Sabtu ke tempat Bu Ratih.”
Jeremy yang hendak kembali ke ruang kerja berhenti.
“Oh, bagaimana kabar beliau?”
“Baik. Masih suka marah kalau Sera datang sebentar.”
“Berarti kamu memang datang sebentar.”
“Om belum dengar pembelaannya.”
“Nanti. Om sudah kenal terdakwanya.”
Sera mendengus.
Namun, rasa kaku yang biasanya muncul ketika tempat itu disebut tidak langsung menguasainya. Jeremy bertanya seperti menanyakan kabar orang yang sama-sama mereka sayangi.
Tidak dengan wajah iba.
Tidak pula dengan nada hati-hati yang membuat Sera merasa seluruh masa lalunya akan jatuh dari lemari jika mereka berbicara terlalu keras.
“Bu Ratih bilang boleh ajak keluarga,” lanjutnya.
Adeline duduk di sofa.
“Mau mengajak kami?”
Sera memandang Brian yang sedang menumpuk pensil.
“Iya. Kalau Minggu nggak ada acara.”
Brian langsung mendongak.
“Ke mana?”
“Rumah singgah. Ada anak-anak juga.”
“Bisa gambar?”
“Bisa. Tapi bukan buat pamer pohon biru.”
“Itu biru kehijauan!”
“Baiklah, Yang Mulia.”
Brian mulai menyebutkan barang yang ingin dibawa sebelum ibunya menjawab apakah mereka bisa pergi.
Adeline menenangkannya, lalu menoleh kepada Sera.
“Nanti Tante periksa jadwal. Kalau bisa, kita pergi bersama.”
Sera mengangguk.
Ia tidak menyadari Jeremy masih memperhatikannya sampai pria itu berkata pelan.
“Bagus kalau kamu mau mengajak.”
Sera menunduk mengambil pensil yang jatuh.
“Kan cuma berkunjung, Om.”
“Iya.”
Jeremy tidak menambahkan apa-apa.
Justru itu membuat Sera berani kembali mengangkat wajah.
***
Saat makan malam, Adeline menanyakan perkembangan luka Sera. Jeremy menyusul dengan pertanyaan tentang pekerjaan, kemudian mengangkat alis ketika mendengar tawaran studio akhirnya dicoba.
“Jadi nanti kami bisa lihat kamu lebih sering?”
“Kalau lolos latihan.”
“Kamu pasti bisa.”
“Om belum lihat Sera tadi Selasa. Baca kalimat gampang saja sempat berhenti.”
“Belajar memang begitu.”
Sera mengaduk sayur di piring.
“Keluarga ini terlalu percaya diri sama Sera.”
Jeremy mengambil lauk sebelum menjawab.
“Kalau Om bilang kamu pasti gagal, nanti kamu marah.”
“Ya jangan itu juga.”
“Nah. Repot.”
Adeline tersenyum, sementara Brian bertanya apakah ia boleh melambaikan tangan jika datang menonton Sera di studio.
“Jangan pas Kakak baca berita.”
“Kalau setelahnya?”
“Setelahnya boleh.”
Anak itu tampak puas dengan kesepakatan tersebut.
Ponsel Jeremy berbunyi menjelang makan selesai. Panggilan dari Jouvan, yang langsung menanyakan apakah Sera masih berada di sana.
Jeremy menyerahkan ponselnya.
Sera menerima dengan alis terangkat.
“Kenapa, Om Jou?”
“Rea bilang kamu belum jawab pesannya.”
Sera menoleh ke tas di kursi.
“Ponsel Sera dari tadi di tas.”
Suara Rea kemudian terdengar mengambil alih pembicaraan. Ia hanya menanyakan keadaan Sera dan mengingatkan agar jangan kembali memaksakan diri.
Sera mendengarkan sambil menggigit bagian dalam pipi.
Keluarga ini memang tidak pernah kehabisan orang untuk mengomel.
Namun, ia menjawab lebih lembut daripada biasanya.
“Iya. Sera sudah lebih baik.”
“Gio juga bilang begitu kemarin.”
Jemari Sera mengencang pada sisi ponsel.
Ia tidak tahu kapan percakapan yang dimaksud terjadi. Bisa sebelum Senin, bisa ketika semua orang masih menganggap tidak ada persoalan.
Sera memilih tidak menebak.
“Sekarang sudah bisa jalan lebih enak.”
Pembicaraan beralih ketika Jouvan terdengar menyela dari kejauhan. Sera segera mengembalikan ponsel kepada Jeremy setelah berpamitan.
Adeline memintanya membantu memilih buah untuk dibawa pulang.
Sera bangkit dengan sedikit terlalu cepat.
Jeremy melihatnya, tetapi menunggu sampai Brian sibuk merapikan meja bersama ibunya sebelum menghampiri.
“Ada yang kamu pikirkan?”
Sera memandangi kantong di tangan.
“Banyak. Naskah, latihan, besok liputan.”
Jeremy mengangguk.
“Yang bukan pekerjaan?”
Sera terdiam.
Ia menyayangi perhatian pria itu. Tetapi malam ini ia belum ingin menceritakan Gio kepada seseorang yang juga terhubung dengan seluruh keluarga Berata.
“Belum mau cerita, Om.”
“Baik.”
Jeremy mengambil kantong buah lain dan menyerahkannya.
“Bawa ini juga.”
“Ini cukup buat makan berapa hari?”
“Kalau kurang, datang lagi.”
Sera tersenyum kecil.
Sebelum pulang, Brian mengejarnya membawa gambar keluarga yang tadi dipermasalahkan.
“Buat Kakak.”
“Rambutnya nggak diperbaiki?”
“Kan memang begitu.”
Sera menerima kertas tersebut dengan pasrah.
Di dalam kendaraan, ia memandangi gambar itu cukup lama.
Namanya ditulis miring di bawah sosok berambut berantakan, berdiri dekat Brian dan anggota keluarga lain.
Sera memotret gambar itu, lalu mengirimkannya kepada Bu Ratih melalui Danu bersama pesan tentang rencana Minggu.
Balasan tidak langsung datang. Sera menaruh ponsel di pangkuan, lalu merapikan sudut kertas Brian agar tidak terlipat oleh kantong buah.
Ia teringat bagaimana tadi hampir menahan ajakan itu di ujung lidah. Selama ini ia selalu membayangkan membawa keluarga akan membuat kunjungan terasa rumit.
Brian malah hanya bertanya apakah boleh menggambar.
Sera menggeleng kecil. Kadang anak itu bisa membuat sesuatu yang lama dipikirkannya terlihat begitu sederhana.
Ketika Danu membalas, Sera kembali membuka layar.
Kali ini, ia bertanya berapa anak yang ingin ikut menggambar.
Ia tidak meminta namanya disembunyikan.