Semalam suasana hati Alice sudah buruk, dan sekarang menjadi lebih buruk lagi. Kabar dari Nick sungguh membuat hati Alice tak nyaman. Benarkah sejak awal ia sudah dijodohkan? Alice masih belum bisa percaya. Belum mau.
"Kenapa sudah cemberut padahal masih pagi?" Alice tersentak dengan sapaan dari Austin.
"Maaf tadi pagi aku terlambat, jadi tidak menjemputmu."
Alice mengangguk. "Tidak apa, Ash... Tidak masalah sama sekali. Aku juga diantar Nick tadi." Alice membuat senyum tipis yang dipaksakan. Ia saat ini sedang banyak pikiran, sampai tersenyum saja enggan.
"Lain kali kamu bisa ke rumahku. Supaya aku tidak kesiangan lagi."
"Iya... Eh?!"
Alice sudah mengangguk tapi kemudian langsung menggeleng.
"Mak-maksudnya...?"
"Mampirlah nanti ke rumahku setelah pulang sekolah."
Alice hanya bisa mematung saat Austin mengucap kalimat terakhirnya. Karena kesempatan mereka untuk berbincang habis dengan masuknya guru ke dalam kelas.
***
"Alice, mau makan bareng...?" Wajah Emily tiba-tiba saja menyapa dirinya. Entah sejak kapan jam pelajaran sudah berakhir.
Sudah istirahat siang, rupanya. Alice terlalu banyak melamun sampai tak sadar waktu.
"Iya."
Alice, Emily dan beberapa teman lainnya sedang berjalan di lorong sekolah, ketika pengumuman terkutuk itu kembali terdengar.
"Kepada Alice Rowland, silahkan menuju ke ruang kepala sekolah!"
Emily dan teman-teman Alice yang lain sontak saja memandang. "Kamu dipanggil kepala sekolah lagi?"
Alice hanya bisa menghela. "Maaf, sepertinya aku tidak bisa ikut makan bersama kalian. Mungkin lain kali."
Teman-teman Alice hanya bisa memandangi kepergiannya. Dalam benak mereka timbul banyak pertanyaan. Apa sebenarnya yang terjadi pada Alice? Apa Alice memiliki masalah yang begitu besar sampai harus dipanggil ke ruang kepala sekolah setiap hari?
Alice sendiri sudah tidak kaget. Ia yakin sejuta persen kalau yang memanggilnya adalah makhluk menyebalkan bernama Aldrich Kallahan.
Setelah mengetuk pintu dan mengucap salam, Alice diizinkan masuk ke dalam ruang kepala sekolah. Dan benar saja, ada Aldrich di sana.
"Duduklah, Alice. Ayo kita makan bersama..."
Alice menatap kursi kepala sekolah yang kosong. Sekarang di ruangan ini hanya ada Aldrich dengan banyak makanan tersaji di atas meja.
Dengan tenang, Alice melangkahkan kakinya mendekat. Ia duduk di hadapan Aldrich.
"Makanlah, Alice. Ini semua adalah makanan kesukaanmu."
Alice melirik sedikit ke arah meja. Dan ucapan Aldrich memang benar. Meja itu dipenuhi oleh makanan yang disukai oleh dirinya.
Bagaimana bisa Aldrich tahu? Oh, sudah jelas kalau begini. Aldrich begitu mengenalnya sampai mungkin ia tahu jenis makanan apa yang Alice sukai. Atau Aldrich bisa dengan mudah bertanya pada keluarga Alice. Mereka kan sudah saling mengenal, sejak lama.
Aldrich tidak mengucap apapun, ia hanya menunggu Alice. Dalam hati kecilnya, Aldrich memekik senang. Karena kali ini Alice tidak langsung pergi, dan memilih untuk duduk bersamanya.
"Kenapa?"
Satu kata pertanyaan yang membuat alis Aldrich tertaut sempurna.
"Kenapa harus aku? Dari sekian banyak perempuan yang ada di dunia ini, kenapa aku?"
"Karena kamu adalah pasangan hidupku. Kamu orang yang ditakdirkan untukku. Bukan perempuan lain."
Alice melengos. Selalu saja omong kosong yang ia tidak mengerti itu.
"Apa kamu menyukaiku? Atau terpaksa karena takdir yang selalu kau sebut-sebut itu?"
Aldrich diam tak menjawab. Ingin ia mengungkap kalau hanya ada Alice di hatinya. Hanya Alice, sejak bertahun-tahun yang lalu. Tapi mulutnya bungkam sempurna. Alice tidak akan percaya meski ia mengatakannya.
Apa Alice akan menerima jika Aldrich mengatakan jika ia sudah mencintai Alice bahkan sebelum gadis itu bisa memakai bajunya sendiri?
"Tidak bisa menjawab?" Sinis Alice memandangnya.
"Kalau begitu, katakan saja. Berapa banyak hutang keluargaku padamu?"
Alice menduga kalau keluarganya terpaksa menuruti keinginan Aldrich. Pasti ada alasan kenapa ayah, ibu, serta kakaknya begitu mengagungkan sosok lelaki di hadapannya ini.
"Seumur hidup mereka."
Aldrich ingin Alice tahu kalau gadis itu tidak bisa menghindar darinya. Ia ingin membuat Alice menyerah dan datang ke pelukannya saja.
Alice berjengit. Sesuai perkiraan Aldrich, ia tidak bisa berkutik.
"Jangan berpikir kalau kamu bisa melunasinya, sayang... Tidak akan bisa..."
"Lebih baik kamu tidak usah memikirkan hal yang sia-sia. Makan saja denganku..."
Alice memicing, melihat tangan Aldrich yang sudah terulur memberikan garpu padanya.
"Aku tidak akan membiarkanmu keluar dari ruangan ini sebelum kamu makan."
Dengan kasar, Alice menerima garpu yang diberikan oleh Aldrich. Ia menusukkan garpunya pada salah satu sosis yang pertama ia lihat.
"Sudah," ucap Alice dengan mulut penuh berisi makanan.
Tanpa menunggu Aldrich, Alice bangkit dari tempatnya duduk. "Terima kasih untuk makanannya."
Ia melangkah berbalik menuju pintu keluar. Tepat di balik pintu yang tertutup, Alice mengeluarkan kembali makanan yang ada di mulutnya, membuangnya ke dalam tong sampah. Merasa tak sudi memakan makanan dari Aldrich.
Saat itu, Alice tidak menyadari kalau Aldrich mengetahui semua yang Alice lakukan. Lelaki itu diam menunduk, tak kuasa menahan perih di hatinya. Mencintai seseorang ternyata sesakit itu.
***
"Ah, Alice..." Ayah dan ibu Austin menyambut Alice ramah. Kebetulan sekali saat Alice sudah menetapkan hatinya untuk berkunjung ke rumah Austin, kedua orang tua temannya itu sedang berada di rumah.
"Masuklah, tidak perlu sungkan."
Austin menggandeng tangan Alice tanpa ragu. "Ayo kita ke kamarku saja."
Austin hanya ingin privasi, tapi mungkin Alice menangkapnya dengan pikiran yang berbeda. Lihat saja bagaimana merahnya wajah gadis itu.
"Duduklah dengan nyaman."
Bagaimana bisa nyaman? Austin pasti tidak tahu apa yang ada di dalam otak Alice saat lelaki itu membiarkannya duduk di tepi ranjang miliknya. Alice merasa sedang mengalami gagal jantung sekarang.
Alice tahu Austin tidak memiliki maksud lain. Pasti karena Austin tidak memiliki sofa di dalam kamarnya, jadi ia meminta Alice duduk di sana. Tapi, tetap saja...
Dengan debar yang menggila, Alice menatap keadaan kamar Austin. Sangat rapi untuk ukuran anak lelaki. Belum lagi harum yang tidak berlebihan, membuat Alice betah di sana.
Perlahan, tangan Alice membelai lembut seprai yang ia duduki. Dalam benaknya ia membayangkan Austin yang tertidur di sana.
"Mom membuatkan ini untukmu..."
Kedatangan Austin yang tiba-tiba membuat Alice kaget. Tapi Alice merasa beruntung karena setidaknya Austin tidak melihatnya saat ia sedang berbaring di tempat tidur lelaki itu. Alice sudah ingin melakukan itu tadi.
"Terima kasih," jawab Alice tergagap. Ia mengambil cangkir berisi cokelat panas yang diberikan Austin, meminumnya tanpa ragu.
Rasa canggung yang sebelumnya Alice rasakan perlahan menghilang. Ia harus fokus pada tujuan kedatangannya ke sini. Meminta bantuan. Itulah alasan yang membuat dirinya menerima ajakan Austin. Alice berani melangkah sampai begitu jauh.
"Ash... Sebenarnya, aku berniat untuk meminta bantuanmu..."
Austin menatap Alice lekat. Ia duduk di atas kursi belajar yang ada tepat di depan Alice.
"Bantuan apa?" Austin langsung memberikan perhatian penuh padanya. Tidak ada elakan, apalagi penolakan. Austin tanpa ragu langsung menanyakan apa yang Alice perlukan.
Sekarang jelas sudah kenapa Alice begitu menyukai lelaki ini. Austin begitu baik hati dan perhatian, selalu ada di sisinya.
"Apa ini tentang lelaki itu?"
Alice mengangguk. Benar. Ini tentang Aldrich.
Alice pun menceritakan segalanya, tentang ruang kepala sekolah, tetangga barunya, juga pertunangan yang selama ini ia tidak tahu.
Austin mendengarkan Alice bercerita sampai selesai. Ia mengangguk mengerti saat Alice menamatkan ceritanya.
"Jadi, apa yang harus aku lakukan?"
Pertanyaan lugas dari Austin membuat Alice ikut mengangguk bersamanya.
"Tolong bantu aku. Aku tak mau menikah dengannya."
Austin tersenyum miring kemudian. "Kalau menikah denganku bagaimana? Apa kamu mau?"
Alice terkejut menatap Austin. Ia tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Apa barusan Austin mengajaknya menikah?
Wajah Alice memerah tanpa ia sadari. Menikah dengan Austin? Bahkan dalam mimpi pun ia tidak berani melakukan itu.
"Aku..."
Austin tersenyum lebar kemudian. "Aku hanya bercanda..."
"Ash...!" Alice memekik gemas. Hampir saja ia mengatakan mau.
"Bagaimana kalau aku mengatakan kalau kamu pacarku?"
Alice menggumam dalam hati. "Kenapa tidak menjadi pacar betulan saja?"
Ah, andai Alice berani mengucapkannya.
"Aku akan menjauhkanmu darinya."
Alice mengangguk setuju, tentu saja. Kenapa ia harus melepaskan kesempatan ini?
"Nah, kalau begitu-"
Austin dan Alice tersentak kaget dengan suara keras dari luar. Tangan Austin yang sebelumnya sudah terulur untuk membelai kepala Alice, terhenti karena keterkejutannya.
"Ada apa?" Alice segera berdiri dari tempatnya duduk. Begitupun Austin. Keduanya segera melangkah keluar rumah, melihat keributan yang terjadi.
Alice menatap horor sebuah mobil yang sudah remuk karena menabrak tembok rumah Austin. Pantas saja ia merasakan getaran tadi.
Alice, Austin, beserta kedua orang tuanya, menatap bingung ke arah mobil yang mengeluarkan asap itu.
Pintu mobil terbuka kemudian, dan sosok Aldrich keluar dari sana.
"Apa dia baik-baik saja?" Austin yang pertama bertanya, sementara Alice dan kedua orang tua Austin masih sangat terkejut sampai tidak bisa memberikan respon apapun.
Aldrich berdiri di depan mereka. Menyugar rambutnya sombong, lalu menatap tajam ke arah Austin. Menunjukkan betapa ia tidak menyukai lelaki itu.
"Alice, pulanglah!" Aldrich berucap tanpa memandang Alice. Ia sibuk menatap Austin dengan penuh permusuhan.
"Menjauh dari lelaki itu!"
Alice yang baru saja tersadar, segera mendekat ke arah Austin. Dipegangnya lengan lelaki itu, lalu ia menatap Aldrich dengan tatapan yang sama tajam.
"Tidak mau, Ash adalah pacarku..."
Ayah dan ibu Austin memekik tanpa suara. Mereka baru mendengar kabar itu.
"Alice, kamu milikku."
Alice menggeleng. "Bukan. Aku bukan milikmu." Alice mencoba keras kepala. Ia tidak mau terus diam membiarkan Aldrich berbuat seenaknya.
Aldrich menggeram marah. Ia melangkahkan kaki mendekat ke tempat Alice dan Austin berdiri.
"Lepaskan tanganmu, Alice. Aku tidak suka kamu dekat dengan lelaki lain."
Alice takut, dengan ancaman itu. Apalagi ketika Aldrich memegangi tangannya.
"Tuan, tenangkan dirimu..." Peter datang entah darimana. Ia tiba-tiba saja ada di belakang Aldrich.
"Nona bisa terluka... Tuan tidak mau sampai Nona Alice terluka, kan...?"
Alice sudah ingin menangis saat ini. Tatapan Aldrich seperti ingin menelannya hidup-hidup. Belum pernah ia merasakan kengerian seperti sekarang.
"Nona Alice, sebaiknya Nona melepaskan tangan nona dari lelaki ini." Peter menunduk sopan. "Saya yakin nona tidak mau kalau sampai teman nona terluka."
Alice melirik Austin sekilas. Ia sama terkejutnya dengan Alice. Hanya bisa berdiri mematung saat mendapatkan intimidasi dari Aldrich.
"Saya harap Nona Alice bisa membuat keputusan bijak..."